Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bijaksana Dalam Ragam Warna

Bijaksana Dalam Ragam Warna

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

color-of-life1dakwatuna.com Dulu, kesalahan saya dalam berinteraksi dengan teman-teman sebaya adalah, gagal bijaksana dalam  menyesuaikan style berkomunikasi. Hanya pakai style yang monoton, sesuai dengan yang saya inginkan serta nyaman untuk diri sendiri.

Padahal, masing-masing teman memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda. Artinya, style komunikasi kita harus mampu fleksibel. Kemampuan adaptasinya baik.

Itu hal yang pertama. Kedua, saya pun juga gagal menempatkan ekspektasi yang bijaksana di awal, terkait reaksi, style komunikasi, bahkan performa lawan bicara. Ekspektasi yang saya tetapkan di awal banyak diintervensi oleh keinginan-keinginan pribadi, ego yang tumbuh meninggi. Saya ingin teman saya harus begini, begini, begini dan begitu.

Dua hal ini saja, sudah sangat efektif sekaligus efisien untuk menghancurkan sebuah hubungan di antara teman. Bahkan, menghalangi kita untuk dapat memperluas pertemanan. Kalau istilah kekiniannya, “di sini jutek, di sana jutek. Di mana-mana jutek”

Padahal Rasulullah saw, pernah berkata, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa manusia itu ibarat barang tambang. Kita tahu bahwa barang tambang yang ada di perut bumi tidak hanya satu jenis saja bukan? Bahkan, memiliki struktur dan ukuran yang berbeda-beda. Selanjutnya, Rasulullah pun pernah berkata, bahwa Muslim yang baik itu, “mudah akrab dan mudah diakrabi,” (HR. At-Thabrani). Maka, setiap muslim seharusnya sangat mudah berinteraksi, menyenangkan dan tidak jutek dengan siapapun dia berteman.

Oleh karena itu, dua hal ini, jika kita memberikan perhatian yang baik, akan dapat menghindarkan diri dari kesalahpahaman, perasaan yang tidak enak dan jebakan-jebakan konflik. Selain itu, kita pun dapat me-maintenance sebuah hubungan dengan penuh Cinta dan harmoni.

Tentunya, tak kan ada lagi kejadian, kita memaksakan diri untuk melihat sesuatu dengan kacamata yang kita suka saja. Tapi, harus dengan kacamata yang bening dan objektif. Tak mungkin kita melihat teman yang ‘berwarna kuning’ dengan kacamata ‘biru’, karena pasti kita akan menginterpretasikan di belakang retina menjadi warna ‘hijau’. Kalau sudah begini, kapan cocoknya coba, ya kan?

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Akmal Ahmad
Sarjana Sains (S.Si) di bidang Fisika, FMIPA Universitas Andalas, kini aktif di bidang Social Entrepreneure.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Pejabat Non-Muslim Pada Zaman Al-Mu’tadhid Billah