Home / Narasi Islam / Life Skill / Belajar Mulai!

Belajar Mulai!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (Abdul Wahid)
Ilustrasi. (Abdul Wahid)

dakwatuna.com – Pada hakikatnya belajar adalah sebuah proses perubahan untuk menjadi tahu dari yang tidak tahu, menjadi bisa dari tidak bisa, menjadi shalih dari yang sebelumnya salah. Adalah konsekuensi logis apabila semakin sering dan semakin lama seorang digembleng dalam wahana pembelajaran akan semakin menyempit pula ruang ketidaktahuan, ketidakbisaan dan kesalahan dirinya. Sehingga sikap, ucap dan tindak-tanduknya menjadi semakin membaik. Orang yang godok dalam kawah pembelajaran yang terus menerus akan menjelma menjadi pribadi yang semakin hari semakin sempurna. Bila keadaannya sudah demikian maka, terangkatlah pula derajat dirinya. Sebagaimana yang telah Allah janjikan: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.s. Al-Mujadalah: 11). Dengan demikian, tentu bukanlah perkara yang cuma-cuma jika belajar termasuk kategori titah mulia yang diwajibkan kepada setiap insan.

Islam mewajibkan setiap individu seseorang untuk belajar. Tidak bisa diwakilkan. Namun meski demikian belajar tidak harus selalu tersekat dinding kelas atau dipayungi bangunan (sekolah). Belajar bisa dan harus dilakukan kapanpun dan di manapun, sebab belajar wajib hukumnya semenjak buaian hingga masuk liang lahat. Wajibnya belajar sejajar dengan wajibnya shalat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lain yang terikat hukum wajib ‘ain. Bahkan sebelum perintah wajib shalat, zakat atau puasa itu sendiri diperintahkan, melalui wahyu pertama-Nya Allah lebih dulu mewajibkan belajar dengan kalimat perintah iqra “bacalah!”. Ini memberikan gambaran kepada kita betapa pentingnya aktivitas membaca (pen: belajar).

Mengapa harus belajar?

Belajar bukan sekadar agar menjadi pintar atau untuk mendapat gelar. Dalam konteks ini cukuplah satu alasan bagi kita menjawab pertanyaan di atas; “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.s Ar-Ra’du: 11). Perubahan memang tidak menjamin keberhasilan namun tidak ada keberhasilan yang diraih tanpa adanya perubahan. Intinya adalah berubah. Dan karena esensi dari proses pembelajaran adalah menciptakan perubahan maka, belajar merupakan pijakan awal di dalam melakukan perubahan dan tolak ukur dalam meraih keberhasilan.

Lain daripada itu perlu kita catat pula bahwa, tidaklah mungkin Allah memerintah atau melarang suatu perkara kepada hamba-Nya jika di sana tidak terdapat hikmah yang membawa manfaat bagi para pelakunya. Termasuk dalam perintah belajar. Sejarah mencontohkan sekaligus membuktikan kepada kita melalui generasi pembelajar terdahulu. Generasi salafus shalih seperti Abu Hurairah, Imam Anas bin Balik, Imam Asy-Syafi’i, Abu Bakar Al-Anbari, Imam Al-Ghazali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Yusuf Al-Qaradhawi dan lain sebagainya. Mereka adalah para pembelajar ulung yang berhasil memetik buah kepatuhan terhadap titah Tuhannya yakni belajar. Alhasil, mereka sukses, mereka berprestasi dan menduduki derajat tinggi, hidup mulia, berguna, dan bahagia di Surga. Insya Allah.

Mereka besar karena belajar dan berangkat dari belajar mereka menjadi pakar hingga mewariskan karya besar. Kecintaannya pada ilmu membuat hidupnya lebih bermutu. Abu Hurairah, masuk Islam usia 60 tahun, hanya 4 tahun beliau berinteraksi bersama Rasulullah sebelum akhirnya meninggal di Madinah pada tahun 57 H. Namun dalam waktu yang singkat itu beliau berhasil mewariskan prestasi luar biasa dengan meriwayatkan hadits sebanyak 5374 hadits.

Imam Asy-Syafi’i mewariskan karya spektakuler dengan kitab Al-Umm dan berbagai kitab-kitab lainnya yang hingga kini menjadi rujukan umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Imam An-Nawawi, meninggal pada usia 40 tahun. Ia meninggalkan warisan yang sangat besar. Di antaranya kitab Riyadhus Shalihin, Arba’in Nawawi, Al Adzkar dan berbagai kitab lainnya yang kini menjadi referensi umat sepanjang masa.

Belajar memampukan diri mereka mendayagunakan potensi hingga mencetak prestasi yang mengabadi. Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan generasi pembelajar saat ini? Sudahkah kita belajar dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmunya? Sudahkah kita persiapkan karya yang akan diwariskan pada generasi-generasi setelah kita? Ataukah kita masih menjadi orang yang disindir Ibnu Mubarok: “Saya sangat heran pada orang yang tak mau mencari ilmu, lantas bagaimana dirinya akan dapat memperoleh harga diri, serta derajat yang tinggi?”. Semoga tidak demikian. “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.s. Az-Zumar: 9)

Bangsa yang belajar

Benarlah apa kata si cepot: “Martabat hiji bangsa diukur ku budayana, lamun budayana awut-awutan bangsana gé moal teu ruksak”. Bung Karno pernah menyatakan hal senada, bahwa kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa merupakan hasil kerja keras bangsa tersebut dan bukan turun dari langit. Dengan demikian maka kerja keras di dalam belajar menjadi tolak ukurnya. Melalui belajar suatu bangsa bisa melakukan perubahan hingga menciptakan peradaban dan mempertahankan kejayaan.

Sementara imam Idris As-Syafi’i menasihati: “Belajarlah! Tak ada bayi yang begitu lahir langsung menjadi ilmuwan, dan tak sama antara ilmuwan dengan orang bodoh. Sebesar apapun sebuah negara, ia akan bernilai kecil jika penduduknya tak berilmu, apabila dibandingkan negara kecil yang banyak penduduknya berilmu. Sekecil apapun negara, akan lebih kuat bila penduduknya berilmu. Sesungguhnya negara itu besar jika dibandingkan dengan negara-negara lain.”

Kata Sofyan Hasbi, saat Portugis, Spanyol dan Belanda mulai redup, sampai masa Perang Dunia II, Inggris masih tetap berjaya karena Inggris masih mempertahankan tradisi belajar. Amerika menjadi bangsa yang berkuasa, kuat, dan disegani karena mau belajar. Dan sekarang ini China sedang giat-giatnya belajar, sudah mulai menampakkan taringnya kepada dunia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang membudayakan tradisi belajar. Karena hanya bangsa yang terus belajar yang akan tetap jaya. Kapan negara kita?

Belajar mulai!

Tunggu apa lagi? Sekarang sudah bukan waktunya bengong, atau bertanya lagi mengapa harus belajar? Kapan saya harus belajar? Atau di mana saya harus belajar? Mari belajar sekarang juga sedini mungkin. Jadikan masa kecil dan usia muda sebagai pintu pembuka bersarangnya ilmu-ilmu berharga. Jangan siakan usia dengan banyak berhura-hura apalagi menumpuk-numpuk dosa. Lihatlah kembali teladan-teladan kita yang telah sukses menjadi khairunnas anfa’uhum linnas. Menjadi manusia terbaik yang memberi manfaat bagi kehidupan orang banyak. Mari lakukan perubahan untuk mencipta peradaban gemilang yang akan dikenang banyak orang. Star now! Lakukan sekarang juga, manfaatkan momentum usia muda sebelum menua. Ingatlah pepatah, “Belajar di waktu muda bagai mengukir di atas batu. Belajar di kala tua bagai mengukir di atas air”. Belajar mulai!

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abdul Wahid
Seorang yang sedang belajar menulis, yang ingin mengabadikan karya lewat pena berbagi kebaikan lewat tulisan.

Lihat Juga

Ahok

Pernyataan Sikap Forum Komunikasi Pelajar dan Masyarakat Indonesia di Turki