Home / Narasi Islam / Sosial / Belajar dari Lilin: Sebuah Kemanfaatan ataukah Penyiksaan Diri?

Belajar dari Lilin: Sebuah Kemanfaatan ataukah Penyiksaan Diri?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Khairunnas Anfa`uhum Linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat banyak terhadap manusia lainnya. Sebuah prinsip yang sangat sosial dan sangat bagus diterapkan di kehidupan keseharian kita. Manusia yang memang dalam dirinya ada dwi fungsi yang seraya berjalan bersama-sama, manusia sebagai makhluk individu dan manusia sebagai makhluk sosial. Akan tetapi yang terjadi di masyarakat terkadang bergeser dari apa yang telah diajarkan, ada 3 klasifikasi manusia dalam pengamalan prinsip individu-sosial ini.

Golongan pertama adalah yang paling ideal, mereka bisa menyeimbangkan aspek individu mereka dengan aspek sosial mereka, prinsip khairunnas anfa`uhum linnas ia terapkan dengan seraya tetap memperhatikan hak-hak pribadi. Antara mengurus diri dan memberi kemanfaatan kepada orang lain bisa berjalan dengan harmoni seirama. Inilah prinsip yang ideal yang seharusnya diterapkan oleh manusia. Kita harus memikirkan diri kita sendiri, karena memang kitalah yang tau apa yang kita butuhkan dan hanya kitalah yang tau keadaan kita. Akan tetapi di sisi lain kita tak bisa hidup tanpa bantuan dari sekeliling kita, tetangga, teman, sahabat, dan orang-orang tersayang di sekitar kita. Maka itulah sebuah prinsip kehidupan ditawarkan oleh agama Islam, untuk bisa hidup bermanfaat baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Semoga kita termasuk golongan ini. Aamiin.

Kemudian golongan yang kedua adalah golongan para individualis, seorang yang memang menganggap hidup itu hanyalah untuk kepentingan pribadi semata, mereka berpandangan sempit tanpa memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Hidup ya hanya mengurusi dirinya, sibuk untuk diri sendiri, sibuk untuk sebuah kehidupan yang sempit. Mereka kurang menyadari bahwa setiap kehidupannya secara jelas mutlak membutuhkan bantuan orang lain. Tidak menyadari atau tidak berusaha menyadari, mereka mungkin tahu dirinya membutuhkan orang lain, tapi itu tidak mereka akui adanya. Ini jelas bertentangan dengan prinsip khairunnas anfauhum linnas, unsur sosial dalam golongan ini tidak ada. Sangat tidak cocok untuk hidup dalam masyarakat yang memang dipaksa mau atau tidak mau untuk berhubungan dengan dunia luar, saling tolong menolong dengan tetangga dan lingkungan masyarakat yang lainnya.

Untuk golongan yang terakhir inilah yang mungkin kita sebut dengan fenomena LILIN, lilin adalah sebuah alat penerangan yang berbeda dengan media penerangan yang lain. Lilin memiliki prinsip kerja pembakaran diri untuk sebuah upaya penerangan terhadap lingkungannya. Sebuah pengorbanan diri dengan menghabiskan setiap tubuhnya untuk memberikan kemanfaatan terhadap lingkungan sekitarnya. Memang seakan-akan ini adalah baik, mengutamakan orang lain di atas kepentingan pribadi. Inilah prinsip yang masih kita tolerir, masih baik dan aman. Akan tetapi ada juga orang yang berlebihan mengutamakan/berkorban untuk orang lain tetapi dengan menyiksa diri. Seperti yang diilustrasikan oleh sebuah lilin. Mereka memang boleh dikatakan memberikan kemanfaatan yang luar biasa kepada sekelilingnya, tapi yang disayangkan adalah mereka melakukan aksi “kamikaze” yakni penyiksaan dari atau bisa dikatakan juga bunuh diri. Perlahan-lahan membakar dirinya hingga akhirnya tubuh lilin ini habis terbakar oleh ganasnya bara api. Memang ada orang yang totalitas seperti ini, membantu orang lain secara total dengan menginjak-injak hak pribadi.

Dari ketiga fenomena di atas, golongan pertamalah yang memang diajarkan dalam Islam, Islam mengajarkan harmonisasi kehidupan secara individual dan sosial. Menjadi pribadi yang utuh untuk bisa mengoptimalkan diri kita sekaligus memberikan kemanfaatan yang luar biasa kepada sesama, Sebuah idealitas yang memang pantas kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat kita. Jangan menjadi seorang yang individualis, dan jangan pula menjadi seorang yang hiperbolis dalam ber-sosial tanpa memperhatikan kebutuhan pribadi seperti sebuah Lilin Penerang…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Phisca Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Departement Computer Science and Engineering di Seoul National University of Science And Technology, Korea. Lahir di Yogyakarta, 31 Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik, elektronika dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya tulis. Pernah menulis buku "Kami di antara Mereka", Buku " Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia dan semasa SMA pernah menulis Buku "1000 Anak Bangsa Bercerita Tentang Perbedaan bersama para alumni Program Pertukaran Pelajar Jogja lainnya. Mahasiswa yang juga pernah menjadi santri PPSDMS Nurul Fikri ini aktif di beberapa organisasi seperti di HMEI, IMM Al Khawarizmi UGM, IPM Imogiri, dan BPPM Balairung. Juga menggeluti riset tentang UAV di Tim Quadcopter Elins. Tahun 2011 bersama empat temannya, berhasil membuat System Body Ideal Analyzer melalui PKM-T yang berhasil didanai Dikti. Phisca pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FMIPA dan juga mendapatkan Anugerah Insan Berprestasi dalam rangka Dies ke-63 UGM dan Dies ke-64 UGM. Sebelum Ia melanjutkan kuliah S-2 nya, Phisca 8 bulan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra International di bidang IT consultant sebagai programmer.
  • Bang Uddin

    Muhammad SAW: “Khoirunnas, anfauhum linnas…”

    Einstein: “don’t try to be a man of success, try to be a man of value instead”.

Lihat Juga

pancasila

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial