Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bahkan Dengan Baju yang Sama

Bahkan Dengan Baju yang Sama

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Menarik ketika membaca status FB seorang teman begini kira-kira bunyinya:

Pernah dengar kredo ini? :Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan”. Hhhmm… ternyata kredo ini tak sepenuhnya benar. Bagaimana kalau kita ganti dengan:Perlakukanlah orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan”. Karena…. kita dilahirkan dengan fisik, rasa, keinginan, impian dan banyak hal yang berbeda. Tak pantas jika memaksakan sesuatu yang terlihat baik”; hanya dari sisi kita.

Ilustrasi (Ar Risalah)
Ilustrasi (Ar Risalah)

dakwatuna.com – Hm… Terlepas bagaimana cara kita menafsirkan setiap kalimat, namun pernyataan ini ada benarnya juga walaupun terkadang ketika proses berdialektika terjadi mungkin akan ada ketidaksepahaman.  Namun bukan ini menjadi topik pembahasan kita tapi makna apa yang bisa kita ambil. Dengan melihat lagi perjalanan sirah nabi maka ditemukan salah satu faktor keberhasilan dakwah nabi adalah kemampuan beliau memposisikan dirinya terhadap umatnya. Nah kita yang berada di generasi jauh dari beliau tentu ingin mengulangi sejarah keberhasilan ini dengan meniru apa yang beliau lakukan.

Tak bisa dipungkiri ada di antara kita yang dengan semangatnya menyampaikan nilai-nilai Islam baik itu kepada binaan, teman atau masyarakat yang lainnya ternyata bukan respon penerimaan yang didapatkan tapi penolakan. Dan yang paling parah adalah ketika penolakan itu terhadap Islamnya yang dianggap terlalu sempit padahal yang menjadi sumber masalah adalah sang penyerunya. Pernyataan yang perlu kita sampaikan juga pada setiap orang agar tidak muncul kekeliruan adalah:

“Pemuka agama itu bukanlah agama itu sendiri”

Termasuk juga di dalamnya ketika interaksi sesama penggerak dakwah, ketidakmampuan memahami seorang teman menjadi penghalang soliditas organisasi. Yang tua tidak terlalu bijaksana menyikapi yang muda dan yang muda terlalu bersemangat tanpa bisa menghormati yang tua. Padahal ketika kedua potensi ini didayagunakan tentu menjadi energi yang sangat besar untuk mensukseskan gerakan organisasi. Sikap salah yang sering kita lakukan adalah memaksakan apa yang kita pahami kepada orang lain padahal belum tentu apa yang kita pahami bisa dengan tepat dipahami oleh orang lain. Dan bahkan dengan pemahaman yang sama pun belum tentu akan ditampilkan dengan cara yang sama tanpa harus keluar dari substansi pemahaman itu, karena ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi di antaranya bisa umur, latar belakang pendidikan, psikologis, adat istiadat, keyakinan dan faktor-faktor yang lainnya.

Analogi yang sederhana untuk memahami ini seperti sebuah baju yang sama yang dipakai oleh orang yang berbeda. Walau dengan baju yang sama pasti akan berbeda keindahan penampilan yang kita lihat. Postur tubuh, cara berjalan, kombinasi pakaian yang digunakan akan menampilkan keindahan penampilan yang berbeda. Makanya Rasulullah SAW telah mengingatkan kita akan hal itu,

“Anzilunnaasa manazilahum” (Tempatkanlah manusia sesuai dengan tempatnya yang seharusnya (proporsional).

Hal yang sangat jelas yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya adalah ketika menyikapi peristiwa perang tabuk. Rasulullah dalam memberikan hukuman kepada orang-orang yang tidak ikut serta dalam perang dengan kadar yang berbeda-beda. Untuk sahabat sekaliber Ka’ab bin Malik dan dua orang sahabatnya diberikan hukuman didiamkan selama lima puluh hari tapi tidak untuk yang lain. Dalam kisah lain Rasulullah ketika menjelaskan tentang Islam juga menyampaikannya dengan pengertian yang berbeda-beda. Ketika para sahabat terbaik sedang berkumpul dan malaikat Jibril bertanya tentang Islam maka Rasulullah menerangkan Islam dengan makna rukun Islam, atau dalam hadits lain ketika ada yang bertanya tentang Islam maka Rasulullah menjawabnya dengan “berimanlah dan istiqamahlah. Dan pada peristiwa yang lain ketika seorang pelaku maksiat bertanya tentang Islam kepada Rasulullah, Rasulullah menjawab dengan jawaban yang jauh lebih sederhana dari dua jawaban di atas “engkau tidak boleh berbohong”.

Perbedaan jawaban yang diberikan Rasulullah tentang makna Islam apakah salah? Tentu tidak, karena begitulah seharusnya ketika dalam memberikan penjelasan sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

“Khaatibunnaasa ‘ala qadri ‘uqulihim” (Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitasnya).

Bagaimana dengan kondisi kita sekarang? Tentu hanya kita yang mengetahui, yang perlu kita pahami hanya bagaimana kita memahami kondisi KEKINIAN DAN KEDISINIAN kita.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alumni fisika universitas andalas. saat ini bekerja di bidang metrologi dan aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan

Lihat Juga

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia