Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Membumikan Sifat Kenabian

Membumikan Sifat Kenabian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (Rina Lestari)
Ilustrasi. (Rina Lestari)

dakwatuna.com – Peringatan maulid (kelahiran) nabi hendaknya menjadi momentum untuk menambah kecintaan kepada nabi dan mewarisi sifat-sifat nabi,  bukan hanya seremonial belaka yang di dalamnya tidak lepas dari hafalan seputar nama ayah dan ibu nabi, nama kakek nabi, istri nabi, umur nabi Muhammad saat diangkat menjadi nabi, dan semisalnya. Akan tetapi lebih dari itu, ada hikmah yang patut diambil dan diimplementasikan dalam diri dan kehidupan kita.

Alasan perlunya memperingati maulid nabi di antaranya adalah sebagai upaya untuk mewarisi sifat-sifat nabi. Ada empat sifat nabi yang perlu kita warisi saat ini. Pertama, sifat nabi adalah shiddiq yang artinya benar. Bukan hanya benar dalam perkataan saja, tapi perbuatannya juga benar. Perbuatan sejalan dengan perkataan. Beda dengan kita kebanyakan. Kadang mudah berucap tetapi sulit untuk melakukannya. Politisi negeri ini pun demikian, banyak janji manis yang ditebar namun banyak yang tidak ditepati.

Di negeri ini, kejujuran begitu mahal dan sulit didapati. Mulai dari pemimpinnya, yang seharusnya menjadi contoh bagi rakyatnya, malah jauh dari kejujuran itu sendiri. Buktinya adalah kasus korupsi, kasus suap, dan sejenisnya. Mirisnya, kasus pidana itu dilakukan oleh mereka yang tahu soal agama misalnya yang terjadi di kementerian agama. Tungkek mambao rabah, kata orang minang.

Sifat nabi selanjutnya adalah amanah atau benar-benar bisa dipercaya, terbukti dengan gelar Al Amin yang dianugerahkan kepada beliau. Penganugerahan gelar sebagai orang yang dapat dipercaya ini jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Rasulullah SAW disegani oleh kawan maupun lawan. Bahkan orang yang memusuhi beliau pun meyakini ucapan beliau. Beda dengan kita, bisa saja kawan mempercayai kita, tetapi lawan jelas tidak percaya dengan kita. Atau bahkan tak jarang kawan hanya pura-pura percaya kepada kita, padahal di dalam hatinya tidak percaya pada kita.

Rasulullah memiliki sifat tabligh atau menyampaikan. Kepada siapa saja beliau sampaikan risalah Islam dengan berani. Rasulullah SAW menyampaikan kebenaran meskipun terasa pahit dan ada konsekuensi di belakangnya. Godaan, siksaan, intervensi hingga ancaman untuk dibunuh pun pernah beliau alami. Akan tetapi beliau tetap tidak bergeming dalam menyampaikan risalah Islam. Meski kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Nabi, namun Nabi tidak gentar dan tetap menjalankan amanah yang dia terima. Ketika Nabi Muhammad SAW ditawari kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy agar beliau meninggalkan tugas ilahinya menyiarkan agama Islam, beliau menjawab, ”Demi Allah…wahai paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suci ku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur karena-Nya”.

Rasulullah memiliki sifat fathonah yang artinya cerdas. Jika kita baca sirah nabi, maka akan kita dapati betapa cerdasnya Rasulullah. Beliau juga ahli strategi perang. Hampir semua perang dimenangkan oleh umat Islam dengan taktik yang beliau terapkan. Meskipun demikian, tidak serta membuat Rasulullah mau menang sendiri dan tidak mendengarkan pendapat para sahabat. Dalam banyak kesempatan, beliau menampung pendapat dari para sahabat. Kecerdasan Rasulullah dalam memilih para sahabat untuk ditempatkan di berbagai posisi atau jabatan yang tepat, yang menghasilkan kerja produktif. Hingga, bangsa Arab yang pada mulanya adalah bangsa bodoh dan terpecah-belah serta saling perang antar suku, menjadi satu bangsa yang berbudaya dan berpengetahuan, pengaruhnya melebihi luas benua Eropa. Membentang dari Spanyol dan Portugis di Barat hingga India Barat. Sehingga tepat rasanya Michael H Hart yang notabene non-muslim pun menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh nomor 1 di dunia, mengungguli Yesus dan tokoh-tokoh dunia lainnya.

Selama masih ada begitu banyak kemaksiatan dan kejahatan merajalela di muka bumi ini, belum mampu diterapkannya sifat-sifat nabi pada umat, maka selama itu masih perlu adanya upaya-upaya yang menyadarkan pentingnya implementasi keempat sifat nabi, di antaranya adalah dengan peringatan maulid nabi. Meski peringatan maulid nabi sendiri masih terdapat perbedaan dan perdebatan antara yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan, setidaknya melihat kondisi umat muslim saat ini, dan juga yang terjadi generasi mudanya, rasanya maulid nabi tetap perlu diadakan.

Selain itu, peringatan maulid nabi merupakan implementasi cinta kita kepada Rasulullah SAW. Al Qadhi ‘Iyadl rahimahullah, berkata: “Di antara bentuk cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan menolong sunnahnya, membela syariahnya, berangan-angan hidup bersamanya Setiap muslim wajib mencintai nabinya, bahkan kecintaan itu harus melebihi kecintaan terhadap apapun. Termasuk diri kita sendiri.  Cinta kepada Rasulullah SAW merupakan bagian dari ibadah yang agung.

Maulid nabi juga merupakan momen untuk memberikan pendidikan dan pengetahuan pada generasi muda untuk tahu tentang nabi. Tak dipungkiri, generasi muda saat ini jauh dari ajaran Islam. Pergaulan bebas akibat modernisasi membuat mereka asing dengan Islam. Gelombang ghazwul fikri (perang pemikiran) yang kian santar, membuat bermacam penyimpangan pada generasi muda. Maka muncullah paham kebebasan yang kebablasan, termasuk adanya Jaringan Islam Liberal (JIL), dan atheism. Dengan Islam sendiri mereka jauh. Ibadah jarang-jarang, pengetahuan tentang Islam sangat sedikit. Tanyakan saja kepada mereka apa yang mereka ketahui tentang Islam dan nabi mereka. Banyak di antara mereka yang tidak tahu. Sedikit di antara mereka yang hafal dan paham tentang nabi Muhammad SAW, nabi mereka. Melihat kondisi generasi muda seperti itu, maka rasanya tetap perlu diadakannya peringatan yang mampu memunculkan dan meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap Islam, salah satunya adalah dengan peringatan maulid nabi. Mari hilangkan perpecahan di antara kita. Dengan tidak saling menghujat. Bagi yang tidak setuju dengan pelaksanaan maulid nabi, tidak apa-apa. Hanya saja, jangan menyalahkan dan menghujat apalagi sampai mengkafirkan mereka yang melaksanakan maulid nabi.

Siapa pun dan apapun profesi kita, bisa saja mewarisi keempat sifat nabi tersebut. Memang tidak mungkin kita menyamai Rasulullah, tapi setidaknya dengan mencontoh beliau, maka akan ada kebaikan yang kita dapati. Umat Islam merindukan sosok yang bisa memiliki dan mewarisi sifat nabi tersebut, untuk mengembalikan kejayaan agama di muka bumi.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Supadilah, S.Si
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Keistimewaan Para Penghafal Al-Quran di Dunia