07:56 - Sabtu, 20 Desember 2014
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Sabar dan Syukur Dalam Kehidupan Keluarga

Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I - 15/01/13 | 11:30 | 02 Rabbi al-Awwal 1434 H

Bismillahirrahmaanirrahim

Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)

Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Dalam kehidupan keluarga, tidak dapat dipungkiri, kita akan berhadapan dengan berbagai problema, yang berkaitan erat dengan kelemahan/kekurangan dari masing-masing kita sebagai pasangan. Ini adalah bagian dari sunnatullah, setiap kita punya kelemahan, di samping bahwa setiap kita punya kelebihan/keutamaan/keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kalau Imam Ghazali mengatakan bahwa hidup ini adalah antara sabar dan syukur, iman itu separuhnya adalah syukur, dan separuhnya lagi adalah sabar, maka demikian juga dengan kehidupan suami istri dalam keluarga. Kadang, pada saat tertentu, seorang suami yang harus bersabar, dengan kelakuan istri yang kurang berkenan di hatinya, dan pada saat itu istri bersyukur karena memiliki suami yang sabar. Di lain kesempatan, giliran istri yang harus bersabar, melihat kekurangan/kelemahan suami, sementara suami perlu bersyukur karena istrinya bisa bersabar.

Saya teringat dengan satu kisah (entah fiksi atau nyata), yang pernah saya dengar dari seorang ustadz yang juga psikolog. Ada sepasang suami istri, sang suami wajahnya biasa-biasa saja, sementara istrinya sangat cantik (secara umum penilaian orang demikian). Suatu kali, suami pulang ke rumah dengan membawa uang yang cukup banyak, dan langsung diberikan kepada istrinya. Kemudian suami berangkat kembali. Ketika pulang kembali ke rumah, suami menyatakan, uang yang kemarin telah dimanfaatkan untuk apa? Tapi ternyata istri sama sekali tidak ingat bahwa suami telah memberikan uang, ia benar-benar lupa, di mana ia menyimpannya, sementara beberapa hari kemarin, ia telah beres-beres rumah, dan ia baru teringat bahwa bungkusan uangnya telah ikut terbuang ke tempat sampah saat beres-beres rumah. Jadi, ternyata, istrinya yang wajahnya sangat cantik, memiliki kekurangan, orangnya pelupa. Untungnya suaminya mampu bersabar, menghadapinya kejadian tersebut. Kisah ini menjadi salah satu contoh bahwa kehidupan suami istri, memang antara ‘sabar dan syukur’. Kemarin2 istri yang harus banyak bersabar, punya suami yang wajahnya biasa-biasa saja, dan suami yang banyak bersyukur, karena memiliki istri yang sangat cantik. Dengan kejadian tersebut, suami yang harus bersabar, karena istrinya pelupa, dan istri yang bersyukur karena, suaminya tidak marah dengan kejadian tersebut.

Keharusan sabar dan syukur seperti di atas, pasti dihadapi oleh seluruh pasangan suami istri. Tanpa kecuali. Kadang seorang istri harus bersabar melihat kelakuan suami yang belum berubah, meski berkali-kali diingatkan, suami masih sering menumpuk dan menggantung baju di ata kapstok kamar. Kadang suami yang harus bersabar, mendapati istrinya yang nggak terampil-terampil mengoperasikan komputer, meski berkali-kali tela diajari oleh suaminya. Kadang suami yang merasa begitu bersyukur, punya seorang istri yang pandai menata rumah agar nyaman, kadang istri yang merasa begitu bersyukur, punya suami yang begitu perhatian terhadap pendidikan anak-anak.

Sabar dan syukur. Inilah dua kunci yang harus selalu kita siapkan, untuk membuka pintu kebahagiaan dalam kehidupan keluarga, dalam kehidupan suami istri. Tanpa menyiapkan kunci tersebut, jangan berharap kita bisa membuka pintu-pintu kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga. Boleh jadi kebahagiaan itu akan terus bersembunyi di balik tembok –tembok yang kokoh, di balik pintu yang tertutup. Kebahagiaan hanya akan menjadi milik orang lain. Kalau ada pepatah yang berbunyi “rumput tetangga lebih hijau”, seseorang cenderung melihat orang lain yang bahagia, dengan ungkapan: “enak yah, tetangga kita bisa begini begitu, suami/istrinya bisa begini begitu”. Ungkapan-ungkapan semacam ini muncul, boleh jadi karena konsep sabar dan syukur belum diamalkan. Dia menganggap, hanya dirinya yang berhadapan dengan masalah, orang lain tidak punya masalah, semua lurus-lurus saja, suaminya baik-baik saja, istrinya baik-baik saja. Padahal, sejatinya setiap suami, setiap istri, mereka memiliki kekurangan, memiliki masalah. Yang perlu dicatat adalah bahwa masalah dan kekurangan orang itu berbeda-beda. Dan yang perlu dicatat juga adalah bagaimana kekurangan/kelemahan yang ada, bisa secara bijaksana kita perbaiki, dengan sentuhan cinta dan kasih sayang.

Jika kita masih menghadapi kesulitan untuk mengaplikasikan “sabar dan syukur”,sebaiknya banyak-banyaklah kembali membaca hadis berikut “ Sungguh menakjubkan orang beriman,semua urusannya baik bagi dirinya. Dan itu tidak akan terjadi kecuali pada orang beriman. Apabila diberi sesuatu yang menyenangkan, ia akan bersyukur, dan apabila diberi musibah/sesuatu yang tidak menyenangkan, ia akan bersabar. Dan kedua-keduanya baik baginya” (Hadits Riwayat Muslim). Hal lain yang harus kit lakukan adalah selalu mendekat kepada Dzat yang maha sabar (shabuur), dan Dzat yang maha bersyukur (Syakuur), Allah swt. Insya Allah kita akan menjadi orang yang bisa mudah bersabar dan bersyukur, dalam menghadapi setiap hal dalam kehidupan berkeluarga. Wallahu a’lam bishawab.

Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Tentang Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (5 orang menilai, rata-rata: 9,60 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
67 queries in 2,359 seconds.