13:10 - Senin, 22 September 2014

Sekilas Tentang Film “Cinta Tapi Beda”

Rubrik: Opini | Kontributor: Sofistika Carevy Ediwindra - 12/01/13 | 15:54 | 28 Safar 1434 H

Cuplikan film "Cinta Tapi Beda" yang mengundang kontroversi. (inet)

Cuplikan film “Cinta Tapi Beda” yang mengundang kontroversi. (inet)

dakwatuna.com - Sineas perfilman Indonesia baru-baru ini ramai dengan film besutan Hanung Bramantyo berjudul Cinta Beda Agama. Film yang akan segera ditarik seluruhnya dari peredaran perfilman Indonesia ini berlatar belakang kisah cinta dua tokoh yang berbeda latar belakang agamanya.

Memang, jika menilik sosok Hanung sebagai sutradara, ia kerap menelurkan film-film yang kontroversial. Sebut saja film “?” (Tanda Tanya). Entah apa motif Hanung dengan film-film tersebut, namun mereka sangat perlu kita kawal dan kritisi kandungannya. Film bisa menjadi media efektif untuk mengubah dan menyetir pola pikir masyarakat. Maka melakukan kritisisasi terhadap film yang memuat ghazwul fikri sangat perlu dilakukan.

Dalam film Cinta Beda Agama, Hanung mengambil tokoh wanita Diana (Agni) yang berlatar belakang Padang dan beragama Katolik. Sedang tokoh laki-lakinya, Cahyo ( ) merupakan muslim berasal dari tanah Yogyakarta. Kontroversi dimulai di sini. Banyak yang mempertanyakan kesengajaan Hanung menyandingkan aspek Padang dengan agama Katolik pada tokoh wanita di mana hal itu merupakan kausal yang dipertentangkan. Namun, dalam kultwitnya Hanung membantah hal itu. Dikatakannya bahwa ia sama sekali tidak menyebutkan dalam filmnya bahwa tokoh wanita berdarah Minang meski ia berasal dari Padang.

Saya tidak akan membahas hal tersebut lantaran kapasitas saya tidak pada ranah itu. Hal yang jauh lebih penting untuk disoroti justru ada pada konten film tersebut. Secara halus film itu mengharuskan khalayak pada paham toleransi yang salah kaprah. Dalam film, tokoh Cahyo bersikukuh mempertahankan persepsi toleran pada dua orang tuanya yakni dengan melegalkan hubungannya dengan Diana. Ayah Cahyo merupakan ketua RW yang toleran. Artinya, ayah Cahyo dinampakkan adil dan memberikan kesempatan luas warganya yang non Muslim untuk beribadah. Namun demikian, tokoh Cahyo mempersepsikan bahwa melegalkan hubungan cinta beda agamanya dengan Diana juga soal toleransi dan itu sah saja.

Keanehan konten yang lain yakni pada konsep ‘melabeli musyrik’ pada diri seseorang. Tokoh Cahyo dalam film mendebat ayahnya yang tak jua merestui hubungan beda aqidahnya dengan Diana lantaran ia (Diana) tergolong gadis musyrik. Cahyo menanyakan pada sang ayah tentang hak melabeli musyrik pada diri seseorang. Dikatakannya bahwa itu adalah hak Tuhan, bukan haknya atau hak ayahnya.

Saya menyoroti hal ini sebagai paham yang menyeret pada liberalisme agama. Ia secara halus mengharuskan penonton pada paham kebenaran relatif. Dalam buku Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam, Adian Husaini (2009) menyebut aksi mengobrak-abrik konsep Islam, iman, atau kafir ini sebagai makar kaum liberalis. Ia adalah hal yang mesti diwaspadai lantaran menyebabkan masyarakat kehilangan keyakinan akan kebenaran agamanya. Bahkan nantinya, bisa jadi masyarakat mengarah pada pemahaman bahwa semua agama sama (pluralisme). Maka nantikanlah kehancuran Islam jika sampai paham liberalisme dan kawannya, pluralisme dan sekulerisme, menggurita masyarakat kita.

Boleh saja Hanung berpendapat berikut dalam tweetnya, “Silakan CEK apakah sy menampilkan adegan pernikahan beda Agama? #CTB dan “Film #CTB bukan film ttg NIKAH beda Agama. Tapi tentang cinta beda Agama.” Namun saya yakin masyarakat kita cerdas. Meski di ending film kedua tokoh ‘hanya’ berpegangan tangan setelah keduanya mendapat restu terpaksa dari masing-masing orang tua, akhir film itu memberi simpulan tersirat ke arah pelegalan hubungan beda agama.

Apa jadinya bangsa ini jika fatwa ulamanya kian hari kian diabaikan. Fatwa MUI tentang haramnya kawin beda agama yang jelas dan tersurat saja dilanggar. Mau dibawa ke mana bangsa ini? Apakah tatanan masyarakat yang liberalis yang dikehendaki di mana agama dianggap angin lalu? Atau masyarakat yang plural-sekuler yang menyamaratakan semua agama dan memisahkannya dari kehidupan?

Pemerintah dalam hal ini turut memiliki andil besar seharusnya. Seingat saya, fungsi pendidikan nasional yang paling pertama yakni menumbuhkan insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka segala agenda destruktif terhadap perwujudan insan yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, salah satunya liberalisme dan pluralisme, mesti dilarang.

Semoga kita menjadi insan yang kuat di tengah gempuran perang pemikiran yang kian berkelebat di sekeliling kita. Alangkah benarnya, menggenggam agama di era kini ibarat menggenggam Bara api. Wallahu a’lam bish shawab.

Tentang Sofistika Carevy Ediwindra

Mahasiswa semester 1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat ini aktif di KAMMI dan menjadi kepala departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI Komisariat Madani. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Topik:

Keyword: , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (21 orang menilai, rata-rata: 9,38 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • syukron

    hanung bramantyo itu..motivasinya biar kontroversial terus kok, ketika dah kontroversial gitu kan jadinya hanung terkenal, zaman naik daun

  • rosita

    setuju harus selalu di kawal siapapun yang promo liberalisme

  • arifudin

    apakah setiap ingin terkenal orang-orang harus menyajikan sesuatu yang selalu mengundang kontroversi dan pro kontra ya???sampai sampai bahan yang diangkat pun tidak lagi hanya soal makan dan minum tapi sudah sampai ke hal – hal yang berbau aqidah…atau apakah ini hanya sebuah cara penerapan marketing untuk menggelumbungkan penjualan agar film nya laku dan payu ditonton oleh para penyuka film???harusnya sih sutradara sekelas hanung bisa jauh lebih menelitii bagaimana kedepannya film ini akan ditanggapi massa atau jangan jangan memang ada maksut tertentu dari sang sutradara???…

  • Andria

    khan kalau mau terkenal kencingin aja sumur zamzam

  • Asma

    memang berkali2 hanung mengangkat hal2 yg ‘debatable’, yg menurut saya sih Islam sdh jelas dgn aturan2nya. dlm film sebelumnya pun (kalau tdk salah berjudul ‘Khadijah’), hanung memperjelas ‘susah’nya wanita bercadar. padahal aturan bagaimana berhijabpun cukup jelas. dalam CTB jelas banyak hal yg kurang sejalan dgn nilai Islam. mulai dari melegalkan pacaran saja sdh kontroversi. apalagi beda agama. betul seperti yg dia bilang, penonton kita cerdas, walaupun tidak tersurat jelas dalam film, jelas tersirat film itu menggiring penonton untuk ikut melegalkan hubungan beda agama……. (ketakutan nih kalau kalau virus ini terlalu kuat untuk meracuni masyarakat kita yang makin liberal….. Allah Yahdiq…)

Iklan negatif? Laporkan!
95 queries in 1,500 seconds.