Home / Berita / Opini / Sekilas Tentang Film “Cinta Tapi Beda”

Sekilas Tentang Film “Cinta Tapi Beda”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cuplikan film "Cinta Tapi Beda" yang mengundang kontroversi. (inet)
Cuplikan film “Cinta Tapi Beda” yang mengundang kontroversi. (inet)

dakwatuna.com – Sineas perfilman Indonesia baru-baru ini ramai dengan film besutan Hanung Bramantyo berjudul Cinta Beda Agama. Film yang akan segera ditarik seluruhnya dari peredaran perfilman Indonesia ini berlatar belakang kisah cinta dua tokoh yang berbeda latar belakang agamanya.

Memang, jika menilik sosok Hanung sebagai sutradara, ia kerap menelurkan film-film yang kontroversial. Sebut saja film “?” (Tanda Tanya). Entah apa motif Hanung dengan film-film tersebut, namun mereka sangat perlu kita kawal dan kritisi kandungannya. Film bisa menjadi media efektif untuk mengubah dan menyetir pola pikir masyarakat. Maka melakukan kritisisasi terhadap film yang memuat ghazwul fikri sangat perlu dilakukan.

Dalam film Cinta Beda Agama, Hanung mengambil tokoh wanita Diana (Agni) yang berlatar belakang Padang dan beragama Katolik. Sedang tokoh laki-lakinya, Cahyo ( ) merupakan muslim berasal dari tanah Yogyakarta. Kontroversi dimulai di sini. Banyak yang mempertanyakan kesengajaan Hanung menyandingkan aspek Padang dengan agama Katolik pada tokoh wanita di mana hal itu merupakan kausal yang dipertentangkan. Namun, dalam kultwitnya Hanung membantah hal itu. Dikatakannya bahwa ia sama sekali tidak menyebutkan dalam filmnya bahwa tokoh wanita berdarah Minang meski ia berasal dari Padang.

Saya tidak akan membahas hal tersebut lantaran kapasitas saya tidak pada ranah itu. Hal yang jauh lebih penting untuk disoroti justru ada pada konten film tersebut. Secara halus film itu mengharuskan khalayak pada paham toleransi yang salah kaprah. Dalam film, tokoh Cahyo bersikukuh mempertahankan persepsi toleran pada dua orang tuanya yakni dengan melegalkan hubungannya dengan Diana. Ayah Cahyo merupakan ketua RW yang toleran. Artinya, ayah Cahyo dinampakkan adil dan memberikan kesempatan luas warganya yang non Muslim untuk beribadah. Namun demikian, tokoh Cahyo mempersepsikan bahwa melegalkan hubungan cinta beda agamanya dengan Diana juga soal toleransi dan itu sah saja.

Keanehan konten yang lain yakni pada konsep ‘melabeli musyrik’ pada diri seseorang. Tokoh Cahyo dalam film mendebat ayahnya yang tak jua merestui hubungan beda aqidahnya dengan Diana lantaran ia (Diana) tergolong gadis musyrik. Cahyo menanyakan pada sang ayah tentang hak melabeli musyrik pada diri seseorang. Dikatakannya bahwa itu adalah hak Tuhan, bukan haknya atau hak ayahnya.

Saya menyoroti hal ini sebagai paham yang menyeret pada liberalisme agama. Ia secara halus mengharuskan penonton pada paham kebenaran relatif. Dalam buku Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam, Adian Husaini (2009) menyebut aksi mengobrak-abrik konsep Islam, iman, atau kafir ini sebagai makar kaum liberalis. Ia adalah hal yang mesti diwaspadai lantaran menyebabkan masyarakat kehilangan keyakinan akan kebenaran agamanya. Bahkan nantinya, bisa jadi masyarakat mengarah pada pemahaman bahwa semua agama sama (pluralisme). Maka nantikanlah kehancuran Islam jika sampai paham liberalisme dan kawannya, pluralisme dan sekulerisme, menggurita masyarakat kita.

Boleh saja Hanung berpendapat berikut dalam tweetnya, “Silakan CEK apakah sy menampilkan adegan pernikahan beda Agama? #CTB dan “Film #CTB bukan film ttg NIKAH beda Agama. Tapi tentang cinta beda Agama.” Namun saya yakin masyarakat kita cerdas. Meski di ending film kedua tokoh ‘hanya’ berpegangan tangan setelah keduanya mendapat restu terpaksa dari masing-masing orang tua, akhir film itu memberi simpulan tersirat ke arah pelegalan hubungan beda agama.

Apa jadinya bangsa ini jika fatwa ulamanya kian hari kian diabaikan. Fatwa MUI tentang haramnya kawin beda agama yang jelas dan tersurat saja dilanggar. Mau dibawa ke mana bangsa ini? Apakah tatanan masyarakat yang liberalis yang dikehendaki di mana agama dianggap angin lalu? Atau masyarakat yang plural-sekuler yang menyamaratakan semua agama dan memisahkannya dari kehidupan?

Pemerintah dalam hal ini turut memiliki andil besar seharusnya. Seingat saya, fungsi pendidikan nasional yang paling pertama yakni menumbuhkan insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka segala agenda destruktif terhadap perwujudan insan yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, salah satunya liberalisme dan pluralisme, mesti dilarang.

Semoga kita menjadi insan yang kuat di tengah gempuran perang pemikiran yang kian berkelebat di sekeliling kita. Alangkah benarnya, menggenggam agama di era kini ibarat menggenggam Bara api. Wallahu a’lam bish shawab.

Redaktur: Samin Barkah, Lc. M.E

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (23 votes, average: 9,04 out of 5)
Loading...
Mahasiswa semester 1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat ini aktif di KAMMI dan menjadi kepala departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI Komisariat Madani.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Organization