Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sambung Kembali Urat Malumu

Sambung Kembali Urat Malumu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Sejenak mari kita merenung, tak perlu mendalam atau merumitkan pikiran karena cukup sederhana dan mudah walau terkadang sangat mengherankan. Lihatlah sekitar kita atau mungkin kita juga bisa dijadikan objek perenungannya. Satu pertanyaan yang mesti kita jawab dengan kejujuran yang sejujurnya. Kenapa manusia itu melakukan kemaksiatan? Untuk ukuran dosa atau balasan di akhirat pasti semua sudah pada tau. Tapi sekadar tau tanpa ada keyakinan bahwa perbuatan itu akan dibalas, hanya membuat seseorang tak berhenti melakukan kemaksiatan. Padahal kalau kita mau berfikir malah balasan akhirat inilah yang harus kita takutkan karena inilah kehidupan yang sebenarnya.

Perilaku korupsi, berpakaian yang tidak menutup aurat, melakukan zina, meninggalkan amanah, melihat yang tak haknya, pornografi, berjudi atau mengundi nasib adalah sebagian contoh dari sekian banyak perilaku tercela. Untuk ukuran dosa yang akan didapatkan, semua sudah pada tau, tapi lagi-lagi ini tidak membuat kita jera untuk berhenti melakukan kemaksiatan. Lihatlah para koruptor itu, masih bisa tersenyum dan cengengesan meski sudah terbukti melakukan korupsi. Atau lihatlah pelaku zina itu, sudah masuk bui, keluar tetap tampil tanpa ada perasaan dosa. Atau lihatlah wanita-wanita sekarang yang lebih banyak memamerkan auratnya dengan dalih gaya dan hak asasi. Tapi coba kalau sudah terjadi pelecehan atau ada yang berkomentar miring, malah membalas “laki-laki saja yang berpikiran ngeres, coba tu jaga pikirannya”.

Ah…begitulah adanya…kita tidak membenci pelakunya walau sebenarnya ada dalil yang mengharuskan kita untuk membencinya dan mau tak mau kita juga harus membencinya termasuk kepada diri pribadi ketika melakukan kemaksiatan. Hal yang kita benci tentu perbuatannya bukan orangnya dan berharap kita yang melakukan perbuatan maksiat itu segera menemukan jalan pertaubatan sebelum ajal datang menjelang. Tidakkah kita takut ketika ajal sudah menjelang dan kita tidak sempat untuk bertaubat dari dosa dan kesalahan yang kita lakukan? Na’uzubillahi min zalik.

Mudah-mudahan kita sudah merenungkan apa yang harusnya ada dalam diri kita agar kita bisa terhindar dari kemaksiatan. Ya satu jawaban yang paling pas menurut saya adalah rasa malu. Walau sebenarnya sekali lagi balasan akhirat adalah yang paling kita takutkan. Tapi bagi kita yang masih belum mengakar akan balasan akhirat ini karena ia belum begitu nyata dalam kehidupan kita maka Rasa Malu adalah jawabannya. Ketiadaan rasa malu akan menyebabkan korupsi menjadi tradisi, Zina menjadi sudah biasa, pamer aurat menjadi pemikat, gosip menjadi hiburan yang sip, dan judi semakin menjadi-jadi. Maka tak salah rasanya rasul yang mulia Muhammad SAW menyampaikan dalam banyak haditsnya tentang rasa malu di antaranya:

“Malu adalah bagian dari keimanan seseorang.” (HR Al-Hakim dan Baihaqi).

“Sesungguhnya dari apa yang didapatkan oleh manusia pada ucapan kenabian yang pertama adalah apabila engkau tidak punya rasa malu, maka lakukan sesukamu.” (HR. Al-Bukhari)

Menusuk ke hati rasanya membaca hadits nabi di atas. Coba inap-inapkan dalam diri kita ternyata rasa malu adalah ukuran keimanan seseorang. Tebal dan tipisnya keimanan seseorang bisa diukur dari rasa malunya terhadap kemaksiatan yang dilakukannya. Dan bahkan dalam hadits berikutnya seolah Rasulullah mengatakan bahwa rasa malu adalah ucapan kenabian pertama yang diterima oleh manusia dan ungkapan marah kepada orang yang tidak memiliki rasa malu terhadap perilakunya “apabila engkau tidak punya rasa malu, maka lakukan sesukamu.”. Terasa menghantam ucapan ini.

Dalam hadits lain malah lebih mengerikan lagi karena apabila rasa malu telah hilang dalam hati dan dalam diri seseorang, maka sesungguhnya merupakan bencana pada dirinya. “Sesungguhnya Allah SWT apabila hendak membinasakan seseorang, maka dicabut rasa malu dari orang itu. Bila sifat malu sudah dicabut darinya, maka ia akan mendapatinya dibenci orang, malah dianjurkan orang benci padanya. Jika ia telah dibenci orang, dicabutlah sifat amanah darinya. Jika sifat amanah telah dicabut darinya, kamu akan mendapatinya sebagai seorang pengkhianat. Jika telah menjadi pengkhianat, dicabutlah sifat kasih sayang. Jika telah hilang kasih sayangnya, maka jadilah ia seorang yang terkutuk. Jika ia telah menjadi orang terkutuk, maka lepaslah tali Islam darinya.” (HR Ibnu Majah)

Kalau hari ini masih berlaku maksiat maka coba tanyakan pada diri kita, Apakah urat malu itu sudah putus atau hilang dalam diri kita? Kalau begitu mari kembali sambung urat malu itu dan pertebalah diri dengan rasa malu terutama pada sang Khaliq yang senantiasa mengetahui apa yang kita lakukan. Tidakkah kita malu pada-Nya?

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,64 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alumni fisika universitas andalas. saat ini bekerja di bidang metrologi dan aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan

Lihat Juga

Konvoi bantuan kemanusiaan menembus Aleppo. (islamtoday.net)

Alhamdulillah, Bantuan Kemanusiaan Akhirnya Dapat Masuk Aleppo