Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Surat Untuk Ibu Kita Kartini

Surat Untuk Ibu Kita Kartini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Kepada

Ibu Kartini

di tempat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Repro negatif potret RA. Kartini (wikipedia)
Repro negatif potret RA. Kartini (wikipedia)

dakwatuna.com – Ibu, bagaimana kabar Ibu di sana? Apakah Ibu tenang meninggalkan bangsa Indonesia khususnya perempuan Indonesia? Saya ingat dengan saat -saat di mana Rasulullah menjelang wafat. Beliau bahkan di saat menjelang wafatnya yang diingat adalah Ummati, ummati, ummati. Ibu tahu kan bahwa Rasulullah adalah seorang manusia yang telah dijanjikan baginya surga. Dijaminkan baginya kenikmatan yang tidak terhingga di akhirat. Namun, beliau tidak egois bu, selalu memikirkan umatnya. Dan saya yakin Ibu pun juga pasti akan memiliki perasaan khawatir yang sama saat meninggalkan tanah Indonesia ini.

Ibu….

Siapa yang tidak tahu dengan Ibu? Sejak saya duduk di sekolah dasar sudah diwajibkan untuk menyanyikan lagu yang menghormati Ibu. Hmm… Yah, waktu itu saya tidak tahu apa-apa bu, karena masih kecil sehingga saya dengan pasrah menjadikan lagu itu sebagai lagu kesukaan saya. Saya yakin semua anak Indonesia tidak ada yang tidak tahu siapa Ibu dan bagaimana pengorbanan Ibu terhadap kemajuan kaum perempuan.

Ibu…

Setiap tanggal 21 April, di sekolah bahkan hingga saat ini Indonesia masih di dera demamnya nama indah Ibu, “Kartini”. Ibu harus bersyukur karena ternyata perjuangan Ibu tidak sia-sia. Ibu bisa lihat sekarang perempuan Indonesia sudah lebih maju dari masa Ibu dahulu. Ibu tahu mereka terinspirasi dari siapa? Ya… dari perjuangan Ibu mengatasi keterbatasan dalam keterpingitan oleh adat. Setiap mengingat nama Ibu, yang terbayang adalah emansipasi wanita. Pembebasan wanita dari keterkukungan dan mengangkat derajat wanita Indonesia.

Ibu…

Semenjak saya duduk di bangku kuliah, saya semakin tertarik untuk mempelajari kisah perjuangan Ibu yang bagi kaum feminis dianggap heroik. Yah, sebuah perjuangan yang selalu akan dikenang karena memang sudah dicecoki dari awal kepada anak-anak Indonesia yang tidak tahu apa-apa.   Sosok perempuan yang menjadi teladan bagi perempuan Indonesia, anak Sekolah Dasar pun tak akan pernah melupakan lagu nasional yang diwajibkan untuk dinyanyikan di depan kelas. Ketertarikan saya membawa saya pada keinginan untuk menggali lebih jauh dengan membaca buku-buku atau literatur yang menyampaikan sedetail mungkin apa yang dibanggakan dari seorang Kartini. Namun bu, pengetahuan lebih mendalam justru menimbulkan banyak pertanyaan terhadap keberadaan Ibu. Bolehkah saya bertanya bu?

Ibu, pertanyaan-pertanyaan ini bersumber dari kumpulan Surat yang Ibu kirim kepada nyonya- nyonya belanda yang pada saat ini dikenal dengan “habis gelap terbitlah terang

Pertama…

Dalam surat kepada nona E. H Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899 ada sebuah kalimat yang menyatakan bahwa

“Anak- anak gadis setiap hari pergi meninggalkan rumah untuk belajar di sekolah sudah merupakan pelanggaran besar terhadap adat istiadat negri kami”

Adat istiadat yang Ibu maksud adat istiadat yang mana? Karena kalau Ibu tahu, di dalam Islam (agama yang saya anut dan yakini dari kecil) kewajiban menuntut ilmu diberikan untuk semua manusia, baik wanita maupun laki-laki sebagaimana terdapat dalam perkataan mulia Rasul kami (Rasulullah SAW),

“Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari).
Di Sumatera Barat yang dikenal dengan Ranah Minang juga mempunyai ajaran yang sama di mana setiap orang mempunyai kewajiban menuntut ilmu (orang Minangkabau mempunyai falsafah adat “adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”) yang artinya masyarakat Minangkabau mempunyai pegangan adat yang disandarkan pada Islam. Anak-anak gadis juga diperbolehkan menuntut ilmu ke surau tetapi hanya sampai senja, menjelang Maghrib anak gadis harus sudah berada di rumah. Artinya ketika ibu mengatakan bahwa adat melarang perempuan untuk menuntut ilmu maka bisakah saya pastikan bahwa adat Jawa lah yang menganut ajaran seperti itu? Artinya pernyataan ibu bukanlah representasi dari kondisi perempuan saat itu…

Kedua

Di dalam surat Ibu kepada Nona E. H Zeehandelaar pada tanggal 6 November 1899 Ibu menyatakan bahwa

“Bagaimana seorang laki-laki dan seorang wanita dapat saling mencintai, kalau pertemuan pertama kalinya setelah mereka saling terikat oleh pernikahan secara sungguh-sungguh? Menurutku, saya tidak akan dapat jatuh cinta dengan cara seperti itu, saya tidak dapat menghormati pemuda jawa. Bagaimana saya dapat menghormati seseorang yang sudah menikah dan sudah menjadi bapak, yang apabila sudah bosan kepada istrinya yang lama dapat membawa wanita lain ke dalam rumahnya dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam. Siapa yang tidak melakukan itu? Mengapa orang tidak melakukan itu? Karena hal itu bukan dosa, ajaran Islam sendiri yang mengizinkan laki-laki menikah dengan empat wanita sekaligus. Ajaran Islam yang menyebabkan hal ini tidak boleh disebut dosa menurut hukum dan ajaran Islam. Tapi, saya selamanya akan tetap menganggapnya sebagai dosa.”

Bagaimana seorang Kartini bisa menyatakan hal itu, bukankah Ibu sering mengatakan di dalam surat -surat yang lain bahwa tidak ada alat untuk menambah informasi pengetahuan kecuali lewat balasan- balasan surat dari Belanda. Bagaimana pula seorang yang tidak mengerti isi al-Qur’an karena hanya diberikan dalam bahasa Arab tanpa diterjemahkan bisa memahami Al-Qur’an itu sendiri?

 

Ibu…

Iya benar bahwa Islam mengizinkan seorang laki-laki untuk beristri empat, namun coba kita lihat terlebih dahulu sumber shahih tentang ini. Di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 3 disebutkan:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا ﴿٣﴾

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adilmaka (kawinilah) seorang sajaatau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Ibu…

Di dalam tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa “matsna watssulatsa warubaa'” “dua, tiga atau empat”. Artinya nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang kalian sukai dua, tiga dan silakan empat. Imam Syafi’i berkata: “sunnah Rasulullah yang penjelas bagi firman Allah, menunjukkan bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang pun selain Rasulullah untuk menghimpun (menikahi) lebih dari empat wanita”. Pembolehan menikahi hingga empat wanita diterangkan lagi dengan potongan ayat berikutnya “dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yaitu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap banyak istri, seperti disebutkan juga Annisa 129.

وَلَن تَسْتَطِيعُوا أَن تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿١٢٩﴾

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Terlihat jelas bahwa Islam tidak sekadar memberikan kesempatan bagi seorang laki-laki untuk beristri lebih dari satu, namun juga menempatkan posisi dari sisi perempuan di mana mereka juga harus mendapatkan hak mereka sehingga disebutkan bahwa jika tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang saja. Hal ini memperlihatkan bahwa Islam tidak serta merta memberi lampu hijau bagi mereka yang ingin poligami, ada syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang melakukan poligami ini.

Ketiga

Di dalam surat Ibu kepada nona E. H Zeehandelaar Ibu menulis bahwa

“Kalau suaminya tidak akan menceraikannya, sampai mati pun wanita itu tidak akan memperoleh hak. Semua untuk laki-laki dan tidak ada sesuatu pun untuk wanita. Itulah ajaran hukum dan ajaran kami.”

Ajaran hukum yang mana ya bu? Setahu saya yang ilmunya dangkal ini, di dalam hukum Islam yang menjadi agama Ibu ada sebuah hak bagi perempuan untuk meminta cerai yang dinamakan dengan gugat cerai. Islam memberikan kesempatan bagi perempuan yang tidak lagi merasakan kenyamanan dalam rumah tangganya dengan hak untuk mengajukan cerai di samping tentu saja perceraian bukanlah hal yang bisa dengan mudah dilakukan.

Mungkin hal inilah yang menginspirasi wanita Indonesia sehingga mulai berani untuk menyatakan kedudukan setara dalam artian yang sebenarnya. Ibu… saya khawatir apa yang Ibu bawa baik diterjemahkan lain oleh kaum perempuan sekarang. Tahukah Ibu? Para sahabiyah yang hidup di zaman Rasulullah adalah perempuan yang luar biasa. Hal ini dikarenakan kedatangan Islam pada masa itu yang akhirnya mengubah paradigma manusia dari jahil menjadi Islamiyah.

Ibu…

Bayi perempuan dikubur hidup-hidup oleh orang tuanya sendiri…

Perempuan dewasa hanya dianggap sebagai makhluk yang menyusahkan karena mereka tidak bisa ikut berperang. Dianggap lemah dan hanya dibutuhkan untuk melampiaskan nafsu semata.

Namun Ibu….

Setelah kedatangan Islam. Perempuan diangkat derajatnya. Masih teringat di benak saya kisah heroik Khansa yang sanggup menumbangkan banyak musuh dengan kekuatan hati bu…Bukan hanya kekuatan fisik. Betapa Bunda Khadijah seorang pedagang yang luar biasa memberi inspirasi, dengan semangatnya mereka tidak hanya berkiprah di rumah, namun mereka sudah menjelajahi hingga ke ranah yang dianggap haram oleh adat istiadat di lingkungan Ibu. Sungguh sangat disayangkan… kalau Ibu membaca kisah mereka pun pasti akan menitikkan air mata bu…

Bagaimana bisa seorang perempuan hamil tua mengantarkan perbekalan dengan melintasi bebatuan terjal menuju gua hira? Kalau bukan karena keikhlasan hati dan keteguhan diri serta kecintaan pada Ilahi tiadalah yang dapat menggerakkan kaki dan hati nya. Ialah Asma binti abu bakar.

Bu… Bagaimana pula bisa seorang Aisyah pada umur yang masih muda 18 tahun telah menjadi panutan dan rujukan bagi para kaum laki-laki dan perempuan? Bukan hanya sekadar tempat untuk “curhat” layaknya seorang wanita zaman sekarang ditempatkan. Namun, lebih besar dari itu, menjadi sumber dari hukum Islam. Beliau bahkan telah menghafalkan seribu hadits bu…

Bu, bukankah sebuah mutiara terindah ketika mendengar seorang Ibu mempersembahkan untuk anaknya sebuah janji yang lebih mulia dari sekadar kebebasan semata, mempersiapkan anaknya, Ibrahim, untuk maju ke medan peperangan, beliau adalah wanita ahli ibadah Ummu Ibrahim Al-Bashariyah.

Ibu…

Adakah pertanyaan di benak Ibu sekarang… ah, itu kan zaman Rasulullah yang memang para perjuangannya merupakan orang-orang terpilih?

Mari kita lihat bu… Perempuan-perempuan luar biasa lainnya,

 

Di ujung pulau Sumatera… lahirlah seorang bayi berhati jernih

Tak pelak tenang membawa damai tatkala memandangnya

saat dewasa.

bukan perhiasan yang dicarinya. Namun senjata berhunus pedang menjadi dambaan

musuh bersautan dihampiri dengan kekuatan

tiada bisa menghalang

karena satu perjuangan

menegakkan syariat Islam

ia lah Cut Meutia

lain lagi di barat Sumatera.

Rahmah elyunusiah namanya

berhati mulia berjiwa surga

tergerak hati bergetar jiwa

tatkala perempuan tiada berharga

maka sekolah adalah kuncinya

pendidikan dijadikan utama

gelar syaikah tarbiyah didapatkannya

bukan karena riya

tapi tiada siapa yang mencoba

merubah paradigma

perempuan pun harus bisa

menjelajahi dunia

dengan buku dan pena

 

terima kasih bu atas waktu ibu untuk sekadar mendengar celotehan anak seumur jagung ini, namun saya yakin waktulah yang akan membuktikan bahwa yang dibutuhkan perempuan bukanlah pengagungan dari manusia akan keberadaannya, namun sekarang yang dibutuhkan adalah penyadaran bahwa perempuan adalah makhluk mulia yang Allah ciptakan untuk menjadi perhiasan dunia, bukan budak dunia..

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 6,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi.
  • Very good and indeed, sometimes, funny.

    Pertama…

    Dalam surat kepada nona E. H Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899 ada sebuah kalimat yang menyatakan bahwa

    “Anak- anak gadis setiap hari pergi meninggalkan rumah untuk belajar di sekolah sudah merupakan pelanggaran besar terhadap adat istiadat negri kami”
    She was obviously talking about women and girls here in Java. Emphasize in Java, not in Islamic context. And nevermind Sumatra. She was talking about Javanese being Javanese as she was a Javanese.

    Bagaimana seorang Kartini bisa menyatakan hal itu, bukankah Ibu sering mengatakan di dalam surat -surat yang lain bahwa tidak ada alat untuk menambah informasi pengetahuan kecuali lewat balasan- balasan surat dari Belanda. Bagaimana pula seorang yang tidak mengerti isi al-Qur’an karena hanya diberikan dalam bahasa Arab tanpa diterjemahkan bisa memahami Al-Qur’an itu sendiri?

    Ibu…

    Iya benar bahwa Islam mengizinkan seorang laki-laki untuk beristri empat, namun coba kita lihat terlebih dahulu sumber shahih tentang ini. Di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 3 disebutkan:

    وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا ﴿٣﴾

    “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
    Quran on polygamy: If you’re worried you’ll screw up otherwise, you can do it. But! Be fair to wives. (4:3) You will never be fair. (4:129). There is not one single verse in the entire Quran which praises polygamy. Not one.

    Terlihat jelas bahwa Islam tidak sekadar memberikan kesempatan bagi seorang laki-laki untuk beristri lebih dari satu, namun juga menempatkan posisi dari sisi perempuan di mana mereka juga harus mendapatkan hak mereka sehingga disebutkan bahwa jika tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang saja. Hal ini memperlihatkan bahwa Islam tidak serta merta memberi lampu hijau bagi mereka yang ingin poligami, ada syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang melakukan poligami ini.
    >>> You actually should do a research before, about the polygamy among Javanese nobles. There are terms like; garwa padmi and garwa istri. Totally not Islamic, IMHO and that was she questioning about, as like what I mentioned before, because she was Javanese and was born and raised as what so called as Javanese Princess.

    You missed a point and totally lost in the context. Kartini was talking about JAVANESE, not in the context of Islamic World or something. You wrote on a very larger scope. Do a research how Javanese implemented the values of women in Islamic point of view.

    She was not able to have some research on how Muslim women fought and braved themselves as at past we didnt have what so called as internet connection. She was talking about Javanese, her life as a Javanese woman and a wife for a Javanese man. You probably do not know that she couldnt go to Netherland to study because her father didnt allow her to. It was actually her trigger to write way much letters abroad.

    Just saying.

  • yap memang seperti itu nyatanya. sy dah baca tuh habis gelap terbitlah terang

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: lensaindonesia.com)

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba