01:44 - Sabtu, 22 November 2014

Kisah Cinta Sejati

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Gilang Eka Putra Z - 12/12/12 | 19:30 | 28 Muharram 1434 H

Ilustrasi (kawanimut)

Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com – Siapa yang berkata bahwa kisah cinta sejati terbaik di muka bumi ini adalah roman antara Romeo dan Juliet karya William Shakepeare, sesungguhnya belum pernah mendengar kisah cinta Ali bin Abi Thalib RA, sang pemuda cekatan yang cinta akan ilmu dan putri Sang Rasulullah Sallahu ‘alaihi Wasallam sendiri, si wanita tegar yang lembut, Fatimah Az zahra. Pasti, karena kisah Romeo dan Juliet tak lebih dari sebuah roman yang dilukis di atas kertas. Berbanding terbalik dengan kisah yang dilandasi iman dan cinta pada Allah Subhanahu wata’alla dan ini benar-benar terjadi sekitar 14 abad silam menghiasi indahnya langit jazirah Arab pada masa itu.

Cinta Ali pada Fatimah bukan cinta konyol yang bisa dengan mudah terlontar begitu saja, namun sebuah cinta yang dihiasi proses kedewasaan di balik umurnya yang masih muda. Cinta yang disimpannya begitu rapat, yang ia sendiri tak yakin itu cinta, sampai suatu saat perasaannya diuji.

Ada seorang lelaki luar biasa datang kepada Rasulullah. Seorang sahabat yang membenarkan peristiwa Isra’ mi’raj Rasulullah dan oleh karenanya diberi gelar oleh Rasulullah “ash-siddiq”. Ya, Sahabat yang lahir dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah, atau lebih dikenal sebagai Abu Bakar Ash-Siddiq, telah melamar putri Sang Rasul. Hati Ali bergetar, namun tak serta merta membuatnya bergerak tak terarah.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Ali sadar, bahwa kedudukan Abu Bakar jauh lebih baik dari dirinya. Walaupun Abu bakar bukan kerabat dekat Nabi seperti Ali, namun hal itu tidak penting. Karena cinta Abu Bakar pada Rasulullah begitu besar. Ia yang menemani Rasulullah ketika hijrah, dan rela kakinya diracuni seekor ular dan menahan perihnya tanpa bersuara agar Rasulullah tidak terjaga dari tidurnya hingga air matanya tanpa ia sadari menetes ke pipi nabi. Sedangkan Ali merasa tidak sebanding dengan itu yang hanya menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya. Ia sudah rela jika memang jodoh Fatimah adalah abu bakar ia siap untuk mundur, karena inilah ukhuwah yang jauh lebih indah dari cinta yang dirasanya sekarang. Ia lebih mendahulukan kebahagiaan Fatimah atas cintanya. Namun ternyata lamaran Abu  Bakar di tolak.

Benih-benih cinta itu mulai bersemai kembali, dalam diam dan tenang ia mempersiapkan diri. Kelak suatu saat waktunya akan tiba. Dalam diam ia tetap menjaga cintanya. Ya, dalam diamnya pada dunia. Tidak mengumbar apa yang ada di hatinya. Cukup keheningan seperempat malam terakhir dan tahajudnya yang tahu akan cintanya pada sang putri Rasul.

Lagi-lagi cintanya di uji, kini seseorang yang tak kalah luar biasa kembali datang menghadap Rasulullah dan menyatakan niat untuk melamar Fatimah. Lelaki yang jikalau syeitan mendengar langkah kakinya maka ia akan lari terbirit birit. Sang Al Farruq, Umar ibn Al Khattab. Pembeda antara hak dan yang bathil. Lelaki yang membuat dakwah Islam jauh lebih terbuka dan terang terangan. Memang, jika dibanding dengan Ali, Umar termasuk yang terakhir memeluk Islam. Tapi semangatnya mengejar ketinggalan, dan gegap gempita sabetan pedangnya yang konon hanya sanggup dibawa oleh sepuluh orang ini membuat Ali kecut. Lagi-lagi Ali meng-itsar-kan cintanya pada saudara nya Umar. Ia yakin Fatimah akan jauh lebih aman bersama Umar. Dan ia ridha akan itu.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan, Yang ini pengorbanan.

Lagi-lagi lamaran ini di tolak. Ali bingung, lelaki seperti apa yang diidamkan Rasulullah menjadi menantunya. Siapa kiranya yang pantas menjadi pendamping Fatimah, dua sahabat terbaik yang datang tak menemukan apa yang diinginkan. Ali jadi ragu, akankah ia bisa? Dibuang jauh-jauh perasaan itu, ia maju ke medan peperangan cinta ini. Karena cinta tak menanti, ia ada jika kesempatan mempersilakan, dan Ali mengambil kesempatan itu. Dengan modal harta yang apa adanya ia datang, hanya seperangkat baju besi yang biasa ia pakai berperang menjadi modalnya. Ia sampaikan tujuan nya pada Rasulullah. Nabi tersenyum kecil, dan berkata “Ahlan wa sahlan”. Lamaran bersambut.

Ali lah yang memenangkan peperangan ini. Ia bukan berperang dengan abu bakar atau Umar dalam memperebutkan sang gadis pujaan. Lebih besar lagi, ia berperang melawan hawa nafsunya. Ia memenangkan hatinya sendiri, dari keraguan dan bisikan keputusasaan. Dalam ujian hati ini, ia terus diam. Tak ada salah tingkah, tak ada syair-syair rindu, tak ada ratap sedih kegalauan. Ia menang dan maju sebagai lelaki sejati, menawarkan cinta berlandaskan keimanan pada sang Ayah Fatimah.

Akhirnya Ali menikahi Fatimah. Tanpa janji-janji, tanpa penantian yang tak berujung, tanpa harapan kosong yang dengan mudah diumbar. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Sahabatku, inilah cinta sejati, inilah cinta yang hakiki. Cinta yang disimpan dalam-dalam di ruang hati, hanya Sang Pemilik cinta yang tahu akan rasa itu. Mungkin ia gadis yang kita cintai, atau pemuda itu yang kita dambakan. Namun, sungguh tak perlu rasanya ia tahu sebelum masanya tiba. Biarlah ia menunggu, sebagaimana Fatimah menunggu hadirnya cinta yang ia nanti. Atau jika kau lebih berani, jadilah Ali. Yang tak mengumbar janji dan maju melamar sang bidadari. Wallahu’alam.

Tentang Gilang Eka Putra Z

Mahasiswa Politeknik Negeri Padang Unand angkatan 2010. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (29 orang menilai, rata-rata: 9,41 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Rita Secha

    MasyaAllah kisah yg indah… Bisa menjadi inspirasi
    Do’a …ikhtiar…do’a

  • Reza Iph

    seandainya muda mudi islam sadar akan cerita ini alangkah indahnya dunia islam

Iklan negatif? Laporkan!
96 queries in 1,831 seconds.