Home / Berita / Silaturahim / SERUMPUN2: Perlunya Standarisasi Bahasa Nusantara

SERUMPUN2: Perlunya Standarisasi Bahasa Nusantara

(Abi Mumtaz)

dakwatuna.comUntuk kedua kalinya, kampus biru Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) menjadi saksi diselenggarakannya kegiatan Seminar Penulisan Putra Putri Nusantara (SERUMPUN2) pada 4 November 2012. Acara akbar yang digagas oleh Forum Tarbiyah (FOTAR) IIUM ini diikuti lebih dari 200 orang pecinta dunia penulisan dari negeri-negeri serumpun –Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

Acara SERUMPUN2 diresmikan oleh Prof. Rusdi, MA., Ph.D, Atase Pendidikan KBRI KL yang ditandai dengan peluncuran buku terbaru karya Alwi Alatas dan Maryam Qonitat. SERUMPUN2 tahun ini menjadi lebih meriah karena empat orang pembicara secara khusus didatangkan mewakili 4 negara serumpun, yakni Salim A Fillah (Indonesia), Suratman Markasan (Singapura), Ummu Hani (Malaysia) dan Dr. Zabrina A Bakar (Malaysia).

“Seminar ini adalah acara tahunan yang kedua kalinya diselenggarakan FOTAR IIUM, setelah pada tahun yang lalu kami berhasil menggelar acara serupa menghadirkan Habiburrahman Al-Syirazie, Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia,” ujar Hambari Nursalam, Ketua FOTAR IIUM. Tak hanya itu, SERUMPUN2 tahun ini turut diramaikan dengan masuknya perwakilan Singapura dan Brunei Darussalam ke dalam kepanitiaan dan pengisi acara, di samping Indonesia dan Malaysia, tambah Muhammad Hadi, Ketua Panitia SERUMPUN2 FOTAR IIUM.

Menariknya, SERUMPUN2 juga dihadiri oleh pejabat dari Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dan pejabat KBRI KL. Dalam sambutannya, Dr. Awang Sariyan, yang juga sebagai Ketua Pengarah Dewan Bahasa Pustaka Malaysia, menyambut positif dan mendukung penuh terselenggaranya seminar penulisan SERUMPUN ini. “Gerakan SERUMPUN FOTAR ini adalah sangat penting bagi mengekalkan persatuan bahasa Melayu di bumi Nusantara serta menambah senarai tulisan dunia menuju kecemerlangan tamaddun Melayu”, ungkapnya. Beliau juga mengisahkan bahwa kebesaran Islam masa lalu tak lepas dari karya-karya besar para Ulama yang mampu menuliskan ilmu secara massif dan dalam. Akhirnya, beliau sangat berharap khususnya kepada FOTAR IIUM agar dapat menjadi pusat pengembangan kajian bahasa Nusantara dan dengan ini pihaknya, (Dewan Bahasa dan Pustaka) siap mendukung dan membantu mensukseskannya.

Suasana yang hening sejenak hingar tatkala Bapak Suryana Sastradiredja menyampaikan sambutannya mewakili Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Malaysia. Beliau berkelakar bahwa beliau pun adalah pakar sastra yang ditunjukkan kata “sastra” di dalam namanya. Dalam sambutannya, beliau menekankan dua poin penting, yaitu: pertama, Malaysia tengah mengalami krisis bahasa dibuktikan dengan semakin banyaknya penggunaan bahasa Inggris dalam percakapan, termasuk dalam penulisan iklan-iklan berbahasa Inggris. Kedua, beliau menjelaskan bahwa definisi Nusantara dalam pemahaman Indonesia dan Malaysia adalah berbeda. Menurut beliau, yang juga sebagai Minister Konselor Bidang Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI KL ini, Nusantara versi Indonesia adalah Sabang-Merauke, sementara Malaysia berdasar pada kesamaan penutur Melayu, termasuk Indonesia. Beliau kembali menegaskan bahwa Indonesia bukan Melayu karena penutur Melayu hanya sebagian saja dari populasi di Indonesia.

Namun demikian, Suryana menyarankan kepada Indonesia dan Malaysia untuk melakukan standarisasi bahasa sebagai alat komunikasi. Beliau mengamati bahwa 70 persen orang Indonesia paham bahasa Melayu, namun hanya sebagian kecil orang Melayu paham bahasa Indonesia. Dewan Bahasa dan Pustaka kedua negara disarankan melakukan diskusi yang intensif agar kedua bahasa, Indonesia dan Melayu bisa secara luas dipahami dan dikomunikasikan oleh dua negara serumpun itu. Pada akhirnya, apakah bahasa Melayu mengikuti bahasa Indonesia, atau sebaliknya, adalah tugas kedua dewan bahasa dan pustaka untuk mengkajinya secara lebih komprehensif.

Dalam kurun waktu 4 jam, peserta diajak memahami hakikat dan sumber motivasi menulis yang menjadi rahasia dari para pembicara sehingga mereka terus konsisten dalam berkarya. Intinya, “menulis adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT yang memiliki nilai positif dan dampak yang besar kepada generasi muda, khususnya yang haus akan nasihat-nasihat hikmah” demikian moderator diskusi, Ali Rakhman, menyimpulkan.

Mengingat pentingnya pembudayaan semangat menulis dalam bingkai keserumpunan ini serta solidnya dukungan KBRI dan Dewan Pustaka Malaysia, maka FOTAR IIUM terus berkomitmen dan berencana untuk menggelar acara SERUMPUN3, tahun depan. Insya Allah. (Dimas Kusuma/Abi Mumtaz)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Mohammad Natsir

Jas Bertambal; Mohammad Natsir, Mencintai Indonesia, Dicintai Negeri Asing

Organization