Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Membangun Budaya Komunikasi

Membangun Budaya Komunikasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Akhir-akhir ini, menyedihkan memang. Pasca Ramadhan kita umat Islam langsung didera berita-berita yang mendiskreditkan ajaran Islam. Setelah sebelumnya mencuat isu sertifikasi ulama, lalu berita yang memancing munculnya anggapan bahwa terorisme bersarang di Rohis. Sungguh benar, kita sebagai umat Islam tidak bisa berdiam diri menyikapi isu-isu miring tersebut. Namun sungguh benar pula bahwa kita perlu langkah yang tepat untuk menyikapi tudingan-tudingan yang bila disikapi secara tidak tepat malah akan membuat keadaan jadi lebih buruk. Kita perlu cara berkomunikasi yang tepat untuk menanggapi tudingan agar masyarakat (yang mayoritas Islam ini) tidak malah antipati terhadap agamanya sendiri. Salah satunya adalah dengan melestarikan kembali cara Rasulullah dalam berkomunikasi.

Berabad-abad silam, Rasulullah saw pernah berpesan “Sampaikanlah walau hanya satu ayat!” Pesan Rasul itu pun terus diamalkan oleh para ‘ulama di seluruh penjuru dunia hingga akhir hayat mereka datang. Pesan Rasulullah tersebut dijaga dari generasi ke generasi. Semenjak generasi para sahabat, hingga generasi sekarang. Familiarnya hadits tersebut di negeri ini seakan menjadi sebuah tradisi, sampai telinga kita terbiasa mendengar istilah ‘Mubaligh’. Hingga saat ini di Indonesia, penceramah biasa disebut dengan istilah mubaligh. Demikianlah masyarakat menyebutnya, tanpa ada sertifikasi maupun standarisasi dari lembaga keagamaan. Guru ngaji disebut ustadz/ustadzah, bila punya pesantren jadi biasa disebut Kiyai. Dan, pengakuan masyarakat akan kedalaman ilmu serta kemuliaan akhlaqnya memberi mereka sebutan “ulama”.

Benarlah adanya bahwa pemimpin negara akan berpengaruh terhadap kehidupan beragama. Pada zaman Orde Lama dan Orde Baru para mubaligh sangat dibatasi keberadaannya, sehingga tak lagi memiliki keleluasaan dalam menyampaikan. Begitu pula para ustadz/ustadzah yang sangat dibatasi pergerakannya, sehingga tidak leluasa dalam mengajarkan Islam pada putra-putri tanah air ini. Alhasil, mulai lunturlah tradisi “Sampaikanlah walau hanya satu ayat!” di negeri ini. Era berikutnya, yang terjadi adalah sebaliknya. Reformasi membuka pintu kebebasan selebar-lebarnya, dan salah satunya adalah dalam hal media. Namun yang terjadi adalah ‘kemerdekaan’ berkomunikasi yang dimanfaatkan oleh kaum anti-Islam yang memanfaatkan momen ini untuk menguasai permediaan, dan menyebarkan isu-isu yang membuat masyarakat beranggapan negatif terhadap Islam. Sementara, di sisi lain para aktivis muslim kita tampaknya belum siap untuk berjuang dengan media (untuk mengimbangi media). Hal ini terlihat dari minimnya media yang pro-Islam di tengah-tengah dominannya media yang tak berpihak pada Islam. Seperti MQTV yang nyempil di tengah-tengah kekuatan Trans Corp., MNC Group, dan Viva Group.

Dua isu media yang terakhir cukup mengejutkan dalam sela waktu yang begitu singkat. Saat topik “Sertifikasi Ulama” masih hangat untuk dibahas, sebuah media swasta mengangkat tajuk “Rohis Sebagai Sarang Utama Perekrutan Terorisme”. Dua isu nasional yang belum sempat diimbangi oleh media-media Islam, bahkan sepertinya Citizen Journalism pun belum sampai mengimbanginya. Bisa dilihat sendiri, orang-orang melalui social media sekadar mengomentari artikel tentang dua isu tadi. Namun belum ramai yang mencantumkan link-link artikel yang mampu mengimbangi. Setidaknya ada 2 anggapan yang dapat kita cermati: kemunculan isu yang cepat sehingga pelaku Citizen Journalism belum mampu mengimbangi, dan aktivis muslim memang kekurangan jurnalis.

Pertama, kemunculan isu yang begitu cepat. Begitu cepatnya sehingga saat para jurnalis dadakan (citizen journalist) hendak mengimbangi isu tersebut, muncul isu baru. Berita yang mengimbangi belum banyak terbit, sudah muncul isu baru yang segera memasyarakat. Kedua, kekurangan jurnalis. Selain tak memiliki mesin media yang kuat dan mampu menyentuh banyak orang, pembuat berita pun jumlahnya masih kurang. Saat-saat terbit isu-isu miring seperti dua isu tadi, diperlukan orang-orang yang amat sensitif terhadap keadaan untuk bisa segera menerbitkan isu segar yang mampu mengimbangi. Misalnya saja untuk isu miring tentang Rohis baru-baru ini, dalam mengimbanginya diperlukan orang-orang yang amat peka terhadap situasi untuk segera meramu berita hangat.

Agaknya sulit untuk berharap pada media mapan seperti TV, Radio, dan Koran untuk merespon. Pemasukan uang dan kepentingan politis masih mendominasi kebijakan-kebijakan petinggi media dalam memilah-milih naskah berita. Jadi, langkah paling memungkinkan adalah menggerakkan para penulis untuk vokal menerbitkan info-info ke masyarakat. Novelis dengan novelnya, cerpenis dengan cerpennya, peneliti dengan hasil penelitiannya, wartawan dengan kabarnya, begitu juga jurnalis dengan beritanya.

Sekarang, setidaknya dua isu ini dapat membuat kita belajar tentang betapa pentingnya mengamalkan hadits tadi. Sangat penting untuk vokal dalam menyampaikan pesan, namun tentunya dengan mengindahkan adab-adab dalam berkomunikasi. Terlebih lagi sekarang kita sudah memasuki era teknologi informasi di mana komunikasi seperti tidak berbatas. Di era sekarang ini, cukup wajar bila kita butuh lebih banyak penulis, jurnalis, dan media yang aktif mensosialisasikan ‘pro-Islam’. Tak bisa sekadar mengandalkan media-media yang ada dan hanya berharap mereka akan memberitakan kabar-kabar yang membuat orang simpatik terhadap Islam. Memang kita yang perlu ikut memberitakan.

Banyak hal yang dapat kita lakukan, namun apapun itu, intinya adalah mengkomunikasikan. Tepatnya mengkomunikasikan betapa mulianya ajaran Islam. Bisa melalui obrolan sehari-hari, tulisan, penelitian, berita, film, iklan, kampanye damai (baiknya bukan demo yang sampai mengganggu ketertiban lalu lintas dan bikin macet), dan lain-lain. Kita perlu langkah yang lebih kongkret, yang dapat dirasakan langsung oleh orang-orang. Bila kita difitnah sebagai penebar teror, buktikanlah bahwa ajaran Islam mengajarkan kita untuk menebar kasih sayang. Sampaikanlah hikmah bahwa umat Islam bukanlah teroris. Sampaikanlah hikmah bahwa masjid bukanlah sarang terorisme.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (Q.S. 41: 33-35). Wallahua’lambishawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Adit Purana
Seorang warga dari pinggir Kota Bandung yang gemar jalan-jalan menelusuri hiruk-pikuk kehidupan di negeri ini, terutama sisi lain kehidupan pinggiran yang jauh dari popularitas. Selalu tertarik dengan tema Kesederhanaan dan Kebersahajaan. Penikmat Bus DAMRI yang suka naik angkot. Setelah merampungkan sekolah Psikologi jenjang S-1, melanjutkan studi untuk bidang yang lebih spesifik: Magister Psikologi Sosial. Menjalani keseharian dengan beraktivitas di bidang sosial melalui forum-forum, komunitas, dan tim kecil.

Lihat Juga

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia