06:31 - Minggu, 26 Mei 2013
Nina Mariana

Aku dan Malam Seribu Bulan

Rubrik: Puisi dan Syair | Oleh: Nina Mariana - 21/08/12 | 09:30 | 03 Shawwal 1433 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Pada penghujung purnama, adakah yang lebih kunantikan?
Penjelajah belantara dengan cahaya redup
Nestapa dalam secawan yang sulit terabaikan
Kali ini hanya pengharapan dari janji-janji kalam-Mu
Dan kaki-kaki lelah pun terus berjalan kearah-Mu
Tangan-tangan terangkat mencari dalam suram

Aku dan malam seribu bulan
Pertemuannya bagai dahaga di sahara
Kerinduan yang sampai
Ada ketenangan dalam lautan tanpa ombak
Tanpa gemuruh terpaan angin
Cahayanya pun paling terang kadang tampak merona
Keistimewaannya adalah hanya tampak olehku, tidak oleh pandangan yang lain
Menutupi awan kelabu, menghapus gumpalan gulitaku…sekejap  saja
Namun.. sisa terangnya akan selalu menggeliat di hati, karena itulah… malam seribu bulan

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dhukan: 3)

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 8,67 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
62 queries in 0,699 seconds.