Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Aku dan Malam Seribu Bulan

Aku dan Malam Seribu Bulan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Pada penghujung purnama, adakah yang lebih kunantikan?
Penjelajah belantara dengan cahaya redup
Nestapa dalam secawan yang sulit terabaikan
Kali ini hanya pengharapan dari janji-janji kalam-Mu
Dan kaki-kaki lelah pun terus berjalan kearah-Mu
Tangan-tangan terangkat mencari dalam suram

Aku dan malam seribu bulan
Pertemuannya bagai dahaga di sahara
Kerinduan yang sampai
Ada ketenangan dalam lautan tanpa ombak
Tanpa gemuruh terpaan angin
Cahayanya pun paling terang kadang tampak merona
Keistimewaannya adalah hanya tampak olehku, tidak oleh pandangan yang lain
Menutupi awan kelabu, menghapus gumpalan gulitaku…sekejap  saja
Namun.. sisa terangnya akan selalu menggeliat di hati, karena itulah… malam seribu bulan

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dhukan: 3)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nina Mariana

Lihat Juga

Cahaya Islam yang Hilang ke Negeri Sakura