14:47 - Kamis, 23 Oktober 2014

Dai yang Mujahid, Asy-Syahid Muhammad Farghali (bagian ke-4, Selesai)

Rubrik: Sejarah Islam | Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah - 18/06/12 | 08:30 | 28 Rajab 1433 H

(kispa.org)

dakwatuna.com - Majalah ‘Rauz al-Yusuf’mempublikasikan sebuah wawancara panjang antara Syaikh Farghali dengan reporter majalah tersebut, dan menggambarkan syeikh Farghali sebagai sosok misterius yang sangat diperhitungkan oleh Inggris. Dalam wawancara yang dengan majalah tersebut, Syeikh Farghali berkata, “Ikhwanul Muslimin tidak bisa menghentikan serangannya terhadap Inggris sehingga kekuatan militer Inggris hengkang dari bumi Mesir. Maka cara terbaik yang dapat dilakukan Inggris untuk melindungi prajuritnya adalah menarik mereka dari wilayah Terusan Suez.”

Itulah Syeikh Muhammad Farghali yang saya kenal sejak saya duduk di tahun pertama Universitas Al-Azhar hingga menamatkan pendidikanku di sana. Inilah sang pahlawan pemberani itu yang berhasil menggentarkan nyali orang-orang Yahudi dan Inggris. Demikianlah sejarah perjalanan hidupnya yang wangi semerbak tercatat dengan tinta emas.

Saksikan pula sang tiran, Abdul Nasser yang dengan sukarela menyerahkan kepala Syaikh Muhammad Farghali ke tiang gantungan untuk memenuhi dahaga majikannya; Yahudi, Inggris, Amerika dan Rusia, sebagai hadiah gratis bersama lima sahabatnya yang lain yang mereka hukum gantung pada tanggal 7 Desember 1954.

Namun di atas tiang gantungan itu, kepala Syeikh Al-Mujahid, Muhammad Farghali tetap tegak, tersenyum dalam keberanian, gembira dengan iman, sembari mengulang-ulang ucapan para pendahulunya yang juga telah menuai syahadahnya, “Dan aku bergegas kembali kepada-Mu, Tuhanku, agar Engkau ridha.” Salah satu ucapannya yang terkenal adalah, “Sesungguhnya saya selalu siap menghadapi kematian, bahagia berjumpa dengan Allah Ta’ala”. BenarlahfirmanAllah Azza wa Jalla yang mengatakan:

من المؤمنين رجال صدقوا ما عاهدوا الله عليه فمنهم من قضى”نحبه ومنهم من ينتظر وما بدلوا تبديلا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)

Salah satu majalah Prancis ‘Bari Matish’, terbit pada tanggal 8 Desember 1954, menulis catatan peristiwa berikut ini: “Pada jam 6 pagi kemarin, 7 Desember 1954, bendera hitam dikibarkan di dalam penjara Kairo, dimana para terdakwa yang akan dijatuhi hukuman mati digiring ke tiang gantungan dengan kaki telanjang dan baju eksekusi berwarna merah. Hukuman gantung itu dijatuhkan kepada enam orang Ikhwanul Muslimin, mereka adalah: Mahmud Abdul Lathif, Yusuf Thal’at, Handawi Duwair, Ibrahim ath-Thayyib, Muhammad Farghali dan Abdul Qadir Audah, pada jam 8 pagi.

Mereka yang dijatuhi hukuman gantung itu berjalan menuju tiang gantungan dengan gagah berani. Seraya memuji Allah Ta’ala atas apa yang akan mereka peroleh berupa kemuliaan mati syahid. Syeikh Muhammad Farghali berkata, “Saya sungguh siap menjemput kematian, bahagia menyambut pertemuan dengan Allah Ta’ala.”

Seluruh negara-negara Arab dan Islam sangat marah dan murka mendengar eksekusi tersebut. Negeri-negeri Syam dan beberapa negara Arab mengumumkan sebagai hari berkabung atas kematian enam anggota Ikhwanul Muslimin. Salah satu komentar terkait eksekusi tersebut disampaikan oleh ustadz Ali Thanthawi di Damaskus dan disebarluaskan oleh media massa Arab Islam. Beliau berkata:

“Andai saja perkara ini milikku, niscaya saya takkan menjadikannya sebagai hari berkabung, tapi saya jadikan sebagai hari bahagia dan kegembiraan. Saya tidak menjadikannya sebagai tempat berkumpul orang yang berduka, tapi pesta pernikahan para syuhada dengan bidadari surga. Saya juga takkan duduk bersama Ikhwan menerima ucapan duka cita dan belasungkawa, tapi ucapan selamat.

Adakah harapan seorang Muslim selain mati syahid? Dan adakah ia meminta kebaikan selain husnul khatimah? Sesungguhnya saya –dan Allah menjadi saksi atas apa yang saya ucapkan- sangat berharap kematianku berada di tangan orang yang zhalim pendosa, lalu saya berjalan menuju surga sebagai syahid, dan pembunuhku berjalan menuju neraka. Saya peroleh kebahagiaan sebagai ganjaran bagiku, dan ia dapatkan derita karena ia timpakan siksaan bagiku. Seperti itulah siksaan Allah dan bukan siksaanmu, wahai Jamal. Siksaan dari Yang Maha Penolong bagi para wali-Nya. Yang Maha Kuasa atas segala musuh-musuh-Nya.

Di hadapan-Nya kelak engkau akan berdiri tanpa seorang pun bersamamu. Tidak ada pasukan, tank lapis baja, senjata atau perbekalan bersamamu. Engkau akan digiring satu-persatu ke hadapan-Nya, agar Ia tanyakan kepadamu darah suci yang engkau tumpahkan itu. Tentang jiwa-jiwa suci mengapa engkau bunuh? Tentang wanita-wanita muslimah yang senantiasa taat dan sabar, mengapa engkau jadikan mereka sebagai janda? Tentang anak-anak tak berdosa, mengapa engkau jadikan mereka sebagai yatim? Tentang jamaah dai yang menyeru kepada Allah Ta’ala, mengapa engkau jadikan mereka musuh Allah dan Rasul-Nya?

Syaikh Muhammad Farghali (kispa.org)

Bila engkau ingin membela diri, maka siapkanlah dari sekarang, agar engkau tunjukkan kelak di hadapan pengadilan Allah Yang Maha Perkasa. Yang tidak menghukum dengan hukuman gantung, tapi dengan kehidupan abadi di dalam neraka. Dimana hukuman gantung itu ribuan kali jauh lebih kecil daripada siksa di dalamnya walau sedetik saja. Hari dimana tidak bermanfaat lagi harta, anak-anak, kelompok, pembantu, pedang, atau kekuasaan. Hari dimana timbangan berganti dan standar penilaian berubah, dan keutamaan itu milik yang utama, kepemimpinan untuk orang shalih. Derajat para raja akan turun, dan kedudukan rakyat jelata dinaikkan. Hari dimana penyeru akan berseru, “Milik siapakah kekuasaan hari ini?” Apakah kekuasaan hari itu milik para tiran? Milik para mayor? Apakah ia milik istana Backingham, Gedung Putih dan Kremlin? Tidak! Kekuasaan hari itu adalah milik Allah Azza wa Jalla Yang Maha Perkasa.

Apakah engkau akan temukan jalan yang tidak membawamu ke Padang Mahsyar, atau tempat yang tiada hisab untukmu? Apakah engkau tahu ada penguasa lain tempat engkau kembali kelak? Negeri Mesir telah diperintah oleh orang sebelum engkau; Faruq dan raja-raja Mamalik [1]. Dan sebelum mereka, negeri ini diperintah oleh Fir’aun dan Haman. Sekarang, di manakah kini Faruq, raja Mamalik dan Fir’aun?  Manakah gerangan orang yang telah berbuat zhalim, melampaui batas dan berkata, “Saya adalah Tuhanmu yang maha tinggi? Mereka semua telah berada dalam rombongan malaikat Izrail, diiringi doa dan kutukan orang-orang yang teraniaya.”

Semoga Allah Ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada asy-syahid, Syeikh Muhammad Farghali bersama para syuhada yang dihukum gantung bersamanya, dan orang-orang yang telah mendahului mereka. Semoga Allah senantiasa merahmati kita dan mengumpulkan kita dengan mereka pada kedudukan yang benar, di sisi Allah, Raja Yang Maha Perkasa. Al-hamdulillah Robbal ‘Alamin.

– Selesai

(hdn)


Catatan Kaki:

[1] Raja yang berasal dari keturunan budak

Tentang Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (5 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
60 queries in 1,748 seconds.