Home / Berita / Opini / Sosialis – Religius

Sosialis – Religius

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Dalam mewujudkan sila ke lima dari Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka diperlukan pemikiran yang berbasis pada kerakyatan. Pemikiran tersebut memperjuangkan hak dan berusaha untuk melayani masyarakat tataran bawah. Pemikiran ini sedikit mengenyampingkan kepentingan kaum elit yang ada di negara ini dan lebih pro terhadap rakyat. Pemikiran seperti ini sangat dibutuhkan, mengingat kondisi masyarakat di tataran bawah saat ini sungguh memprihatinkan.

Sosialis religius adalah pemikiran yang menggalang kekuatan untuk memperjuangkan nasib masyarakat kecil dengan berlandaskan pada dimensi religiusitas. Ideologi ini menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dengan berlandaskan pada nilai-nilai keagamaan atau ketuhanan. Sehingga batasan dari pemikiran ini adalah nilai-nilai ketuhanan yang notabanenya tidak bisa diganggu gugat.

Pemikiran ini sudah lama berkembang yaitu sejak zamannya HOS Tjokroaminoto. Beliau menuliskan ide Sosialis – religius ke dalam karyanya yaitu buku yang berjudul Islam dan sosialis. Beliau meyakini bahwa nilai-nilai sosial itu sudah ada di dalam Islam. Sehingga yang perlu dilakukan adalah mengejawantahkan nilai-nilai Islam ke dalam bentuk nilai-nilai sosial. Bentuk nilai-nilai sosial seperti kemanusiaan, persatuan, keadilan, kesejahteraan sesungguhnya merupakan nilai-nilai yang lahir dari nilai ketuhanan. Sehingga tidak perlu adanya pemisahan antara ketuhanan dan sosial, atau antara Islam dan sosialis.

Singkatnya pemikiran ini bisa dikatakan sebagai anti thesis dari pemikiran kapitalisme yang sangat pro terhadap kaum elit yang menindas kaum proletar. Karena dapat dikatakan bahwa kapitalisme sangat tidak bersesuaian dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Sehingga perlu dihidupkan kembali pemikiran yang pro terhadap rakyat dan berlandaskan pada nilai-nilai keagamaan.

Ideologi Kerakyatan

Sedikit melihat kondisi kekinian bangsa Indonesia. Masyarakat saat ini hanya dijadikan korban oleh para elit yang notabanenya memiliki kekuatan di berbagai aspek. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh pemerintah yang diharapkan akan membela rakyat bawah, malah tidak bisa berbuat banyak. Hal ini tidak terlepas dari kekuatan para kaum elit yang mengintervensi pemerintah. Pemerintah pun sudah bersikap pragmatis terhadap kondisi bangsa Indonesia saat ini. Sehingga para kaum elit berkuasa dan menindas masyarakat tataran bawah. Mereka seenaknya mengatur kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh pemerintah agar tercapai hal-hal yang mereka inginkan. Sehingga sangat jelas bahwa sebagian besar kaum elit saat ini sangat tidak peduli terhadap kondisi masyarakat tataran bawah.

Ketika kita cermati lebih mendalam, terjadi distorsi ideologi pada para elit bangsa ini. Ideologi disimpan rapat-rapat di dalam lemari kaca dan hanya menjadi pajangan. Sedangkan dalam menjalankan kehidupan, mereka menggunakan keuntungan sebagai landasan baru dalam hidup. Saat ini sangat sedikit orang yang berpihak pada rakyat, kebanyakan dari mereka lebih mendahulukan kepentingan dan keuntungan pribadi serta kelompok dari pada kepentingan masyarakat.

Sosialis religius bisa dikatakan sebagai pemikiran yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerakyatan. Dalam mengambil sebuah kebijakan atau sikap, yang menjadi pertimbangan utama adalah efek yang akan timbul pada masyarakat. Berbagai macam hak rakyat Indonesia ditunaikan terlebih dahulu dibandingkan memberikan hak kaum elit yang sarat akan kepentingan. Sikap yang mendahulukan kepentingan rakyat ini, telah hilang dari diri para kaum elit bangsa ini dan sikap inilah yang harus dihidupkan kembali.

Jaminan Akan Keadilan

Sosialis religius merupakan ideologi yang menjamin terciptanya keadilan sosial. Ideologi yang mengakomodir kepentingan kaum proletar (masyarakat bawah) tanpa menghalangi kesempatan untuk berkembangannya para kaum elit. Ideologi ini dibatasi oleh nilai-nilai muamalah yang diajarkan di dalam Islam. Sehingga tidak akan ada yang merasa dirugikan, baik kaum elit ataupun kaum proletar.

Dalam merumuskan sebuah kebijakan, nantinya yang diharapkan adalah ikut andilnya masyarakat dalam menyuarakan hak dan keinginan mereka. Bukan hanya itu, pemerintah juga harus memfasilitasi para kaum elit untuk menyalurkan apa yang ingin mereka lakukan ke depan. Sehingga di sini peran pemerintah sebagai pembuat kebijakan sangat penting, terutama sebagai fasilitator antar masyarakat dan kaum elit. Pemerintah harus memperhatikan konsensus kedua pihak ini agar kebijakan yang dibuat nantinya dapat diterima oleh keduanya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Riyan Fajri adalah mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi Swasta di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Sekarang aktif berorganisasi di KAMMI dan saat ini mendapatkan amanah menjadi Ketua Umum KAMMI Madani Periode 2011 - 2012. Kritik dan saran buat penulis, bisa di kirim ke [email protected] atau FB : Riyan Fajri ([email protected])
  • anggoro winindito

    Bagus tulisannya akh. Perlu ditambahkan contoh real agar lebih mantap !

    Sosialis Religius memandang bahwa kecerdasan ialah suatu pemberian Tuhan yang wajib disyukuri. Oleh karena itu Sosialis Religius akan mendermakan sebagian harta yang ia miliki untuk menyokong kehidupan orang-orang yang tidak cerdas dan tidak seberuntung dirinya dalam meraih pekerjaan. Sosialis Religius sangat mendambakan kehidupan yang saling pengertian antara orang-orang yang cerdas dengan orang-orang yang tidak cerdas. Sosialis Religius juga memandang bahwa kesempatan kerja adalah sama untuk setiap orang. Oleh karena itu Sosialis Religius memandang bahwa Zakat Profesi/Pajak Penghasilan yang Proporsional sebagai solusi bersekolah bagi orang-orang yang biasa atau cenderung tidak cerdas ialah sangat penting. Kesempatan bersekolah untuk mendapatkan pekerjaan yang sama-sama layak di masyarakat ! 

  • miawlover

    sosialis-religius? sepertinya malah jadi tidak jelas ya. mau sosialis apa mau religius? yg tegas saja. Anda Muslim? pilih Islam. dan Islam tidak bisa di-mix dengan ideologi lain, baik kapitalisme-sekulerisme-demokrasi atau dengan sosialisme. CMIIW

    • maqsie

      kalau anda berpikir ideologi Islam itu exlusif tdk bisa bergandengan tangan dg ideologi lain, itu salah. jangankan dg sosialisme, bahkan pemikiran karl marx saja ada yg sejalan dg ideologi Islam. coba ingat jaman keemasan Islam dulu, saat itu umat Islam sangat terbuka dg ideologi lain sehingga mereka bisa saling berbagi dan belajar.

    • Pemuda Muhammadiyah Jember

      Tulisan Ini malah mendorong ke arah sinkretisme. Islam sudah jelas konsepnya. Pengaburan dengan istilah sosialis-religius malah membuat kaum Muslimin bingung. Islam itu sempurna, tidak perlu dicampuradukkan dengan ideologi lain. Belajarlah dari Islam, bukan sebaliknya.

  • biasanya ini berawal dari prasangka atau ketidakpahaman si penulis bahwa Islam tidak punya sistem keadilan (dgn kata lain islam tidak lengkap) hingga memerlukan ideologi lain. Sama dengan orang islam-liberal yang berprasangka bahwa islam tidak punya sisi yang membebaskan,mereka mendapatkan pandangan islam dari satu sisi saja dan menganggap itu sebagai kebenaran (ttg islam), padahal kan “kebenaran itu relatif” (kata mereka sendiri)..

  • Mantef artikelnya ..salut banget aku bang.

  • pejuangsyariat

    Tulisan paling ngaco ttg sosialisme yang pernah saya baca

    • Ditunggu tulisan yang “gak ngaco”nya ya Mas Pejuang Syariat? ok?

Lihat Juga

Yusuf Al-Qaradhawi: Allah Selamatkan Peradaban yang Sedang Dibangun Rakyat Turki