Home / Pemuda / Cerpen / Memaksa Sabar

Memaksa Sabar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com / salsabeela)

dakwatuna.com – Sore itu Shafiyyah ingin cepat pulang ke rumah. Ia pun izin untuk pulang terlebih dahulu setelah waktu kerjanya berakhir. Meskipun ada beberapa kerjaan yang belum selesai, ia tetap bertekad ingin pulang. Kelelahan yang membuatnya ingin cepat pulang. Sejak pagi, ia merasakan badannya kurang fit. Namun tidak disangka, ketika ia sudah berada di bus kota. Sayup-sayup terdengar azan Maghrib. Ia sadar bahwa tadi ia pulang pukul setengah enam lewat. Menuju jalan raya, ia harus berjalan kaki selama kurang lebih dua puluh menit, sedangkan waktu Maghrib pukul enam. Jadilah dilanda rasa gelisah karena perjalanan masih jauh sedangkan ia belum menunaikan shalat Maghrib.

Saat di bus, ia terus berdzikir serta berdoa supaya diizinkan untuk dapat melaksanakan shalat Maghrib. Ia lihat jalanan agak macet sehingga perjalanan sedikit terhambat. Hari semakin gelap. Sudah gelisah, ditambah oleh ulah sopir bus yang seenaknya menurunkan penumpang dan menyuruh penumpang untuk berganti bus yang berada di belakangnya.

Shafiyyah terus berdzikir. Sesekali melihat jam yang tertera di hape-nya. Ia berharap supaya detik bergerak lebih lambat dari biasanya. Jarak yang ditempuh sudah semakin dekat dengan lokasi tempat Shafiyyah berganti kendaraan yang kedua. Memang, selama ini Shafiyyah harus berganti angkot dua kali menuju tempat kerjanya.

Dengan tetap merasa gelisah, Shafiyyah turun dari bus dan bergegas mencari lokasi masjid terdekat. Alhamdulillah, ia hafal daerah itu sehingga dengan mudah menemukan sebuah masjid yang sudah tidak asing lagi namun belum pernah dijamah oleh Shafiyyah. Ia langsung menuju ke tempat wudhu wanita setelah sebelumnya bertanya letaknya kepada seorang ibu. Waktu sudah beranjak mendekati Isya, Shafiyyah melaksanakan shalat Maghrib sendirian.

Selesai shalat, Shafiyyah berjalan ke tempat biasa ia menunggu bus. Tempat yang strategis, pikirnya. Karena di lokasi itu, ia bisa menunggu dua bus dengan tujuan berbeda namun sama-sama melewati tempat tinggalnya. Menit demi menit ia lewati penantian itu dengan sabar. Sambil terus berdzikir. Ia amati secara seksama arah datangnya bus yang dinanti. Lama-lama Shafiyyah merasakan lapar yang sangat, ia juga merasa kelelahan dan didera kantuk yang datang bersama. Hampir setengah jam ia menunggu. Tanda-tanda bus datang belum ada. Kemudian ia rasai, bahwa tangis mulai hadir. Ya, Shafiyyah menangis. Bukan menangis karena cengeng. Tapi karena tubuhnya belum terbiasa dengan jadwal baru di tempat bekerja yang mengharuskan ia bangun lebih pagi dan pulang lebih sore ditambah lokasi yang lebih jauh dari sebelumnya.

Di balik masker yang selalu dikenakannya, air matanya terus mengalir. Badannya semakin lemah dirasa. Perutnya mulai sakit karena lapar. Bukan ia tidak punya uang jika langsung membeli makanan atau makan di lokasi terdekat. Namun ia hanya ingin makan di rumahnya, memakan masakan ibunya yang pasti telah menanti untuk dinikmati. Ia takut jika pulang dalam keadaan kenyang, maka masakan sang ibu akan teronggok begitu saja tanpa tersentuh.

Dalam tangisnya, seolah kemarahan membuncah di dadanya. Ia ingin memaki Allah. Memprotes ketidakadilanNya. Mempertanyakan kasih sayangNya. Ya, hanya karena bus yang ditunggunya belum tiba juga. Tapi semua makian tidak ia keluarkan. Ia tetap memaksa untuk berfikir jernih. Ia tetap memaksa dirinya untuk berfikir positif. Ia tetap memaksa dirinya untuk bersabar. Shafiyyah takut, Allah tidak ridha akan dirinya jika ia khilaf memaki Allah. Meskipun dalam dadanya terasa berat menahan tangis.

Shafiyyah sadar, dirinya bukanlah orang suci. Beberapa hari yang lalu, ia mengalami hal yang sama, perlahan ia menyalahkan Allah atas ketidaksesuaian keinginan dan keadaan. Namun hanya sesal yang terjadi setelahnya, ia terus beristighfar. Shafiyyah berfikir, nikmat Allah jauh lebih besar, lebih banyak jika dibandingkan dengan segala cobaan yang Allah berikan. Allah bukan tidak sayang. Hanya Allah sedang melimpahkan kasih sayangNya dengan cara yang berbeda yang insya Allah jika mampu melewatinya dengan baik akan menjadikan suatu pembelajaran. Belajar sabar. Insya Allah.

Akhirnya penantiannya berakhir. Dalam satu waktu, dua bus langsung datang. Ia pun menaiki pun yang terlebih dahulu tiba. Masih dengan merasakan lapar dan badan yang kurang baik, ia memaksa sabar hingga sampai di rumah.

Dan hari ini, Shafiyyah mendapat pelajaran baru mengenai makna sabar yang acap kali terlupakan. Terlihat sepele, teramat sepelenya terkadang kita tidak menyadari jika kita telah mengabaikan kesabaran. Jika dari hal kecil saja kita sudah membiasakan diri untuk bersabar (Insya Allah) maka kita akan terus belajar menggali kesabaran untuk hal yang lebih besar.

“…..maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”  (QS. Yusuf: 18)

Allahua’lam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 8,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Gurun (inet)

Belajar Kesabaran dari Kisah Nabi Nuh