03:21 - Kamis, 02 Oktober 2014
Abi Sabila

Kebaikan yang Menginspirasi

Rubrik: Cerpen | Oleh: Abi Sabila - 03/04/12 | 09:30 | 11 Jumada al-Ula 1433 H

Ilustrasi (megcanavan.wordpress.com)

dakwatuna.com – Bagai sebuah prasasti, nama Rohman dan Rohim terukir indah di hati, karena kebaikannya yang menginspirasi. Dua kakak beradik ini bukanlah kerabatku, bukan pula sahabat dekat, tapi kebaikan mereka akan selalu kuingat.

Sembilan tahun yang lalu, Allah mempertemukanku dengan mereka melalui jalan yang tak terduga sebelumnya. Pak Rohman adalah pemilik toko spare part sekaligus bengkel motor, sedang Pak Rohim adalah pemilik rumah makan terkenal di kota kecil tempat kelahiranku.

Sore itu, saat sedang membantu ibu mertua mengumpulkan jemuran padi, salah seorang karyawan Pak Rohman datang menemuiku. Ia datang membawa pesan dari Pak Rohman agar aku segera datang ke tokonya.

“Ada apa ya? Bukankah tadi pagi Pak Rohman bilang kalau tokonya belum membutuhkan karyawan baru?” tanyaku pada si pembawa pesan.

“Saya juga kurang tahu, Mas. Tapi sebaiknya Mas segera ke sana, satu jam lagi toko akan tutup.” Jawab si pembawa pesan yang langsung berpamitan.

Sebelumnya, hampir setengah hari aku mengelilingi pasar, mencoba mendapatkan pekerjaan dengan menawarkan diri jadi penjaga toko. Tapi sayang, dari belasan toko yang aku datangi, tak satu pun yang membutuhkan tambahan karyawan, termasuk toko spare part dan bengkel milik Pak Rohman.

Dan jika sore itu Pak Rohman memintaku datang, tentu membuatku penasaran. Apakah beliau berubah pikiran? Dan semua pertanyaanku baru terjawab setelah aku tiba di tokonya. Seperti yang kudengar sebelumnya, tokonya memang belum membutuhkan karyawan baru, tapi beliau bersedia membantu mencarikan pekerjaan, jika aku mau. Tentu saja aku mau.

Usai menelpon seseorang, dengan wajah ceria beliau kabarkan bahwa Rohim, salah satu adiknya yang memiliki usaha rumah makan, tujuh kilometer arah kota kabupaten bersedia menerimaku sebagai karyawannya.

“Besok kamu datang ke rumah makan, katakan pada salah satu karyawan di sana kalau kamu adalah utusanku. Nanti dia akan mengantarmu ketemu dengan Rohim, pemilik rumah makan yang juga adikku, “pesan Pak Rohim sebelum aku berpamitan.

Sesuai arahan Pak Rohim, keesokan paginya aku mendatangi rumah makan yang terletak di sisi jalur propinsi. Seorang karyawan menyambutku dengan ramah dan segera mempertemukanku dengan Pak Rohim setelah teh manis yang ia hidangkan kuminum setengahnya.

Tak banyak bertanya, seperti sudah kenal sebelumnya, Pak Rohim langsung menerimaku sebagai karyawannya. Bukan sebagai karyawan rumah makan, melainkan penjaga wartel yang berada di halaman sebelah kiri rumah makan. Dan bagiku ini tak menjadi masalah. Yang terpenting adalah aku segera mendapatkan pekerjaan, dan pagi itu aku mendapatkannya dengan cara yang sangat mudah. Alhamdulillah.

Meski sebenarnya aku sudah siap untuk mulai bekerja saat itu juga, namun karena karyawan yang beliau percaya untuk mengelola wartel berhalangan hadir, maka Pak Rohim memutuskan agar mulai bekerja keesokan harinya. Dan sekali lagi ini juga tidak masalah. Kapan pun mereka butuhkan, aku siap. Dan saat aku hendak berpamitan, Bu Rohim menahanku. Beliau memberikan sejumlah uang padaku.

“Tidak apa-apa, ini sekedar uang jajan buat anakmu,” begitu katanya saat dengan halus kutolak pemberiannya. Bagaimanalah aku akan menerimanya, sedang bekerja pun belum. Diterima sebagai karyawan saja sudah membuatku sangat bahagia. Tapi karena Bu Rohim terus memaksa, dan aku melihat ketulusan di raut wajahnya, akhirnya kuterima uang yang ia sodorkan.

Subhanallah, jika sudah rezeki, apapun bisa terjadi. Jika kemarin belasan toko kudatangi tak satu pun yang menerima, pagi itu aku justru mendapatkan sebuah pekerjaan dengan sangat mudah. Dan bukan hanya itu, aku diberikan uang saku sebelum mulai bekerja. Alhamdulillah.

Dan kebaikan Pak Rohim bukan hanya di awal saja. Empat bulan berikutnya, ketika musyawarah dengan keluarga menghasilkan satu keputusan bahwa aku harus kembali ke Tangerang, mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih mencukupi, maka mengundurkan diri dari wartel Pak Rohim terpaksa harus kulakukan. Ada ragu dan malu saat hendak menghadap Pak Rohim di ruang kerjanya. Separuh hati sudah kusiapkan apabila nanti Pak Rohim kecewa atau marah dengan keputusanku. Aku sadar, semestinya aku memberitahu jauh-jauh hari, tidak mendadak begini. Tapi sebisa mungkin akan kujelaskan bahwa aku terdesak kebutuhan.

Dan sungguh di luar dugaan. Beliau memaklumi keputusanku, bahkan mendukungku bila alasannya adalah untuk masa depan keluarga. Beliau juga sempat meminta maaf jika gaji yang diberikan sebagai penjaga wartel tak bisa mencukupi kebutuhan keluargaku. Sebelum aku berpamitan, beliau menyodorkan sebuah amplop padaku. Sama seperti empat bulan sebelumya, ketika pertama kali aku datang untuk melamar kerja, aku merasa tak layak dan tak berhak menerima pemberiannya.

“Terimalah. Meski tidak banyak, mudah-mudahan ini bisa bermanfaat sampai kamu dapat pekerjaan baru di sana. Mudah-mudahan kamu segera mendapat pekerjaan yang lebih baik. Saya tidak mendoakan kamu tidak betah, tapi jika kamu ingin kembali ke sini, wartel dan rumah makan ini selalu terbuka untukmu.” Beliau berpesan sambil menyalamiku.

Subhanallah! Jika tak kudengar sendiri, sulit rasanya untuk percaya. Setelah sekali lagi mengucapkan terima kasih, aku pun berpamitan. Sore harinya, berbekal uang yang Pak Rohim berikan, yang jumlahnya dua kali lipat dari gaji sebulanku, aku kembali ke Tangerang tanpa anak dan istriku. Dua minggu setelah itu alhamdulillah aku mendapatkan pekerjaan yang hingga kini masih kutekuni.

Kini setelah sembilan tahun berlalu, usaha Pak Rohman dan Pak Rohim berkembang pesat. Toko spare part sekaligus bengkel motor milik Pak Rohman menjadi salah satu toko dan bengkel terkemuka. Juga usaha rumah makan Pak Rohim. Di sebelah kiri rumah makan yang selalu ramai pengunjung, berdiri megah sebuah gedung serba guna yang biasa disewakan untuk mengadakan pertemuan ataupun resepsi pernikahan. Sementara karena perkembangan teknologi informasi yang membuat keberadaan wartel tak lagi diminati, bangunan bekas wartel kini diubah menjadi toko cindera mata. Jika kebetulan Anda melintas di jalur utama kota kelahiranku, Anda akan melihat toko spare part dan bengkel Pak Rohman, juga rumah makan milik Pak Rohim.

Subhanallah, wal hamdulillah. Dari sepenggal kisah perjalananku mencari pekerjaan, aku banyak mendapatkan pelajaran berharga. Di antaranya, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membantu orang lain. Jika tidak ada yang bisa kita berikan, bila tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membantu orang lain, maka kita bisa membantunya dengan mencarikan orang yang bisa melakukannya seperti yang Pak Rohman lakukan padaku saat aku membutuhkan pekerjaan. Juga, maju mundurnya sebuah usaha bukan semata ditentukan oleh kerja keras kita, tapi juga kemauan kita untuk berbagi dengan orang lain seperti yang Pak Rohim lakukan padaku, dan juga kepada karyawan-karyawannya. Dan meski kini Allah tak memberiku rezeki melalui tangan-tangan mereka, aku selalu berdoa untuk mereka. Semoga Allah senantiasa memberkahi usaha mereka. Amin, ya Rabb.

Dan kisah ini semoga bisa memberikan inspirasi untuk kita selalu berbuat baik pada orang lain, sehingga tak ada yang diingat tentang kita kecuali kebaikan yang telah kita lakukan. Insya Allah.

Abi Sabila

Tentang Abi Sabila

Seorang pembaca yang sedang belajar menulis. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (15 orang menilai, rata-rata: 9,53 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/people/Muhammad-Mukhlis/100001210143014 Muhammad Mukhlis

    Subhanallah…

  • http://twitter.com/zenimtr Zeni Rahmah

    subhanallah q(^ – ^)p

Iklan negatif? Laporkan!
62 queries in 1,836 seconds.