Home / Berita / Opini / Valentine’s Day Tidak ‘Sesuai’ dengan Norma Sosial dan Nilai Karakter Pendidikan

Valentine’s Day Tidak ‘Sesuai’ dengan Norma Sosial dan Nilai Karakter Pendidikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (maimaru2011)

dakwatuna.comSila ke dua ‘Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab’ jangan sampai hanya dibaca saja, namun jauh dari aplikasinya. Menilik potret generasi penerus bangsa (remaja dan pemuda) terlihat tak banyak perbuahan malah semakin buram, dengan sekian masalah yang menyelimutinya, dari seks bebas, HIV/AID, Narkoba, Tawuran antar pelajar dan mahasiswa melengkapi sekian perjalanan kehidupannya, belum selesai sampai di sana, remaja kita juga lemah terhadap keyakinan agamanya dan kurang terhadap wawasan sejarah bangsanya, sehingga terlihat kehidupannya penuh dengan kegiatan-kegiatan yang sia-sia, serba ikut-ikutan dan kehilangan identitas.

Perilaku remaja semakin brutal, ditambah dengan tawuran antar pelajar, pergaulan bebas semakin mewarnai kesehariannya, bukannya makin baik dengan pendidikan karakter namun justru terlihat moralnya semakin terkikis dan sulit dikendalikan.

Pendidikan karakter belum bisa mengatasinya, justru perilaku mereka semakin terlihat keberaniannya dengan mengadakan melakukan kegiatan yang akan merusak moral mereka. Salah satu kegiatan yang merusak moral dan nilai sosial ini adalah perayaan hari valentine days, kegiatan yang tidak mengenal lawan jenis, pergaulan yang dilakukan tiada sekat dan batas, hal tersebut mampu menghilangkan moral dan etika dalam lingkungan sosial dan justru kegiatan tersebut tidak memiliki nilai positif dalam membangun generasi yang bermoral dan bermartabat, malah justru melanggar nilai-nilai agama dan bangsa.

Kehilangan identitas ini semakin merajalela dengan modus kegiatan-kegiatan yang tidak memiliki arti seperti merayakan hari valentine. Sudah sangat jelas nilai dan arti yang terkandung dalam pancasila kedua adalah untuk menciptakan masyarakat (remaja/pemuda) yang beradab, bermoral, bernilai mulia dalam kehidupannya, namun realitas di hadapan kita justru nilai-nilai pilar kebangsaan ini di injak-injak oleh calon penerus bangsa tersebut.

Pendidikan karakter sangat terlihat parsialis, dimana pendidikan karakter ini baru hanya didengungkan saja, belum banyak teraplikasi di lingkungan sekolah dan masyarakat. Parsialis karena baru hanya dilakukan di tingkat satuan pendidikan saja, seperti di sekolah, namun membangun karakter ini belum bisa diaplikasikan di rumah tangga, dan lingkungan masyarakat, sehingga aktivitas karakter itu hanya bisa dijalankan di sekolah namun di rumah dan di masyarakat malah jauh bertentangan. Contohnya perayaan hari valentine ini sangat jelas melanggar nilai, norma sosial, dimana mereka melanggar amanah dari pendidikan karakter tersebut, yaitu karakter kecerdasan sosial, dimana seorang pelajar dan mahasiswa harus memiliki sifat amanah (bertanggung jawab) terhadap lingkungan sosial mereka, hal ini sangat penting karena melihat bagaimana anak-anak remaja hari ini harus memiliki tanggungjawab terhadap perilaku mereka dan lingkungan mereka.

Berbagai fenomena di atas sebenarnya sebagian kecil dari kompleksnya permasalahan remaja di tengah arus globalisasi dunia. Sudah harus direnungkan kembali bagaimana seharusnya pendidikan karakter ini belum mampu menyelesaikan masalah karakter anak bangsa, dan belum mampu mengaplikasikan nilai-nilai karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Nilai sosial sebagai pilar kebangkitan generasi muda seharusnya sudah menjadi tolok ukur keberhasilan moral pemuda sebagai agent of leader.

Patut disadari bahwa perilaku penerus bangsa hari ini adalah hasil dari pendidikan yang belum komprehensif, kebijakan yang belum baik dan sistem yang masih belum maksimal dijalankan oleh pemerintah dan pembuat kebijakan. Harus menjadi pelajaran besar bahwa kehilangan identitas generasi penerus bangsa dengan mengadakan kegiatan yang sia-sia menjadi catatan pendidikan karakter yang belum benar dan baik dijalankan.

Memasuki kehidupan remaja yang kompleks, bangsa ini sedang dilanda berbagai krisis multidimensi yang kini kita hadapi dan rasakan, bukankah menjadi cita-cita mulia Pilar Kebangsaan kita dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Pembukaan UUD 1945. Bahwa pendiri bangsa kita mencitakan bahwa negara didirikan, diciptakan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, menjadikan masyarakat yang beradab? Namun justru sebaliknya nilai-nilai dan cita-cita itu masih jauh dari panggangnya.

Oleh karena itu penyelesaian masalah yang kompleks ini harus dibuat kebijakan yang tegas terhadap perbaikan moral bangsa, dengan dijalankannya nilai-nilai agama, nilai sosial dan karakter pembangunan bangsa dengan komprehensif tidak parsialistis serta harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh sektor pemerintahan dan lapisan masyarakat, sehingga nantinya akan mampu menciptakan masyarakat yang adil dan beradab.

Melihat dengan kegiatan perayaan hari valentine di Indonesia justru terjadi pelanggaran nilai-nilai moral dan nilai social budaya bangsa, maka kegiatan hari valentine ini sudah seharusnya pemerintah tegas memberikan perlindungan dalam bentuk penyadaran dan informasi terkait pelanggaran yang dilakukan oleh anak-anak bangsa ini yang diakibatkan oleh perayaan budaya yang tidak punya sejarah pada bangsa Indonesia. Demikian juga masyarakat harus memberikan peran yang besar terhadap kebobrokan moral generasi yang semakin brutal dan tidak terkendali ini.

Justru dengan kegiatan perayaan ini kerap terjadi seks bebas, dengan gaya barat dengan pergaulan yang bebas dan berganti pasangan dan tidak menggenggam aturan sama sekali. Bahkan akan merusak moral generasi kita, akan memberikan dampak buruk, terjadi AIDS/HIV, Narkoba, Hamil di luar nikah, karena menurut data bahkan di tingkat remaja kerusakan moral memiliki jumlah sangat besar diakibatkan oleh pergaulan bebas yang salah satunya diawali dengan kegiatan kumpul kebo dan bahkan pergaulan bebas yang sangat dekat dengan kegiatan-kegiatan seperti hari valentine.

Saya sangat berharap, sebagai generasi masyarakat, kita harus bisa memilih dan memilah kegiatan apa yang harus dan perlu dibudayakan di kalangan anak-anak bangsa, tidak kemudian harus ikut-ikutan terhadap kegiatan-kegiatan dan program serta budaya dari barat yang akan justru merusak bangsa kita. Menjadi sebuah tanggung jawab anak-anak bangsa juga untuk ikut terlibat dalam menjaga moral bangsa yang benar. Sehingga tidak terjadi kegiatan-kegiatan yang kemudian akan merusak moral calon penerus bangsa.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis, Aktivis dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.
  • Accomodador

    Valentine’s day atau lebih lengkapnya Saint Valinetine’s Day adalah hari peringatan atas jasa Saint Vanlentine melawan kebijakan Kaisar Claudius. Ketika itu Kaisar Claudius melarang para laki-laki untuk menikah karena setiap laki-laki wajib untuk menjadi tentara. Karena Saint Valentine menganggap larangan tersebut menyalahi kehendak Tuhan (karena perjodohan ada di tangan Tuhan) maka beliau tetap nekat menikahkan pasangan-pasangan saat itu. Hari Valentine adalah pengharagaan kaum kristiani terhadap perjuangan beliau.

    Sehingga tidak tepat jika dikatakan perbuatan seks bebas yang dilakukan pada hari Valentine adalah salah satu ritual hari Valentine. Perbuatan tersebut semata-mata merupakan miskonsepsi budaya pop yang selalu mengasosiasikan cinta dengan seks.

    Jadi saya mohon penulis mempertimbangkan lagi pernyataan bahwa perayaan hari Valentine bertentangan dengan norma karena pada prinsipnya hari Valentine adalah hari memperingati perjuangan salah satu Santo Kristen melawan kezaliman. Bukan ritual seks bebas.   

  • Singgih Pranowo

    bagus sekali, memang mestinya pemuda bangsa ini perlu didikan moral lebih agar negri ini membaik dari penyakit-penyakit yang telah menjangkitinya :)

  • saya rasa agak berlebihan bila menganggap perayaan “valentine days” dianggap menyalahi norma…karena sebenarnya bila diartikan secara umum “valentine days” dianggap sebagai hari “kasih sayang” dan tentunya kasih sayang tidak selalu berhubungan dengan seks bebas atau hal-hal yang berbau negatif. Tergantung siapa yang mengartikan, tp saya rasa tanggapan masyarakat secara umum tentang valdays..adalah hari dimana kita bs mengungkapkan rasa sayang kita pada seseorang…bs kepada kekasih, suami atau istri, orang tua, anak, guru dan masih banyak lagi dengan berbagai cara. bs dengan memberi coklat, bunga, atau dinner bersama.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial