Home / Narasi Islam / Hidayah / Ustadz Penjual Buah

Ustadz Penjual Buah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comAku kerap tersadarkan secara tiba-tiba bahwa hidupku senantiasa dikelilingi oleh sosok-sosok yang banyak memberikan renungan dan pembelajaran hidup. Pembelajaran bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah ruang-ruang kesempatan untuk bersyukur dan berbuat dengan sebaik-baiknya. Pembelajaran bahwa poin penilaian yang membedakan kita dengan orang lain di sisi Allah hanyalah seberapa berkualitas amalan dan sejauh apa ketakwaan yang kita punya.

Seperti perjumpaanku dengan seorang “ustadz” penjual buah tiga pekan silam. Ketika itu aku bertemu dan berkenalan dengannya di rumah dakwah kami yang baru sempat kusambangi semenjak pulang dari Mesir. Kala itu ia mengaku menjadi seorang penjual buah keliling yang berjualan dari daerah ke daerah. Sebut saja namanya Rahmat. Setiap hari ia membeli berbagai jenis buah secara borongan di pasar-pasar tradisional yang tersebar di negeri ini, berupa mangga, duku, rambutan, pepaya, jeruk, dan sebagainya, lalu menjualnya secara eceran di daerah lain. Begitu setiap subuh buta ia menjemput rezeki dengan menempuh jarak yang tak bisa terbilang dekat. Usianya masih relatif cukup muda, jika kutaksir sekitar dua puluh delapan tahun. Benar saja, di perjumpaan berikutnya ia mengaku telah menikah dan sudah dikaruniai tiga orang anak.

Sepintas tak ada sesuatu yang begitu istimewa pada penampilannya. Ia mengatakan bahwa ia hanya tamat sekolah dasar dan lebih memilih untuk bekerja sebagai penjual buah. Sebagaimana lazimnya seorang pekerja keras, gurat-gurat kesederhanaan dan kebersahajaan terpahat jelas pada wajah sawo matangnya. Kendati demikian, ia tak pernah datang ke markas ini dengan wajah dan penampilan layaknya seorang pedagang serabutan di pasar. Ia selalu hadir dengan semangat muda dan penampilan terbaik yang ia miliki, dengan jenggot dah rambut tersisir rapi. Selalu datang tepat waktu dan tidak pernah terlambat, apalagi sampai absen hanya karena alasan remeh-temeh. Benar-benar pukulan telak bagi siapa saja yang tidak menghargai waktu dan suka mencari-cari alasan untuk tidak menjadi lebih baik.

Hal lain yang membuatku takjub dan kagum pada sosok itu adalah semangat dan loyalitasnya yang luar biasa terhadap dakwah ini. Tak jarang ia harus meninggalkan dagangan buahnya demi membuat dirinya lebih berarti. Ia adalah sosok pedagang jujur dan apa adanya, yang tidak mengurangi takaran dan timbangan. Ia bukanlah golongan pedagang yang disindir dalam Surat Al-Muthaffifin. Saat i’tikaf pada sepuluh penghujung Ramadan silam, ia adalah orang hampir selalu datang pertama kali dan tak pernah alpa. Aku yakin, tentu ia tidak sekadar bermodal semangat sampai pada di titik ini. Aku pun percaya, pilihannya tersebut berangkat dari sebuah pemahaman yang utuh tentang apa dan bagaimana berislam yang sesungguhnya.

Belakangan aku semakin kerap bertemu dan bertatap muka dengannya, baik itu di jalan, di masjid, ataupun di sekolah tempatku mengajar sekarang. Aku kembali dikagetkan ternyata siswa bernama Wildan yang begitu menonjol di antara teman-temannya karena sangat kuat menghafal Al-Quran itu adalah anak dari “ustadz” penjual buah tersebut. Seketika aku jadi teringat dengan kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terlahir dari rahim seorang wanita yang tidak mau berbuat curang dalam berdagang. Begitu pula dengan siswa bernama Wildan itu. Ia hadir sebagai keberkahan dari sesosok ayahnya yang shalih dan jujur.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (37 votes, average: 9,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seorang pembelajar yang hobi memungut hikmah-hikmah yang bertebaran dan merekamnya dalam tulisan. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana di International Islamic University Malaysia (IIUM), Kulliyah Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences (IRKHS).
  • Pengabdiannya yg begitu tulus ikhlas tdk bisa di ukur dg emas, perak, permata dengan sll mengingat akan kewajiban sbg muslim yg taat hany satu keyakinan berharap ridha dari-Nya
    Subhanallah

  • Dengan pengabdiannya yang tulus ikhlas tidak bisa di nilai dg harta emas, perak, berlian mengakui menjadi muslim yang selalu taat dengan kewajiban, hanya satu yang selalu berharap mendapat ridha
    dari-Nya. . . .Subhanallah

  • Dengan pengabdiannya yang tidak bisa di nilai dengan emas, perak, berlian mengakui sebagai seorang muslim dengan kewajibannya, hanya satu yang berharap mendapat ridha dari-Nya
    Subhanallah

  • Anonim

    smg aku bisa mengambil iktibar darinya

  • Anonim

    smg para wakil rakyat hatinya mulai terbuka hidayah bukan malah menuhankan jabatan nya

  • Riansyah28

    subhanallah…..
    ternyata al wala’ wal barra’  terhadap agama allah, sll allah kasihkn buatnya n klwrgnya.
    kehalalan dalam mencari rezeki amat berdampak pada keluarga.
    semoga allah mnjdkn kita semua sama seperti kisah ini dalam hal kejujuran.
    semog para wakil-wakil kita maupunh pemimpin kita mempunyai sifat yang sama amiiin,

  • luar bisa smg ini mnjdi ‘itibar buat kita smua untuk berperilaku tulus n ikhlas..agar semua yang kita perbuat menjadi berkah

  • subhanallah smg mnjdi ‘itibar buat kita smua tuk berperilaku tulus n ikhlas agar semua yang kita lakukan berkah

  • Ocha Fauzan

    subhanallah

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Mencari Buah Ilmu

Organization