Home / Pemuda / Cerpen / Sederhana Namun Penuh Makna

Sederhana Namun Penuh Makna

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi

dakwatuna.comDi sebuah kota di bilangan Jakarta, tinggallah sepasang suami-istri. Mereka seperti keluarga lainnya, memiliki rutinitas, permasalahan, dan berbagai hal yang dialami oleh keluarga kebanyakan. Sang suami merupakan jajaran direksi di sebuah perusahaan multinasional dan istrinya membaktikan hidupnya untuk menghidupkan dan memelihara rumah.

Suatu hari suami tersebut harus menghadapi sebuah rapat yang sangat penting keesokan harinya, sebuah penandatanganan MoU dengan sebuah perusahaan asing. Sang suami merupakan orang yang cukup disiplin, ia selalu mempersiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan besok pada malam sebelumnya.

Malam itu sang suami mencari celana yang ingin ia kenakan esok hari, namun berkali-kali mencari ia tetap tak mampu menemukannya padahal ia sangat yakin bahwa sang istri biasa meletakkan pakaiannya di sana. Namun tetap saja ia tidak bisa menemukan celana yang ingin ia gunakan, padahal ia sudah sangat ingin mengenakan celana itu di hari yang penting, sebuah celana pemberian sahabatnya di ulang tahunnya yang ke-32.

“Ma, kok papa ga bisa menemukan celana abu-abu itu ya?”, tanya sang suami pada istrinya. Saat itu sang istri sedang dalam kondisi beristirahat karena hari itu ia baru saja menjadi tuan rumah untuk sebuah pengajian.

“Abu-abu yang mana ya, Pa?”, sambil ia tetap berusaha menjawab, padahal matanya sama sekali sudah tidak bisa diajak kompromi.

“Celana abu-abu yang dari sahabat Papa yang dari Samarinda itu, lho” lanjut sang suami.

“Biasanya mama taruh di lemari itu kok” jawab sang istri sembari menunjuk ke sebuah lemari coklat tua di ujung kamar.

“Iya, Papa juga tau Mama biasa taruh di sana, tapi dari tadi aku cari-cari ga ketemu, Ma”

“Aduh, aku ga tau, Pa. Aku mau istirahat ya, Pa. Badan ini rasanya udah ga bisa aku gerakin lagi”

“Ma, mama gimana sih. Mama kan yang ada di rumah, seharusnya mama tau dong dimana aja tempat-tempat menyimpan pakaian”, sang suami sudah agak sedikit marah.

“Iya, Pa, tapi mama bener-bener ga tau juga.”

Ck, masa diambil orang sih. Atau kamu ga sengaja buang?” keluhan sang suami semakin meningkat.

“Pa, tolong deh, kita sama-sama lagi capek. Bisa ga kita cari besok?”, sang istri pun semakin tidak mampu menahan diri.

Huh! Terserah mama aja!” jawab sang suami yang membuat suasana semakin tidak nyaman.

Sang suami berjalan keluar kamar dengan menggerutu. Namun, baru saja beberapa langkah, tiba terbesit di hatinya.

“Astaghfirullah, apa yang baru saja aku lakukan? Apakah hanya karena sebuah celana aku menjadi berkata begitu keras kepada istriku? Wanita yang telah mendampingiku selama ini, menghidupkan rumah tanggaku, mendidik anak-anakku, serta selalu mengingatkan aku pada Rabbku. Astaghfirullah.. Astaghfirullah..” ia beristighfar berkali-kali.

“Yaa Rabb, ampunilah hamba, jika memang celana tersebut sudah bukan jodoh hamba maka hamba ikhlas. Hamba ikhlas yaa Rabb. Maafkan hamba ya Allah”, begitu doanya diiringi penyesalan yang begitu mendalam.

Lalu sang suami kembali berjalan ke dalam kamar dan menghampiri istrinya yang terlihat telah terlelap.

“Ma, maafkan papa yang tadi sudah berkata keras hanya karena tidak bisa menemukan barang yang papa suka. Memang Allah menanamkan di hati setiap manusia kecintaan pada harta benda. Allah sedang menguji kesabaran papa. Papa paham sekarang, memang cuma orang-orang yang ikhlas yang mampu mempunyai kesabaran yang tinggi.” ucap sang suami sembari meminta maaf kepada istrinya.

Sang istri membalas dengan senyum simpul yang teduh.

“Insya Allah, Allah sayang Papa” jawab sang istri.

Setelah meminta maaf sang suami beranjak keluar untuk mencari udara segar, sedangkan sang istri sudah kembali terlelap. Ia berjalan menuju pekarangan belakang rumah. Ketika sedang memandang langit, tak sengaja pandangannya jatuh di sebuah tiang jemuran dan setelah ia memicingkan mata, ia melihat sebuah celana abu-abu yang telah ia cari semenjak tadi dan hampir saja merusak hubungannya dengan istrinya.

Tanpa pikir panjang ia pun langsung mengambil celana itu, dibawanya menuju kamar. Ia mencari sebuah setrika lalu merapikan celana tersebut. Sebuah celana penuh kenangan dari sahabat terdekatnya yang telah Allah panggil terlebih dahulu.

Pria itu hanya tersenyum. Ia beranjak untuk menggantung celananya. Berjalan menuju tempat tidur untuk beristirahat. Ia kecup kening istrinya, lalu matanya terpejam dan berdoa, “Yaa Rabb, karuniakanlah kepada hamba kesabaran di atas kesabaran, lapangkanlah hati ini untuk mampu senantiasa tawakal kepada-Mu.”

Malam itu ditutup dengan doa yang indah dan ketawakalan yang merekah.

# Kesabaran adalah hal yang sederhana namun penuh makna. Hanya yang ikhlas menjalani hiduplah yang mampu memilikinya.

Taipei, 11-11-11

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (25 votes, average: 9,08 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad al-Fatih
Lahir di Bogor Tahun 1989. Dan saat ini tinggal di Taiwan Taiwan sebagai mahasiswa Master di NTUST Taiwan.
  • Ya Allah seandainya mantan suamiqu bisa sprt yg digambarkan diatas, alangkah indahnya pernikahan yg dijalani dan dihiasi dgn kesabaran…mngkn mmng ini sudah takdir ku dan Allah Maha Tahu.. smg Allah menggantinya dgn yg lbh baik…aminnnn  :-)

Lihat Juga

Ilustrasi (kawanimut)

Sabarlah Bidadariku, Akan Segera Kujemput Dirimu