Home / Pemuda / Cerpen / Kala Masa Merangkai Jeda

Kala Masa Merangkai Jeda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Temani duduk di meja operator yuk de,” ajak umi Aisy.

“Iya Umi,” jawabku.

Duduk di sampingnya terasa teduh, nyaman dan betah berlama-lama. Kata-kata beliau bijak, hal sekecil apapun beliau olah menjadi deretan ilmu, membuatku semakin bersemangat untuk mempelajari Islam lebih syumul.

Rinduku seolah terobati, setelah satu semester tak pernah bertemu kini aku kembali bisa berdiskusi dan bercanda dengan beliau.

“Umi, aku sering iri lho sama umi,” godaku membuka percakapan.

“Lho kenapa dek?” tanya umi Aisy.

“Habisnya, di manapun kalian selalu bersama. Bahkan jadi MC bareng, operator juga bareng,” jawabku.

“Hehe iya Dhek, tadi ada yang bercanda operatornya pasangan halal dan yang pojok sana pasangan haram,” kata ustadzah Aisy sambil menunjuk akh Ikhsan dan adek akhwat yang berpasangan jadi MC.

“Wah kalian ada-ada saja bercandanya. Eh Umi, aku dan Mita kadang suka memperhatikan kalian, gimana gitu!”

“Ya beginilah kita dek, PACARAN ya sekarang ini. Sebelum nikah sih gak pernah, kenal saja tidak,” jawab umi Aisy.

Aku diam. Nampak biasa tapi sarat makna. Dengan detail umi Aisy menjelaskan proses ta’aruf, waktu khitbah, sampai hari di ikrarkannya ikatan suci di ruang terpisah dan penjelasan QS.An-Nur:26 “perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik (pula)…”. Subhanallah, begitu syar’i.

“Agh … Gak pengen Mi, aku kan masih kecil,” tiba-tiba aku protes.

“Gak papa dek nikah sama kuliah. Ustadz Salim juga nikah semester 3.”

“Gak mau lah Mi, belum mikir sejauh itu. Masih pengen lulus S1 dari UNS, perbaiki kualitas diri dan banyak lagi yang harus aku benahi sebelum menentukan keputusan itu,” jawabku panjang lebar.

“Bagus, tapi ingat Dhek, HARUS BISA JAGA HIJAB. Masih ingatkan, orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya … (QS.An-Nur:33)”

“Insya Allah Umi, doakan saja aku istiqamah. Tapi masih bingung Mi, hijab interaksi ikhwan dan akhwat itu seperti apa? Banyak masukan-masukan yang beda pandangan.”

“Misalnya seperti apa Dhek perbedaan itu?” tanya umi Aisy.

“Fulan A bilang harus benar-benar dibatasi dalam berteman dengan cowok, tapi kata Fulan B gak papa sekadar saling mensupport yang penting bisa menjaga hati, banyaklah pokoknya masukan-masukan itu,” aku berusaha memaparkan.

“Gini dek, kita memang harus benar-benar membatasi interaksi dengan ikhwan. Misal ya, saling mensupport. Apa yang kita rasa? Wah, itu akhi/ukhti perhatian sama ana, dari rasa yang biasa akan timbul sesuatu yang lebih. Itu sudah fitrah manusia, maka dari itu lebih baik kita menghindari hal-hal yang menimbulkan zina hati. Saling mensupport antara ikhwan dan akhwat yang bukan mahrom itu berarti hati belum terhijabi.

Dan satu lagi, persahabatan ikhwan dan akhwat itu banyak mudhorotnya, tak jarang saling mengagumi meski alasannya karena Allah. Tapi endingnya? Hati terkontaminasi, nafsu menjadi motor penggerak interaksi, kesucian cinta menjelma dalam kesemuan yang mengabaikan tatanan syariat. Ini yang sering menjadi penyakit aktivis dakwah. Terkemas secara rapi, nyaris tak nampak oleh dunia luar namun sangat mematikan hati. Interaksi tidak lagi terbatas pada cakupan dakwah, ada bumbu-bumbu pemanis namun sejatinya adalah racun yang meruntuhkan benteng hijab kemudian mematikan nyawa keimanan dan menguburnya dalam lembah zina hati.

Barpijak pada rambu-rambu Islam secara kaffah itu memang sulit Dhek, tapi sebagai muslimah yang tunduk dan patuh terhadapnya, kita berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa perbaiki diri. Bukankah hidayah itu ada saat kita punya kesungguhan untuk perbaiki diri? Ingat Dhek, …sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum tanpa ia mengubah keadaannya sendiri… (QS.Ar-Ra’d:11).

Dan coba renungi hadits ini, Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan. (HR. Ahmad nomor 1661, hadits hasan lighairihi). Surga hanya bisa diraih dengan keshalihan, hanya wanita shalihah yang akan masuk surga, shalihnya seorang wanita dibuktikan dengan beberapa sifat dan akhlaq, salah satunya dan yang terpenting adalah menjaga kehormatan diri. Menjaga kehormatan berarti membentengi diri dari perkara-perkara yang mencoreng dan merusak kehormatan, yang menodai dan menggugurkan kemuliaan, dengan tetap bersikap dan bertingkah laku dalam koridor tatanan syariat yang suci lagi luhur.”

Aku diam, tak mampu bertutur untuk sekedar menyanggah atau mencari celah pembelaan. Rangkaian kata yang telah kususun lebur berserakan, tak mampu tergetar oleh kedua ujung bibir.

Astaghfirullah, ya Rabb … tak ku sadari diri ini belum mampu menghijabi hati. Nampak kontras dengan jilbab yang membalut aurat dan pandangan mata yang selalu tertunduk serta tangan yang terjaga dari sentuhan bukan mahrom. Pantaskah kusebut diri ini sebagai hamba-Mu yang patuh? Munafikkah aku? menjadi sok dewasa dan bijak ketika adik-adikku di Rohis Wonosobo bertanya tentang hijab, padahal diri ini masih sering curhat dengan ikhwan, saling mensupport dan kadang bercanda (meski hanya dalam SMS).

Mana janji untuk berhijab yang selalu diikrarkan setiap penghujung 1/3 malam? Bukankah aku juga memahami QS.An-nahl:91 “dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah di ikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu terhadap sumpah itu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Apa yang akan aku katakan pada Allah di yaumul hisab nanti? Sanggupkah lisanku berbohong pada hakim yang sebijak-bijaknya hakim? Naluriku mencecer banyak pertanyaan terhadap diri ini, memvonis bersalah dan menghantui dengan bayang ketakutan.

TIDAK !!! pekikku dalam hati. Aku harus perbaiki diri sebelum sang Izroil menggenggam jiwa ini menggapai kematian.

“Umi, aku telah keliru,” gumamku lirih.

“Keliru kenapa Dhek?” tanya umi Aisy penuh kelembutan.

Ku ceritakan persahabatanku dengan beberapa ikhwan, satu ikhwan sahabat sejak SMA dan yang dua ku kenal di kampus, kakak angkatan dan satunya satu angkatan denganku. Semua ku ceritakan, tanpa ada yang di tambah.

“Belum terlambat kok Dhek untuk perbaiki diri. Selalu ada kesempatan untuk bertaubat, umi yakin Anti bisa,” ustadzah Aisy menguatkanku.

“Aku takut, tetap bimbing aku ya Umi, biar aku bisa perbaiki kekeliruan ini,” pintaku.

“Insya Allah Dhek.”

Cakrawala bertahta awan kelabu, deru guruh bertautan merangkai alunan simfoni nada pengiring pekikan hati. Lirih … dalam dilema hati yang belum mampu temukan jawab.

“Umi, ana pamit dulu ya. Hampir hujan.”

“Hati-hati, kalau butuh masukan-masukan jangan sungkan SMS umi.”

“Insya Allah umi,” jawabku.

Ku cium tangan halus umi Aisy. sesosok berjiwa lembut yang dua tahun lalu menjadi salah satu perantara metamorfosisku. Umi … ana ingin seperti umi, menjadi muslimah seutuhnya dengan mengimplementasikan kepatuhan pada Sang Pencipta dalam segala aspek. Ana ingin … tapi kadang hati ini masih berani bermain-main. Mengabaikan sisi yang seharusnya aku jaga keutuhannya. Ya … pada hati, yang harus benar-benar aku proteksi dari infeksi virus mematikan iman yang menjelma di antara interaksi ikhwan dan akhwat. Gumamku dalam hati.

Di luar gedung, ternyata adik-adik akhwat sudah menungguku untuk pulang bersama, mereka menyambutku dengan senyum ramah meski tempias titis air mukaku masih nampak mendung.

“Mbak, kita pulang sekarang yuk. Sudah mulai gerimis,” ajak Farah.

“Iya Dhek, mbak sama kamu ya. Hehe soalnya gak bawa payung,” jawabku.

“Boleh, sekalian pengen sedikit tanya sama Mbak sambil nanti menunggu angkutan di halte, boleh kan Mbak?” tanya Farah penuh semangat.

“Dengan senang hati,” jawabku dengan senyum mengembang.

Gerimis mulai menampakkan eksistensinya di teritis halte … berjatuhan dengan intonasi yang indah. Sesekali semilir bayu dari arah alun-alun melintas, menyapa dengan sentuhan kelembutannya, memberi sensasi dingin ke dalam hati yang membara oleh bayang-bayang ketakutan dosa. Subhanallah … maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS.55:55). Ketika kondisi hati sedang tak menentu seperti ini, kala dosa atas kelalaian memanage interaksi dengan lawan jenis telah menggunung, Ia tetap mengobati gundah ini … dengan memerintahkan sang bayu dan gerimis untuk temaniku. Terima kasih ya Rabb, dan maafkan aku yang menduakan-Mu dengan kelalaianku.

“Mbak … ,” sapa Farah mengaburkan lamunanku.

“Oh, iya Dhek. Katanya tadi mau tanya, tanya apa Sayang?” aku langsung berusaha memusatkan perhatian Farah pada rencana pertanyaannya tadi, sebelum dia menanyaiku kenapa aku melamun di tempat yang ramai seperti ini.

“Begini Mbak, Farah kan baru aja jadi akhwat. Masih ammah mengenai tata cara hidup seorang muslimah yang sesuai koridor syariat, apalagi tentang hijab. Dengan latar belakang sekolah yang notabene sekolah negeri, Farah merasa kesulitan buat belajar. Mau kan Mbak berbagi ilmu dengan Farah?”

Jantung ini berdegub kencang, keringat dingin membasahi telapak tangan dan gemetar merasuk di seluruh tubuh. Lidahku terasa kaku untuk menjawab, bukan lantaran ku tak ingin berbagi ilmu, tidak! Tapi aku juga baru saja menghadapi masalah hijab, tak akhsan rasanya jika aku menjelaskan panjang lebar kepada Farah, aku akan nampak menjadi seorang munafik yang hanya mampu bertutur namun tak bisa mengaplikasikan dalam diri.

Tiba-tiba teringat sebuah ayat yang pernah kupelajari tafsirnya dua tahun yang lalu, “Wahai orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah di benci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan” (QS.As-Saff:2-3). Ya … aku harus mendakwahi diriku sendiri, menata diri untuk menjadi muslimah tangguh yang mampu menjaga konsistensi dengan Allah sebelum aku berani turun ke medan dakwah. Bertitik tolak pada ayat ini bukan lantas aku harus berdiam diri tiada gerak dakwah sebelum aku mencapai puncak kualitas diri. Ayat ini adalah penyemangat, penggugah jiwa untuk senantiasa tawazun antara pemahaman dan implementasi, ayat ini adalah pendorong agar aku senantiasa perbaiki diri agar dakwahku tak terhenti oleh bayang ketakutan akan sebuah kemunafikan.

Kekeliruan besar jika aku tak menjawab pertanyaan Farah, aku akan menzhalimi saudaraku sendiri dengan tak mau berbagi ilmu. Bukankah kita harus menuntun saudara kita menuju ruang terang agar ia bisa melihat pemandangan lebih luas? Dalam artian kita mengajak saudara kita untuk memahami Islam secara kaffah agar ia semakin mengenal Allah. Rasulullah bersabda “Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka Ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.” (HR. Muslim).

Bismillah … Akan aku jawab pertanyaan Farah, bukan sebagai simbolitas kemunafikan, melainkan sebagai pengingat untuk diriku karena sesungguhnya mulutku amatlah dekat dengan telingaku, apa yang aku katakan sangat terdengar oleh kedua telingaku, bukan saja hanya terdengar tapi juga harus aku jaga konsistensinya.

“Mbak, kok diam? Pertanyaanku gak berkenan ya?”tanya Farah dengan lugu.

“Afwan, gak kok Dhek. Mbak salut sama kamu yang penuh semangat untuk belajar Islam, dulu waktu Mbak kelas satu seperti kamu, Mbak masih jahiliyah lho Dhek,” candaku.

“Hehehe Mbak Rhena ada-ada saja, terus jawaban dari pertanyaanku?”

“Sebelumnya, kita di sini sama-sama belajar yah Dhek. Mbak pun masih jauh dari jati diri seorang muslimah sejati. Mulai dari QS.An-nur:31, Allah berfirman “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka …” menjaga pandangan itu penting, karena bisanya bermula dari mata akan timbul penyakit-penyakit yang mengikis iman berikutnya.”

“ Mmm … Kalau batasan-batasan interaksi gimana Mbak? Kita kan makhluk sosial yang sewaktu-waktu butuh juga seorang ikhwan,” tanya Farah.

Masih terasa mengganjal untuk menjawab, berat. Tapi Bismillah … Ku niatkan semua ini hanya untuk mencari ridha-Mu ya Rabb! Ku coba memaparkan seperti yang tadi umi Aisy jelaskan padaku.

***

Guyuran hujan mulai deras. Aku berlari masuk gang rumah, jadi ingat masa SMA yang selalu bandel tak mau bawa payung dan lari-lari masuk gang dengan baju basah kuyup. Tetapi kali ini berbeda, tak bisa kunikmati guyuran air hujan. Hatiku terlalu kalut, didera rasa bersalah luar biasa terhadap diri sendiri dan Allah.

Sesampai di rumah, cepat-cepat ku hapus semua inbox SMS, tak tersisa. Berlanjut menghapus nomor-nomor ikhwan di hp-ku kecuali gubernur BEM, ku SMS ke satu ikhwan sahabatku di kampus karena dia memang ikhwan yang paling dekat denganku.

Assalamu’alaikum akhi, tlg hps no hp a dr phonbuk ant ya, n a pun kn mghpus numb ant. n silakn remove a dr dftr tmn di FB ant jk mmg mgganggu.

Tangis mengharu biru dalam sudut ruang kekalutan. Entah tangis apa, aku tak mampu menerjemah! Rabb … Kelirukah keputusanku ini? Terlalu gegabahkah hingga ukhuwah harus tergadai? Kenapa seolah ada ketakrelaan? Inikah isyarat ketakwajaran rasaku? Aku tak mengerti!

Upin ipin di hp-ku berceloteh, satu pesan masuk, dari akh Faiz.

Wa’alaykumsalam, af1 kl blh tau, kpn y ukh?

Bulir bening menitik semakin deras, memberi sesak di antara celah nafas dan merapuhkan sendi-sendi kekuatan diri. Rabb … Kenapa jadi begini rasanya? Bukankah tadi aku sudah berazzam untuk menjauhi dia untuk menjaga izzahku?

Mengertilah wahai diriku. Nilai mulia seorang pengikrar, bukan terletak pada lengkingan suara tenornya meneriakkan sebuah slogan. Demi Allah. Sang Pemilik Kemuliaan yang berhak menguji, menyeleksi dan menetapkan gelar mukmin bagi siapapun yang dikehendakiNya. Ketika pengikrar ini menyatakan BERPISAH dengan jahiliyah dan musuh fitrah, di sinilah sebuah titik tolak dipancangkan: bahwa ia siap menerima ujian untuk melengkapi syarat kelulusannya sebagai seorang mukmin. [1]

gpp akh, a hny ign mnjg hijab qt. af1 jk nmpak sepihak, tp ini yg terbaek u/ qt.

lama ku tunggu jawaban SMS dari akh Faiz, tak juga di jawab. Ku kirim satu pesan lagi.

Afwan jika menyakitkan, a pun mrskn hal yang sma, bhkn jauh lbh skt. Tp ini yg trbaik.

Bulir bening ini serasa enggan untuk sekedar berada pada tepatnya, masih saja mengalir deras mengisi sepiku, di ruangan ini. Di kamar biru yang selalu menjadi saksi setiap torehan kisah dalam catatan episode hidupku.

Aku pergi untuk kembali,

Dengan segenap pengharapan bahwa Rabb-ku ‘kan memberi jawab terbaik,

Untukku ataupun “dirinya”,

Yang tak mengikis iman,

Tak juga melukai,

Ataupun mendustai hati.

Rabb … ku serahkan semua pada-Mu,

Di antara getar senandung munajahku …

— Selesai

Catatan Kaki:

[1] Salim A Fillah, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, hal 81

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sosok biasa yang terus belajar untuk menjadi luar biasa, karena-Nya ...
  • Risva

    jazakallah tulisannya,semoga Allah selalu ada di setiapa perjalanan hidup kita.
    Semoga dengan tulisan ini jadi inspirasiku dalam mengarungi indahnya hidup di bawah naungan ISLAM.  amin…

Lihat Juga

Citra Kirana (kapanlagi.com)

Berhijab, Citra Kirana Mantapkan Diri Tampil Lebih Muslimah