Home / Dasar-Dasar Islam / Aqidah / Lautan Makna di Balik Tahmid

Lautan Makna di Balik Tahmid

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (dakwatuna.com/hdn)

dakwatuna.com الحمد لله ucapan yang sangat ringan bagi lidah, tetapi kedalaman maknanya melebihi kedalaman palung mariana (Mariana Trench) di samudera pasifik. [[1]]

Surah pertama dari Al-Qur’an diawali dengan الحمد لله. Ini memberikan keurgensian tersendiri terhadap Al-Qur’an dan kalimat tersebut. Artinya pesan kehidupan, tuntunan ibadah dan akhlaq yang ada di dalam Al-Qur’an merupakan nilai yang tidak dapat dihargai dengan segala bentuk penghargaan. Olehnya itu, hamdalah menyiratkan bahwa manusia tidak punya kemampuan sedikit pun untuk memberikan pujian terhadap segala nikmat Allah SWT, karena nikmat itu sendiri di luar dari perhitungan matematis.

Hakikat ini telah ditegaskan Syekh Abu al-Abbas al-Mursi dalam pernyataannya berikut ini:

“Firman-Nya:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴿٢﴾

(QS. al-Fatihah [1]: 2)

“Saya berkata: “Allah SWT telah mengetahui bahwa hamba-Nya tidak dapat memuji-Nya sebagaimana mestinya, sehingga Dia memuji sendiri diri-Nya. Di waktu Dia telah menciptakan segala entitas kehidupan, maka hal ini menghendaki mereka untuk memuji-Nya dengan pujian-Nya, sehingga Dia berfirman: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Artinya, segala puji untuk-Nya semata yang memuji diri-Nya dengan pujian tersebut yang dikhususkan untuk-Nya, bukan untuk selain dari Dia. Olehnya itu, Alif dan Lam pada (الْحَمْد) menyiratkan bahwa para pemerhati Al-Qur’an telah mengetahui dengan begitu dekatnya makna pujian ini yang hanya patut dilantunkan untuk Zat yang Maha Agung dan Suci.”[[2]]

Jika Anda bertanya: “kenapa الحمد لله dianjurkan untuk diucapkan setelah menegakkan shalat lima waktu dan di waktu-waktu lain, bukankah dengan ibadah fisik tersebut merupakan bentuk pujian tersendiri terhadap-Nya?”

Kepada Anda saya memberikan jawaban seperti ini:

Kehadiran kita di muka bumi ini yang lahir dari ketidakadaan, indera perasa di lidah yang mampu membedakan seribu satu jenis tingkat rasa yang bahasa manusia sendiri lemah untuk memberikan penamaan tersendiri dari setiap rasa tersebut, pengetahuan manusia terhadap kosmos dan hakikat penciptaan seluruh entitas kehidupan, tarikan dan hembusan nafas tiap detik yang dinikmati gratis, fasilitas-fasilitas kehidupan, seperti: air, api, tanah, dan udara, memberikan layanan jasa gratis tanpa menampakkan keengganan dan pembangkangan terhadap segala bentuk keinginan makhluk, siklus darah pada denyut jantung yang memperdengarkan detakan halus secara sistematis dan spontanitas yang melebihi keteraturan alur simfoni musik yang dipertunjukkan oleh orkes dengan komposisi musik pada setiap alat, sehelai rambut yang rontok dan terganti dengan rambut lain yang lebih kuat tanpa campur tangan bahan-bahan kimia, kulit mati terganti dengan kulit yang lebih segar dan meremaja tanpa menjalani operasi kulit, kulit wajah yang senantiasa menjaga kebugarannya di pagi hari tanpa bantuan operasi kulit, panca indera yang menjalankan fungsi mereka tanpa menunggu perintah dari pihak manapun, tubuh yang punya kepekaan tersendiri di luar dari jangkauan pengetahuan manusia, dan masih banyak lagi yang menanti penuturan seperti ini. Semua itu menghendaki manusia bangkit dari alam kelalaian dan kelupaan untuk memuji Allah SWT dengan segala potensi diri yang ada dalam diri mereka.

Mari kita melihat secara saksama kedalaman makna hamdalah di dalam Al-Qur’an:

Hamdalah yang datang di dalam Al-Qur’an baik dalam bentuk pemberitaan ataupun perintah terpaparkan dalam bentuk kata benda verbal (masdar), yaitu: الْحَمْد, seperti pada ayat berikut ini:

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴿١٠﴾

(QS. Yunus [10]: 10)

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا﴿١١١﴾

(QS. Al-Isra’ [17]: 111)

Hamdalah tidak pernah diberitakan dalam bentuk kata kerja apa pun, baik itu lampau, sekarang, dan yang akan datang. Ini menyiratkan bahwa pujian tersebut wajib dilantunkan tiap saat tanpa dibatasi oleh ruang waktu dan tempat.

Olehnya itu, nikmat keislaman yang memberikan tuntunan kehidupan yang baik dan benar, ketenteraman dan kedamaian jiwa, dan keselamatan fisik, harta, harkat dan martabat, merupakan puncak kenikmatan yang senantiasa menghendaki manusia melantunkan pujian di segala kesempatan.

Penerapan hamdalah tidak sebatas pengucapan saja, tetapi ia dapat diaplikasikan dalam praktek kehidupan yang lebih luas lagi. Ini dapat dilihat dari paparan berikut ini:

الحمد لله bukan hanya diucapkan setelah makan dan minum, atau setelah merasakan satu bentuk kenikmatan, tetapi ia merupakan simbol kesempurnaan dari kemusliman seseorang yang senantiasa merasakan nikmat Allah setiap waktu, karena dengan terciptanya kesadaran diri terhadap nikmat tersebut meski tidak nampak di kasat mata merupakan kenikmatan tersendiri, yang dengan sendirinya dapat menjadi motivasi terhadap lahirnya manusia-manusia yang senantiasa merasakan keberadaan dan kedekatan Sang Maha Pencipta di sisinya. Dan pastinya, kedekatan tersebut menjadi proteksi tersendiri terhadap manusia untuk tidak melakukan segala bentuk kemaksiatan yang meruntuhkan segala bentuk pujian yang telah dilantunkan kepada Allah SWT dari segala bentuk fasilitas kenikmatan yang telah diberi.

Bediuzzaman Said Nursi dengan begitu apik dan indah telah mengilustrasikan tingkatan-tingkatan kenikmatan sebagaimana berikut:

Pertama dan kedua: الحمد لله atas nikmat keimanan yang telah mengangkat dari alam kemanusiaan enam bentuk kegelapan dan memberikan sinar kehidupan:

Kegelapan masa lalu pudar dan diterangi keimanan yang mengilhami lahirnya dunia Islam yang lebih terang dan menjanjikan.

Kegelapan masa sekarang pudar dan diterangi keimanan yang mengilhamkan keberadaan surga yang menjanjikan segala bentuk kenikmatan abadi.

Kegelapan yang datang dari kelemahan manusia untuk mengetahui hakikat penciptaan langit dan isinya yang telah tercemar oleh wacana distorsif para filosof. Kegelapan ini pudar dan tersinari oleh keimanan yang mengilhami manusia bahwa langit  tercipta dan terhias dengan bintang-bintang oleh perintah dan kehendak Allah SWT demi memberikan aneka manfaat terhadap manusia yang telah diungkap oleh ilmuwan astronomi.

Kegelapan yang lahir akibat kebodohan manusia terhadap hakikat bumi. Dengan nikmat keimanan manusia mengetahui bahwa bumi ini tercipta untuk dijadikan tempat wisata bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat kerajaan Allah yang Maha Pengasih yang menyuguhkan aneka ragam kenikmatan dan kelezatan makanan demi kelangsungan hidup mereka dalam beribadah di jalan Allah.

Kegelapan yang timbul dari kebodohan manusia tentang hakikat kematian. Dengan nikmat keimanan nampak dengan begitu jelasnya bahwa kematian itu tidak lain kecuali perpindahan tempat semata dari alam fana ke alam baka, dari tempat pengabdian ke tempat pengambilan upah, dari tempat yang penuh kebisingan ke tempat peristirahatan yang penuh dengan rahmat. Olehnya itu, kematian bukanlah musibah, tapi sarana memperoleh kebahagiaan dari upah pengabdian di dunia.

Kegelapan yang menampakkan diri akibat kebodohan manusia terhadap hakikat penciptaan mereka. Setiap dari mereka heran, ragu dan meminta penafsiran dari pertanyaan ini: “dari mana kami? dan mau ke mana?” Dengan nikmat keimanan manusia mengetahui bahwa dasar dan tujuan penciptaan adalah sejauh mana kesiapan mereka memakmurkan bumi, tempat yang penuh dengan cobaan.

Ketiga: الحمد لله atas nikmat keimanan yang menjadi tempat menyandarkan segala sesuatu, dan meminta perlindungan dan pertolongan.

Dengan kelemahan dan banyaknya musuh manusia, ia sangat membutuhkan tempat berlindung dari segala ancaman musuh, dan dengan kepapaan dan banyaknya kebutuhan dan harapan manusia, ia sangat memerlukan tempat menyandarkan segala kebutuhan dan keinginannya.

Keimanan terhadap Allah memberikan tempat perlindungan terhadap fitrah manusia, dan keimanan terhadap hari akhirat menyuguhkan tempat penyandaran terhadap keinginan-keinginan mereka. Barangsiapa yang tidak mengetahui keurgensian dari kedua unsur ini maka hati dan ruhnya tidak merasakan ketenangan, dan senantiasa tersiksa oleh perasaan sendiri. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan dengan keimanan berdasarkan asas pertama, dan menyandarkan segala kebutuhan dengan keimanan berdasarkan asas kedua, maka ia akan merasakan dari kedalaman jiwanya kelezatan maknawi, ketenangan yang menghibur, dan pegangan bagi perasaannya.

Keempat: الحمد لله atas nikmat keimanan yang mengangkat kepedihan dan ketidakrelaan dari hilangnya segala bentuk kenikmatan halal dengan memperlihatkan kenikmatan serupa yang senantiasa silih berganti. Tentunya, kondisi seperti ini dengan sendirinya akan melanggengkan segala kenikmatan dengan memperlihatkan muara dari setiap kenikmatan yang pergi dan berlalu.

Sebagaimana buah yang tidak diketahui pohonnya, maka kenikmatan hanya terbatas pada buah tersebut, ia tiada setelah dimakan, sehingga timbul rasa iba dan sedih atas kepergiannya. Tetapi, jika pohonnya diketahui dan disaksikan, maka kepedihan atas kepergiannya hilang dengan sendirinya, karena pohonnya senantiasa kekal yang senantiasa memberikan buah yang serupa. Demikianlah, sesungguhnya kondisi ruh manusia yang sangat kritis lahir dari kepedihan-kepedihan terhadap segala bentuk perpisahan. Maka dengan cahaya keimanan, kepedihan perpisahan itu hilang dengan sendirinya, bahkan akan menjadi kenikmatan tersendiri, karena yang kenikmatan yang pergi terganti oleh kenikmatan serupa yang menawarkan kelezatan lain. Bukankah setiap yang baru adalah enak?

Kelima: الحمد لله atas cahaya keimanan yang memperlihatkan bahwa semua entitas kehidupan bukanlah musuh, asing, dan benda mati yang menakutkan, melainkan mereka adalah kekasih, saudara, cinta rukun, dan hamba yang senantiasa memuji dan berdzikir.

Artinya kelalaian telah memperlihatkan manusia semua entitas kehidupan sebagai makhluk yang berbahaya dan asing, seperti musuh yang menakutkan, dan memperlihatkan putusnya tali persaudaraan antara mereka di setiap waktu.  Kesesatan semacam ini menjadikan persaudaraan seseorang terasa singkat, seperti semenit saja di dalam seribu tahun yang penuh dengan keterasingan. Dan persaudaraan orang-orang beriman berlangsung dari masa lalu hingga masa mendatang. Di lain sisi, kesesatan memperlihatkan semua entitas kehidupan sebagai benda mati yang menakutkan. Sementara itu, keimanan melihat setiap entitas kehidupan sebagai benda hidup yang cinta damai, rukun dan nyaman. Olehnya itu, mereka menurut kacamata keimanan punya ruh dan kehidupan sendiri, dan menolak anggapan sesat bahwa mereka adalah makhluk asing yang menakutkan.

Di samping itu, sudut pandang yang sesat melihat makhluk hidup yang lemah memperoleh segala tuntutan hidup, yang tidak punya pelindung dan kerabat, dan terhempas jauh dari segala bentuk kasih sayang dan perlindungan, seperti anak-anak yatim yang meratapi kelemahan, kesedihan, dan keputusasaan mereka. Sementara itu, sudut pandang keimanan berkata: “Sesungguhnya makhluk hidup itu bukanlah anak-anak yatim yang menangis, tetapi mereka adalah hamba yang dibebani hukum taklifi, bertugas memakmurkan bumi, dan senantiasa memuji dan berdzikir.”

Keenam: الحمد لله atas nikmat keimanan yang telah memperlihatkan dunia-akhirat seperti dua perjamuan besar yang dipenuhi aneka ragam nikmat. Orang-orang beriman dengan leluasanya menikmati apa yang disuguhkan di perjamuan tersebut dengan panca indera, baik yang lahiriah atau batiniah, dan dengan cita rasa maknawi atau rohaniah mereka.

Sudut pandang yang sesat menjadikan ruang lingkup pemanfaatan nikmat tersebut sangat sempit dan terbatas pada kenikmatan-kenikmatan materi yang senantiasa sirna mengikuti ketidakkekalan materi itu sendiri. Akan tetapi, dengan cahaya keimanan ruang lingkup pemanfaatan nikmat sangat luas, seluas langit dan bumi. Orang beriman melihat surya seperti bola lampu di rumah, teman setia di setiap kegiatan harian, dan di perjalanan. di sana tersimpang seribu satu kenikmatan bagi mereka yang melihat surya dengan kacamata iman yang penggunaannya lebih luas dari langit itu sendiri.

Ketujuh: الحمد لله atas adanya Allah. Wujud Allah adalah nikmat yang paling besar bagi setiap entitas kehidupan. Nikmat ini mencakup nikmat-nikmat lain yang mustahil diilustrasikan dengan tingkat bahasa manusia yang terbatas.

الحمد لله atas kemurahan-Nya yang mencakup semua makhluk hidup. Dengan fitrah manusia terjalin di antara mereka dengan makhluk lain sebuah komunikasi aktif. Ia bahagia setiap kali melihat wajah makhluk lain melukiskan goresan-goresan kebahagiaan dari nikmat yang sedang dicicipinya. Nikmat terhadap mereka juga nikmat terhadap manusia dengan sendirinya.

الحمد لله atas kasih sayang-Nya yang terlihat dengan begitu jelasnya dari kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Dengan fitrah yang sehat batin menjerit kesakitan dari tangis bayi yang sedang lapar dalam kepapaan, dan dengannya pula ia berteriak kegirangan dari bayi yang riang bermain setelah kenyang.

Olehnya itu, kiaskanlah nikmat-nikmat yang tercakup dalam setiap nama-nama-Nya (asmaul husna) pada ar-Rahman, dan ar-Rahim.

Kedelapan: الحمد لله yang senantiasa dipuji oleh setiap entitas kehidupan dengan menyebutkan sifat kesempurnaan dan keindahan-Nya. Setiap dari mereka bertahmid memuja kesempurnaan dan kemuliaan penciptaan-Nya yang melukiskan kemampuan, pengetahuan, keagungan, dan kebijakan-Nya. Dengan cahaya keimanan mereka dapat menangkap sinyal-sinyal ketuhanan dan keesaan yang dipancarkan setiap nama-nama-Nya (asmaul husna).

Kesembilan: Segala puji dari Allah, dengan Allah, atas Allah, untuk Allah dari setiap atom-atom yang ada pada setiap makhluk sejak awal penciptaan dunia hingga hari kiamat.

الحمد لله atas kalimat tahmid ini sendiri yang membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin melantunkan pujian terhadap-Nya.

الحمد لله atas nikmat Al-Qur’an, dan iman terhadap umat Islam.[[3]]

Di penghujung tulisan ini, penulis mengajak para pemerhati tema-tema keislaman untuk memenuhi setiap ruang waktu dan kesempatan dengan tahmid yang disuarakan ayat-ayat ini:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴿٤٣﴾

(QS. al-A’raf [7]: 43)


Catatan Kaki:

 [[1]] Palung Mariana atau Palung Marianas adalah palung yang paling dalam yang diketahui, dan lokasi terdalamnya berada di kerak Bumi. Dia terletak di dasar barat laut Samudra Pasifik, sebelah timur Kepualauan Mariana dekat Jepang. Dasar dari palung ini jauh di bawah permukaan laut, lebih jauh dari ketinggian Gunung Everest di atas permukaan laut. Palung ini memiliki kedalaman maksimum 10.911 meter (35.798 kaki) di bawah permukaan laut. lihat: http://fizzyenergy.com/the-worlds-greatest-oceanic-depths/
 [[2]] Syekh Ibn Atâillah as-Sakandarî, Lâtaif al-Minan, hlm. 100
 [[3]] Bediuzzaman Said Nursi, Risalah as-Syukr, Tsamratul Hayâh wa Gâyatul Kainât, diterjemahkan oleh Ihsan Qasim as-Shalihih, Sozler, Kairo, cet. 5, 2008 m, hlm. 78-90

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt
  • S4yyid4ti

    Alhamdulillah ya…:)

Lihat Juga

Ilustrasi. (arabworld.nl)

Beginilah Seorang Muslim Memaknai Kemenangan