Home / Pemuda / Cerpen / Jilbabku Kehormatanku (Bagian ke-3)

Jilbabku Kehormatanku (Bagian ke-3)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Danang Kawantoro)

Hari Pertamaku, oh Jilbabku

dakwatuna.com Tuk..tuk..tuk…Bunyi itu sengaja aku mainkan untuk mengurangi desir-desir hati memasuki esok hari. Malam ini aku sangat berdebar-debar memikirkan apa komentar teman-temanku besok? Entahlah. Tak ingin ambil pusing sebenarnya, tetapi hal itu sudah otomatis mengusik pikiranku.

Jilbabku. Kira-kira mereka komentar apa ya soal jilbab baruku? Teman-teman perempuanku kan belum berjilbab. Paling cuma Zumi dan Vita. Tidak tahu kenapa sekolah menengah atas milik yayasan Islam, besar pula tidak mewajibkan murid-muridnya muslimah mengenakan jilbab. Padahal jilbab itu wajib. Entahlah.

Tuk..tuk..tuk…bunyi pulpen itu masih aku mainkan sembari melanjutkan perjalanan berpikirku. Hmmm mungkin ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan. Seperti pertimbangan aurat bisa saja ditutup tapi hati dan perbuatan masih tidak karuan. Khawatir bisa mencoreng wajah sekolah dan Islam. Tapi kalau nunggu hidayah yang kalau tidak kita cari ya tidak bakal ketemu.

Masih dalam pikirku. Ketika kita sudah memutuskan untuk menutup aurat ya standar minimal kita harus menjaga aurat. Ketika aurat terjaga maka harapannya jilbab bisa mengontrol perbuatan yang akan kita lakukan.

Haaaaahhh…tau ah tak mau ambil pusing. Kenapa demikian. Hal yang paling menyebalkan esok hari adalah komentar Guntur, Guruh, dan Aryo. Aku harus menyiapkan diri dan hati. Terserah mereka mau bilang apa. Mereka paling usil dan cerewet denganku.

Hal yang paling penting, sekarang mereka tak kan lagi bisa mengganggu rambutku kalau ulang tahun. Sudah dikasih tepung, dilempar telur, dioles sampho, dilempar air. Itu kejam, sayang atau keterlaluan. Padahal aku tak membawa baju ganti dan sisir waktu itu. Sebelum pulang sekolah aku menangis di kamar mandi karena malu gara-gara itu. Sembari membersihkan rambut, aku sesegukan. Bayangkan aku pulang dalam keadaan baju basah dan rambut masih banyak menyisakan tepung. Temanku-temanku tega nian dirimu padaku.

Berbeda dengan teman-teman dekatku Siti, Rida, Eva dan Puput pasti surprise melihatku. Sengaja aku tidak memberitahu mereka. Tidak surprise namanya kalau sudah diberitahu. Kalau si Ahmad pasti senanglah dan tambah naksir padaku karena dia fans beratku sejak kelas satu. Tapi syukur aku tak pernah menyambut siapa pun untuk berpacaran denganku. Kata ibu sekolah itu arena belajar, bukan arena pacaran. Dan aku menyepakati itu. Toh itu untuk kebaikanku.

Sudahlah. Memikirkan apa reaksi mereka tidaklah menyurutkan langkahku. Yang lalu biarlah berlalu. Hari esok adalah masa depanku. Kan kusambut hari esok dengan bismillah semoga Engkau beri aku kelapangan dan kemudahan.

Pagi menjelang. Aku sengaja berangkat jauh lebih pagi agar teman-teman lain kelas tak terlalu terkejut melihat perubahan penampilanku. Terlebih teman sekelasku. Aku langsung duduk di bangku tanpa bergerak sedikit pun dan pura-pura menulis sesuatu di buku.

Hmmm..berhasil. Mereka seperti tak menyadari kalau aku sekarang menutup auratku. Tersenyum asyik Galuh belum menyadari hal itu. Tapi tak berapa lama kemudian.

“Haaaa….Zahra pakai jilbab…!”teriak Zumi salah satu dari teman sekelasku yang memakai jilbab. Teriakannya histeris memecahkan suasana santai di kelas.

“Alhamdulillah…” lanjutnya.

Semua teman sekelas lalu berburu memandangiku. Tak terkecuali Galuh yang tadi sempat terkecoh dengan penampilanku. Lalu berhamburanlah mereka mendekat. Mereka memberi selamat atas perubahan penampilanku.

“Selamat ya…selamat ya…mimpi apa kamu semalam…sudah tobat ya…” berondong Galuh.

Aku hanya senyum-senyum mendengar komentar teman-temanku. Kurang lima menit bel berdering tanda masuk kelas. Satu per satu temanku mulai berdatangan. Sama seperti lainnya. Mereka heboh melihat perubahan penampilanku. Lagi-lagi aku hanya senyum-senyum sendiri. Sehari jadi artis jilbab sembari tertawa dalam hati.

Teeeeetttt….bel berbunyi. Hari pertama masuk langsung pelajaran. Dari jauh aku sudah mendengar detak sepatu Bu Erni guru Fisikaku. Pusing aku mendengar detak sepatunya. Karena Fisika berhasil membuat satu uban di kepalaku. Tapi pelajaran itu tetap saja dimulai tanpa peduli tumbuh uban di kepala siapa pun. Tak hanya aku.

“Zahra…ada apa kok kamu dari tadi pegang kepala terus,” Tanya Bu Erni yang ternyata sedari tadi memperhatikanku.

“Hmmm anu Bu…” jawabku grogi dan berkeringat.

“Jilbabnya baru Bu..” sahut Galuh memotong jawabanku.

“Oh iya…ada yang berubah ya… selamat ya…dirapikan tuch jilbabnya..tampak miring…” lanjut Bu Erni.

“Ehh…iya Bu..terima kasih,” jawabku gugup dan malu.

Ya dari tadi aku memang dikit-dikit merapikan jilbab. Maklum jilbab yang aku pakai jilbab kotak yang kalau memakainya pakai peniti. Padahal aku belum pernah pakai jilbab model begini. Ya baru kali ini. Jilbab baruku yang langsung pakai, sementara tidak aku kenakan ke sekolah. Karena tampak tak resmi. Jadi terpaksa aku harus memakai jilbab kotak.

Ya biarlah. Konsekuensi memakai jilbab. Grogi, keringetan, capek. Pasalnya ya harus bolak balik benerin jilbab. Jadi begini raasanya pakai jilbab. Bahagia. Senang. Lucu. Rasakan sendiri dech sensasinya. []

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,47 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

handayani
tentor Islamic talents Center

Lihat Juga

Ilustrasi. (antominang.blogspot.co.id)

Hijab, Antara Kewajiban dan Gaya Hidup