Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Aku Mencintaimu dan Mendukungmu

Aku Mencintaimu dan Mendukungmu

Cintadakwatuna.comEkspresi cinta bisa bermacam-macam. Bagaimana dengan ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah? Menjadi aktifis, saya rasa tidak berarti kehilangan ekspresi dalam mencintai pasangan. Bahkan menurut saya, ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah itu unik, karena juga harus punya pengaruh positif untuk dakwah. Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya ekspresi kita dalam mencintai pasangan dengan dakwah?

Berbicara soal cinta mencintai, saya terkesan dengan filosofi cinta yang dimiliki ibu saya. Filosofi beliau ini saya ‘tangkap’ secara tak sengaja ketika beliau sedang ‘menceramahi’ adik bungsu saya yang laki-laki yang sedang kasmaran. Cerita sedikit, begini kira-kira sebagian kecil isi ceramah ibu saya… “Kalau kamu mencintai seseorang malah membuat kamu jadi malas belajar, malas kuliah, malas ngapa-ngapain, membuat kamu malah jadi mundur kebelakang, itu cinta yang nggak benar …dst”.

Jadi begitu rupanya. Saya mencoba merenungi kata-kata itu lebih dalam. Saya merasakan ada kebenaran dari ‘ceramah’ ibu saya itu. Mencintai seseorang tidak boleh membuat kita menjadi mundur ke belakang. Sebaliknya, mencintai seseorang harus membuat kita lebih produktif, lebih berenergi, lebih punya vitalitas. Singkatnya, mencintai seseorang harus membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya!

Lalu secara reflek saya mengaitkan itu dengan kehidupan cinta antara pasangan aktifis dakwah. Antara Ummahat al-Mukminin dengan Rasul Yang Mulia, antara para shahabiyat dengan suami mereka. Lihatlah ekspresi cinta Fathimah putri Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib, Asma’ binti Abi Bakar terhadap Zubair bin Awwam, Ummu Sulaim terhadap Abu Thalhah, juga ekspresi cinta Khansa’, Nusaibah, dan para aktifis dakwah zaman ini. Mencintai suami tidak membuat mereka menjadi lemah atau mundur ke belakang. Mencintai suami juga tidak membuat mereka menjadi tak berdaya atau tak mandiri. Justru yang kita saksikan dalam sejarah, mencintai membuat mereka menjadi semakin kokoh, lebih produktif dan kontributif dalam beramal, lebih matang dan bijaksana dalam berperilaku. Dengan kata lain, mereka menjadi semakin ‘berkembang’ dan ‘bersinar’ setelah menikah!

Betapa indahnya jika ekspresi cinta kita kepada suami membawa dampak seperti itu! Betapa indahnya jika ekspresi kita dalam mencintai suami memberi pengaruh posititif pada kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai aktifis dakwah.

Menurut saya, mencintai suami tidak berarti ‘kehilangan’ diri kita sendiri. Tidak juga berarti kehilangan privacy, tidak membuat kita merasa ‘terhambat’, ‘terbelenggu’, atau ‘tak berdaya’. Kita bisa mencintai suami kita sambil tetap memiliki kepribadian kita sendiri, tetap memiliki privacy. Tentu saja semuanya dalam batas tertentu dan tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan syari’at Allah.

Bahkan yang lebih dahsyat adalah, jika cinta kita kepada suami memiliki ‘kekuatan’ yang menggerakkan dan memotivasi. Lalu cinta itu mampu membuat kita ‘berkembang’, menjadikan kita semakin energik, produktif dan kontributif! Dengan begitu, pernikahan membawa keberkahan tersendiri bagi dakwah. Karena, dakwah mendapatkan ‘kekuatan dan darah baru’ dari pernikahan para aktifisnya.

Apakah hal itu terlalu idealis? Karena kenyataan kadang berkata sebaliknya. Berapa banyak perempuan kita yang setelah menikah merasa dirinya tidak berkembang? Atau merasa hilang potensinya? Saya tidak ingin mengatakan kondisi ‘tenggelamnya’ perempuan setelah menikah sebagai sebuah fenomena, meski kondisi seperti ini sering saya jumpai di Jakarta dan juga ketika saya berkunjung ke daerah-daerah.

Saya tak ingin membahas kenapa itu terjadi, apalagi mencari ‘kambing hitam’ segala. Tetapi kita patut merenungkan kata-kata Imam Syahid Hassan Al-Banna ketika berbicara tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Saya kutipkan kata-kata beliau ini yang terdapat dalam buku Hadits Tsulasa, halaman 629… “Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah…”

Rumah tangga merupakan lahan amal. Rumah tangga juga menjadi markaz dakwah. Perjalanan kehidupan rumah tangga para aktifis dakwah bukan hanya dipenuhi romantika semata, tetapi juga diwarnai oleh dinamika semangat beribadah, beramal dan berdakwah. Sebuah perjalanan rumah tangga yang bernuansa ta’awun dalam memikul beban hidup dan beban dakwah. Subhanallah!

Saya memberikan apresiasi kepada para perempuan yang setelah menikah justru semakin ‘bersinar’, kokoh, matang, bijaksana, energik, produktif dan kontributif dalam beramal, sambil menjaga keseimbangan dalam menunaikan tugas sebagai istri dan ibu. Saya percaya, untuk bisa mendapatkan semua kondisi itu ada proses panjang, kerja keras dan pengorbanan yang tidak kecil. Barakallahu fiiki.

Lalu untuk perempuan yang masih merasa ‘terhambat, terbelenggu dan tidak berkembang’ setelah menikah, saya ingin memberi apresiasi secara khusus. Berusahalah untuk menghilangkan perasaan terhambat, terbelenggu atau tidak berkembang itu. Ya, sebab membiarkan perasaan-perasaan semacam itu menguasai diri kita, sama saja dengan ‘menggali kuburan sendiri’. Bukankah lebih baik jika kita tetap berpikir jernih dan positif? Lalu mencari bentuk kontribusi yang paling memungkinkan yang bisa kita berikan untuk dakwah. Bisakah kita tetap berhusnuzhon, selama kita ikhlas menjalani hidup kita, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kita? Bisakah kita tetap yakin, bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh gelar, jabatan, posisi, kedudukan, ketokohan dan kondisi fisik lainnya?!

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertakwa diantara kamu” (QS al-Hujurat:13).

Jadi, tetaplah tegar dan sedapat mungkin beramal sesuai kemampuan dan kesanggupan, karena kita tidak dituntut untuk beramal diluar kemampuan dan kesanggupan kita. Barakallahu fiiki!

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (118 votes, average: 9,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dra. Anis Byarwati, MSi.
Lahir di Surabaya tahun 1967. Menikah pada tahun 1989 dan dikaruniai delapan anak. Kuliah pertama ditempuh di Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta jurusan Financial Management. Gelar S1 diraih dari dua tempat, yaitu di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah Jakarta program Khusus berbahasa Arab dengan spesialisasi Tafsir-Hadits dan Sekolah Tinggi Agama Islam At-Taqwa Bekasi Jurusan Dakwah dan Penyiaran Islam. Gelar S2 diperoleh dari Program Pasca Sarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) Jurusan Ekonomi dan keuangan Syariah dengan pilihan konsentrasi Perbankan Syariah.

Penulis mempunyai minat tinggi di bidang sejarah Islam dan khususnya sejarah pemikiran ekonomi Islam. Untuk minatnya ini, penulis secara serius menuangkannya dalam sebuah buku yang ditulisnya bersama Dosen Senior PSKTTI-UI Karnaen Perwataatmadja, berjudul JEJAK REKAM EKONOMI ISLAMI- Refleksi Peristiwa Ekonomi dan Pemikiran Para Ahli Sepanjang Sejarah Kekhalifahan. Buku yang diterbitkan bulan Maret 2008 ini sekarang menjadi salah satu referensi utama dalam Studi Sejarah Pemikiran Ekonomi Islami di almamaternya dan di beberapa perguruan tinggi lainnya.

Disamping itu, keseharian penulis disamping sebagai ibu rumah tangga, aktifis organisasi, juga sebagai aktifis dakwah dan pembicara diberbagai forum diskusi, seminar dan kajian Islam. Keaktifannya berdakwah merupakan manifestasi dari motto hidupnya: Isy Kariman aw Mut Syahidan (Hidup Mulia atau mati sebagai Syuhada).
  • nur rakhmawati

    Assalamua;laikum..

    seneng banget baca-baca di situs ini, materi-materinya oke-oke, lumayan buat modal lq. Bravo ya d'watunaa..

  • Iman Budiman

    Assalamu'alaikum
    salam untuk para pembaca yang budiman
    tulisan-tulisannya mantap……!gw suka bangeeeeeeeeeeeeeeeeet

  • riaandiniamelia

    ass,,,, semoga pembaca setia dakwatuna selalu dirahmati allah

    aku sng banget baca materi diatas karena selain mendukung moral juga menambah ilmu pengetahuan

  • jannah

    asw.subhanallah,materinya bagus-bagus menambah tsaqofah islamiyah.ana boleh saran kalau bs ada rubrik khusus keakhwatan (nikah, anak dll)jazakallah. barakallah dakwatuna

  • fatimah zahra

    Subhanalloh…. materi yang sangat bagus… TOP BGT deh! jadi nambah keyakinan ana untuk menjadi seorang istri yang 'produktif dan kontributif' bagi dakwah. Nikah bukanlah hambatan… Yup ana setuju ! Jazaakillah untuk penulisnya.

  • ummu Amaani

    Trima kasih atas tulisan yg amat positif ini. Cumanya, gi mana menghilangkan rasa terhambat atau terbelenggu itu? saya sering menangisi diri kerna menyesali diri yang sering merasakan berat untuk melakukan kerja2 di rumah sedangkan seingat saya, bukan ini yang saya sering bayangkan semasa sebelum menikah..sebelum menikah saya sering membayangi diri saya untuk menjadi pendokong setia suami saya, namun setelah saya menikah, saya seolah tidak dapat menerima prinsip yg telah saya semai sebelum menikah iaitu untuk jadi tulang belakang suami saya… saya sedar ianya mainan juga bisikan syaitan, namun gi mana merasa ringan melakukan? mungkin ada tips2 yg bisa membantu..jazakillah…

  • Ass…Subbahaallah…menjadi seorang istri yg sholeha (berbakti pd suami) ternyata tidak semudah yg saya bayangkn apalagi menjdi istri seorang aktivis…mau tidak mau kita harus kehilangan sebagian waktu kita dengan pasangan kita (suami),

  • ikhwan syam

    Assalamu alaikum

    Sepertinya hati perlu di baluri dengan keikhlasan untuk bisa menerima semua kondisi yg mungkin tidak pernah terbayangkan sewaktu masih belum menikah.

    Jalan yg paling baik adalah diskusikan hal tersebut dengan suami, minta pendapatnya tentang hal tersebut, dan menurutnya gimana kira kira jalan keluarnya. Apa manfaat diskusi ini, supaya suami bisa menyelami kegundahan anda sekaligus tau dan tentu akan berfikir bagaimana anda tidak mengalaminya lagi (kalau dia suami yg baik)

    Jazakillah
    IKhwan di bumi Allah

  • Sulton

    Assalamualaikum……..
    wah bagus2 banget karya tulisnya… saya suka bacanya…. n ga'membosankan……..

  • ondo

    bagus bangget… semoga berkah buat yang nulis dan juga yang baca … amiiiiiin

  • meidiana

    ingin berkembang menjadi istri hebat,belajarlah dari peristiwa sehari-hari, karena peristiwa itu datangnya dari ALLAH, agar kita jadi cerdas dan kuat,Kuatkan hati Allah akan memberi cahaya.

  • waduuuuh bagus tenan artikelnya kita jadi tambah paham tuh, makasih ya abang none dan para ustad dan ustajah atas nasihatnya

  • bagus amat artikelnya, sebelumnye makasih banyak nih, atas nasihatnya

  • abeefawwaz

    baguss..layak disebarkan

  • yuni

    Terimakasih sangat bermanfaat bagi keluarga baru saya

  • ya allah berilah aq suami yg bisa menjadi partner dakwah yg solid n bisa memberikan kontribusi yg besar pada ummat…amin.

  • veni clara victoria.S.Sos

    Setelah membaca komentar diatas, ana jadi semangat untuk mempersiapkan diri untuk walimah….dan artikel diatas membuka pengetahuan pentingnya walimah untuk memajukan dakwah kita dan pendamping kita kelak.amin…..

  • ketika mendengar nama Hasan al-Banna disebutkan, ketika membaca nama Hasan al-Banna, terkadang saya menjadi merinding, ada rasa kangen yang sulit dikatakan. teringat dengan kesungguhan amalnya, teringat dengan keimanannya. apakah hal ini merupakan tanda cinta, meskipun saya tahu amal saya jauh dari apa yang diungkapkannya tentang tuntutan seorang muslim. bolehkah perasaan seperti ini.

  • Sufisem

    Saya seorang katholik, ajaran saya iman, harapan dan kasih.. saya tersentuh pada tulisan ini dan semoga ini menjadi baik dalam prakteknya tidak seperti yang saya lihat sekarang terlalu mengedepankan emosi dan afektif. semoga menjadi indah pada akhirnnya

  • sri handayani

    subhanalloh..salut dengan tulisan ustadzah..saya punya banyak temen akhwat yang seperti itu..saya juga bisa mengerti kenapa mereka seperti itu…mereka hanya belum mampu untuk keluar dari masalahnya…
    saya juga berazzam, agar nanti ketika sudah menikah, bisa lebih berkembang lagi..
    jazakillah khair ustadzah telah mengingatkan..^^

  • Oktivian Prima Pramestika

    Hal terindah dalam hidup saya adalah ketika saya diberikan kesempatan untuk di cintai dan memiliki seorang suami yang begitu baik. Semoga cinta kita hingga di akhirat kelak.Amiiin….Terima kasih untuk artikelnya. It’s so amazing, So beautiful.

  • Saya sangat terkesan dengan ungkapan “Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah…”
    Suka dan duka dalam kehidupan RT bagaikan bumbu romantika kehidupan pasutri.. Saling Pengertian menjadi pondasi yang kokoh dalam membina RT dan menggapai Ridho Illahi…

  • inong

    mengingatkan kembali betapa kita terkadang menjadikan alasan karena dah menikah,aktifitas2 dakwah kita malah menjadi terhambat dengan alasan rumah tangga

  • nasya

    ass..
    alhamdulillah.. saya baru saja menjadi istri yg subhanallah bisa menjalankan aktivitas2 baru saya setelah mendapat pangkat baru sbg istri..
    alhamdulillah saya jg sangat mencintai suami saya.. dan insya Allah dgn adanya artikel ini dapat membantu saya untuk lebih memahami dan meningkatkan kualitas saya sbg istri yg soleha..
    terimakasih..
    wassalam..

  • Assalamu’alaikumwarohmatullahi
    Alhamdulillah, setelah menjadi seorang istri, rasanya memang luar biasa. Lebih damai saat menjalani ibadah dan hati lebih tenang saat melangkah. Sudah ada harapan.. begitu yang tertanam dalam benak.
    Membaca artikel ini diri serasa tertantang untuk bisa menjadi wanita yang lebih lebih baik dari sebelumnya. Harus lebih produktif setelahnya. Jazakumullah khairan katsiira Dra. Anis Byarwati, dan Dakwatuna. Syukron katsiira.

    Wassalamu’alaikumwarohmatullah
    Qq

  • A. naissaiss

    wohoo..syukron y ukhti..artikelny bgz..sangad bermanfaad..jd ingin sgera marry… ;p

  • santy maemunah

    minta izin untuk share…

  • tety

    great…jujur mb sy jg pernah merasakan hal y sama dgn konds merasa‘terhambat, terbelenggu dan tidak berkembang’ setelah menikah, tetapi dgn berjalannya waktu sy semakin menyadari bahwa rumah tangga didasari oleh semangat ta’awun sy selalu menginat perkataan ust rahmat alm Ketika dua orang dipertemukan oleh Allah dan menemukan cinta dalam da’wah. Apakah pantas sesudah da’wah mempertemukan kami lalu kami meninggalkan da’wah,

  • chosiin

    inspiratif sekali. walaupun saya blom berkeluarga. menurut saya potensi suami/istri terbesar adalah potensi taqwa. keberadaan suami/istri adalah menjadi suplemen motif pendorong ketaqwaan karena motif utamanya tentunya hanyalah karena Allah. sekali lagi potensi tersebsarnya adalah ketaqwaan dan mentaqwakan
    wallahu a’lam

  • Sukeiva

    =)

    ukhty.
    saya baca tulisan ukhty di majalah Al-Falah edisi Mei.
    tulisannya bagus. terimakasih sudah mempostingnya.
    saya tunggu postingan hebat lainnya.

    wasalammualaikum,
    sukeiva

  • lia mulyasih

    Alhamdulilah…disaat rumahtangga dihinggapi krisis peran antara membantu suami ditataran mengabdi dan memberi kontribusi untuk sukses secara materi disadarkan kembali kemuliaan seseorang adalah dari ketaqwaan…memberi batasan agar termotivasi menjadi istri sholehah adalah diatas segala-galanya. Amin ya rabbal alamin

  • kausar

    Assalamua’laikum w.b.t, Alhamdulillah…artikel yang menarik…^_^..syukran jazilan..

Lihat Juga

Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)

Hanya Karena Cinta