Home / Aisyiah Dewindha Fuji Astuti

Aisyiah Dewindha Fuji Astuti

Mahasiswi Pertanian UGM. Merantau dari Tangerang Selatan, Banten. Anak ke 1 dari 3 bersaudara.

Ssstt! Ini Rahasia…

“Jangan bilang siapa-siapa ya”, “Eh, ini rahasia antara kamu dan aku”, “Pokoknya enggak boleh ada orang lain yang tahu”. Mungkin di antara kita sering mendengar kalimat itu, atau kita sendiri yang mengucapkan kalimat itu. Ya, kalimat rahasia! Biasanya diucapkan setelah kita bercerita suatu hal pada orang lain.

Baca selengkapnya »

Nikmat Terbesar Dalam Hidup Ini…

Saat kubaca buku berjudul Ibadah Sepenuh Hati karya Amru Khalid, aku dibuat berpikir, ketika penulis bertanya pada sekelompok anak muda, yaitu nikmat terbesar apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Pemuda yang berumur 18 tahun pun mengatakan, “Nikmat terbesar dalam hidup ini, bahwa Allah adalah Robb kita”. Subhanallah! Jika aku yang ditanya dengan pertanyaan yang sama, aku tidak mungkin akan menjawab seperti yang dikatakan pemuda itu.

Baca selengkapnya »

Doa Indah Para Hamba Allah yang Terpilih

Doa adalah senjata orang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi (HR. Abu Ya’la). Pernahkah mendengar hadits tersebut? Tentu sering bukan? Ya, karena doa adalah otaknya (sumsum/intinya) ibadah, sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk banyak berdoa pada Allah. Bukankah Allah memerintahkan kita sebagai hamba-Nya yang lemah untuk senantiasa berdoa pada-Nya?

Baca selengkapnya »

Renungkan dan Syukurilah Kasih Sayang-Nya…

Nabi SAW bersabda, “Allah menciptakan kasih sayang (rahmah) pada saat diciptakan sebanyak seratus bagian. Dia menahan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian. Kemudian Dia turunkan ke bumi satu kasih sayang, yang dengan itu para makhluk saling mengasihi dan saling menyayangi. Sampai-sampai binatang melata mengangkat kakinya dari si anak karena khawatir terinjak.” (HR. Bukhari)

Baca selengkapnya »

Menyimak Kicau Merajut Makna

Menyimak Kicau Merajut MaknaJudul buku : Menyimak Kicau Merajut Makna Penulis : Salim A. Fillah Penerbit : Pro-U Media Cetakan Ke : 2 Tahun Terbit : 2012 Tebal Halaman : 408 halamanJawaban terindah pada pemfitnah: “Jika kau benar, semoga Allah mengampuniku. Jika kau keliru, semoga Allah mengampunimu.” Jawaban terbaik pada penghina dan pencela kehormatan: “Yang kau katakan tadi sebenarnya adalah pujian, sebab aslinya diriku lebih mengerikan.” Jawaban teragung pada caci maki dan kebusukan: “Bahkan selalu ingin membalas, aku tak kuasa. Sebab aku tak punya kata-kata keji dan nista.” Terjawablah pujian: “Moga Allah ampuni aib yang tak kau tahu; tak menghukumku sebab sanjungmu; dan jadikanku lebih baik dari semua itu.” Jawaban termulia pada yang memuji: “Semoga Allah ampuni yang tak kau ketahui, semoga doamu membaikkan diriku dan dirimu.” Kata-kata indah di atas adalah salah satu “kicauan” Salim A. Fillah. Masih banyak lagi “kicauan” yang penuh pembelajaran, dan semuanya terangkum dalam buku “Menyimak Kicau Merajut Makna”. “Menyimak Kicau Merajut Makna” adalah judul buku terbaru dari Salim A. Fillah. Buku ini merupakan kumpulan tweet dari akun @salimafillah. Kumpulan “kicauan” yang penuh dengan makna, pantas untuk dijadikan muhasabah diri. Di dalam buku ini pun dibahas mengenai adab twitter. Tak hanya itu, buku ini juga menjelaskan bagaimana adab berpuji, adab bicara, adab menasihati, dan masih banyak lagi. Selain kumpulan tweet dari akun @salimafillah, disuguhkan pula kultwit spesial Ramadhan. Kata-katanya begitu memukau. Salim A. Fillah begitu lihai dalam merajut dan merangkai potongan kata-kata dalam tweet-nya menjadi kalimat yang penuh makna. Jika membaca buku ini, maka akan kau temukan pengalaman yang luar biasa. Buku ini adalah sebuah renungan, penuh motivasi, inspirasi, dan juga hikmah. Salim A. Fillah sukses membuat pembacanya “tenggelam” dalam “kicauan”nya. Begitu menyegarkan, memberikan energi yang luar biasa! Dan, Salim A. Fillah pun membuat pembaca benar-benar menyimak “kicau”nya dan merajut makna bersama, menyelami samudera kata-kata mutiara yang mampu menggugah jiwa. Seuntai kicauan berserakan, dari hamba Allah yang tertawan dosanya; santri yang tertahan kejahilannya, yang berharap dapat berbagi manfaat dalam faqir dan dha’ifnya.

Baca selengkapnya »