Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Fitri / Khutbah Idul Fitri 1439 H: 2 Urgensi Ramadhan Dalam Mewujudkan Wihdatul Ummah

Khutbah Idul Fitri 1439 H: 2 Urgensi Ramadhan Dalam Mewujudkan Wihdatul Ummah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Getty Images)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ   .صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

, أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah!

Gema takbir dan tahmid terus bersahutan sejak maghrib hingga pagi ini sebagai bentuk ekspresi kesyukuran dan kemenangan. Kemenangan iman atas hawa nafsu yang cenderung melahirkan perilaku buruk manusia, seperti amarah, dendam, bakhil, tamak, iri dan dengki. Rasa syukur pula tampak menghiasi hari kemenangan di Idul Fitri ini atas nikmat pakaian taqwa yang menjadi hadiah terbaik dari bulan Ramadhan. Keimanan menjadi bekal diri untuk menggapai derajat taqwa-nya melalui jalan-jalan terjal, dan hanya mereka yang bersabarlah yang dapat mencapai kemenangan sejati nan gemilang. Olehnya itu, merekalah golongan yang pantas bergembira di hari agung ini. Dan sungguh merupakan kerugian yang teramat besar bagi mereka yang gagal menapak jalan kemenangan di bulan suci yang akan menemui kita kembali. Bagaimana tidak dikatakan rugi bagi mereka yang meninggalkan puasanya, karena sesungguhnya kegagalan mereka artinya adalah kegagalan meraih maghfirah, kegagalan meraih pahala yang besar, kegagalan memperoleh keringanan hisab di hari kiamat, kegagalan memperoleh kefitrahan, kegagalan meraih kemuliaan Lailatul Qadar, kegagalan meraih rahmat-Nya, dan kegagalan meraih pakaian taqwa. Kesempatan itu kini telah pergi, dan boleh jadi usia hayat kita justru berakhir di tahun ini. Wallaahu a’lam bis-showaab.

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد

Di hari yang fitri ini mari kita sempurnakan kemenangan kita dengan memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil. Kita agungkan nama Allah sambil terus menghadirkan semangat untuk menjadi pribadi yang kokoh dalam iman dan akhlak. Sebulan penuh lamanya Allah ﷻ telah me-ri’ayah jiwa kita dengan puasa dan qiyam Ramadhan agar kita dapat menggapai puncak kesucian  di hari yang fitri. Sebulan penuh pula  Ramadhan men-tarbiyah kita dengan rasa lapar dan dahaga sebagai bentuk napak tilas atas penderitaan kaum dhuafa yang bertahun-tahun merasakan kesempitan hidup. Ri’ayah dan tarbiyah shaum Ramadhan seharusnya dapat menghasilkan para alumni Ramadhan yang memiliki multiple intelligence, yakni kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial.

Jama’ah ‘Ied rahimakumullah!

Di antara sekian banyak keutamaan Ramadhan, terdapat dua urgensi besar bagi umat Islam yang cukup relevan untuk kita hangatkan kembali dalam rangka mengembalikan kejayaan dan keutuhan umat Islam.

Pertama, Ramadhan menjadi sarana untuk mengokohkan ukhuwah dan persatuan umat.

Puasa tidak saja memberikan efek  menguatnya hubungan kita dengan Allah ﷻ melalui aktivitas-aktivitas ibadah mahdhah. Namun, puasa juga telah mengajarkan kita tentang menumbuhkan spiritualitas sosial terhadap sesama manusia. Hubungan horizontal yang begitu intens terjadi di bulan Ramadhan melalui perilaku amal sosial seperti memberikan makanan dan minuman untuk berbuka puasa, membagikan zakat, shalat berjamaah dan berbuka puasa bersama telah menghadirkan quwwatu shilah (kekuatan hubungan) di antara kaum Muslimin. Kita telah mengawali Ramadhan secara bersama, kita pun hari ini berlebaran di hari yang sama, kita pun telah melewati hari-hari puasa kita dengan saling berbagi, saling mengunjungi dan saling memaafkan kesalahan. Social training yang baru saja kita selesaikan sebulan penuh tersebut menjadi sangat tepat untuk terus dipraktikkan di saat umat Islam saat ini sedang mengalami tantangan terberat dalam merawat keberagaman Indonesia. Persaudaraan kita di tahun-tahun politik ini kini sedang diuji. Ketidakstabilan situasi politik, kemudian ditambah lagi dengan situasi ekonomi nasional yang belum menunjukkan adanya tanda-tanda akan meroket, kini kian diperparah dengan munculnya isu-isu provokatif yang mengandung fitnah dan adu domba serta berpotensi merusak ukhuwah insaniyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah Islamiyah di negeri ini. Sebagai umat yang diwarisi akhlak mulia dari baginda nabi Muhammad ﷺ, maka sudah sepantasnyalah umat Islam menjadi penebar rahmat, pembawa kedamaian, dan penjaga persaudaraan di tengah bangsa yang sarat dengan kemajemukan ini. Sungguh elok apa yang telah Beliau sabdakan agar kita dapat saling menguatkan antara satu sama lain :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam berkasih sayang dan mencintai seperti tubuh yang padu,  jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merana karena sulit tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Allahu Akbar 3x Walillaahil hamd, Jamaah ‘Ied Rahimakumullah!

Dalil di atas membuktikan, ukhuwah atau persaudaraan dalam Islam bukanlah slogan dan jargon semata, tetapi menjadi sebuah kewajiban insaniyyah dalam merawat kedamaian di sebuah negeri. Perbedaan politik biarlah menjadi sebuah dinamika dan keberagaman dalam peran-peran kebangsaan kita, namun wihdatul ummah atau persatuan umat harus berada di atas segala perbedaan itu. Beda pilihan, beda pendapat ataupun pendapatan tidak boleh menggerus semangat ukhuwah insaniyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah Islamiyah. Justru ukhuwah ini yang harus melandasi semangat kebersamaan terlepas dari semua perbedaan yang ada.

Pada lain hal, sebagai bentuk ikhtiar imani agar kita dapat mengatasi persoalan kerukunan bangsa dan ukhuwah Islamiyah saat ini adalah dengan menghadirkan kembali  ketaqwaan sebagai pembuka keberkahan untuk negeri. Renungkanlah firman Allah ﷻ  dalam Quran surah al-A’raf ayat 96.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَـٰهُمْ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”  (QS. Al-A’raf : 96)

Inilah yang menjadi urgensi besar kedua dari puasa Ramadhan kita, yaitu Merefleksikan Ciri Ketaqwaan Dalam Kehidupan Pergaulan Sesama Manusia.

Momentum Ramadhan telah berlalu  meninggalkan kita semuanya tanpa sebuah janji ataupun jaminan bahwa ia akan kembali lagi menemui kita. Namun, Ramadhan masih meninggalkan bekas-bekas tempaannya pada diri kita yang hari ini dapat kita rasakan. Wajah-wajah kaum muslimin di hari ini tampak berseri-seri seakan menggambarkan sebuah kemenangan besar dari sebuah perjuangan panjang atau perjalanan jihad menaklukkan kobaran hawa nafsu keduniaan yang selama 11 bulan lamanya menguasai diri kita.

Ramadhan memang telah pergi  namun ia juga menitipkan sebuah bingkisan yang ia tinggalkan untuk kita, yakni berupa pakaian taqwa. Inilah pakaian yang akan membatasi perilaku orang beriman dari akhlak yang tidak terpuji dan mendorong mereka untuk berakhlak mulia, maka berbahagialah mereka telah berhasil mengenakan pakaian terbaik ini. Allah ﷻ menyebutkan bahwa taqwa adalah pakaian terbaik bagi seorang hamba sebagaimana firman-Nya :

يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26).

Taqwa menempatkan kedudukan seorang mukmin pada posisi yang sangat mulia di sisi Allah dan seorang mukmin berhak atas begitu banyak keutamaan karena ketaqwaannya. Seorang mukmin yang bertaqwa dijamin atasnya jalan keluar setiap masalah dalam hidupnya, dianugerahi rezeki dari sumber-sumber yang tidak terduga, dan diberikan kemudahan pada setiap urusannya, serta pada hari kiamat orang yang bertaqwa diringankan hisabnya dan disediakan surga seluas langit dan bumi.

Terdapat 3 ciri ketaqwaan yang sangat dominan menggambarkan akhlak terhadap sesama manusia. Allah ﷻ berfirman :

وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ* الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) manusia. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron:133-134)

Allahu Akbar 3x Walillaahil hamd, Jamaah ‘Ied Rahimakumullah!

Pada ayat di atas tergambar salah satu sifat utama orang bertaqwa yaitu suka memaafkan kesalahan orang lain. Sifat inilah yang dapat mengangkat derajat seorang mukmin pada tingkat kemuliaan yang sangat tinggi di sisi Allah dan dapat menghadirkan kemaslahatan yang besar di tengah manusia.

Simaklah sejenak sebuah kisah mengharukan yang kiranya dapat menjadi pendorong semangat kita untuk memiliki sikap-sikap terpuji yang kini mulai luntur di kalangan umat Islam.

Suatu ketika datanglah tiga orang pemuda kepada sayyidina Umar bin Khatthab. Dua pemuda bersaudara dalam keadaan marah sedang menggeret seorang pemuda lusuh dalam belengguan mereka untuk dituntut di hadapan khalifah.

“Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin ”, ujar salah seorang pemuda, “Qishash-lah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatannya! (Qishash adalah hukuman pancung bagi seorang pembunuh)”

Umar bangkit dan berkata “Bertaqwalah pada Allah! Benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?”.

Pemuda itu menunduk sesal sambil berkata “Benar wahai Amirul Mukminin!”, jawabnya ksatria.

“Ceritakanlah kejadiannya!”, tukas Umar.

“Aku datang dari pedalaman yang jauh. Kaumku mempercayakan berbagai urusan muamalah untuk kuselesaikan di kota ini. Kemudian aku tambatkan untaku di sebuah tunggul kurma, lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku terkejut dan emosi.”

“Ku lihat seorang lelaki tua sedang menyembelih untaku di lahan kebunnya yang tampak rusak tanamannya. Sungguh aku sangat marah, maka dengan murka kucabut pedang dan kutebas lehernya hingga terbunuhlah bapak tersebut. Dialah rupanya ayah kedua pemuda ini.”

Salah satu pemuda penggugat itu berujar, “Wahai Amirul Mukminin! kau telah mendengar pengakuannya, dan kami bisa hadirkan banyak saksi untuk itu.”

“Tegakkanlah had Allah atasnya!”, timpal saudaranya.

Umar galau dan bimbang setelah mendengar pengakuan pemuda itu sambil berusaha membujuk kedua pemuda penggugat itu.

“Sesungguhnya orang yang kalian tuntut ini adalah pemuda shalih dan baik”, ujar Umar, “Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat. Izinkan aku meminta kalian berdua untuk memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu.”

Dengan wajah yang terlihat kesal pemuda penggugat itu berkata, “Maaf, Amirul Mukminin! Kami sangat menyayangi ayah kami. Kami hanya ridha jika nyawa dibayar nyawa dan darah diganti darah.”

Umar yang bersimpati pada pemuda terdakwa yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggungjawab tersebut, kehabisan akal untuk yakinkan kedua pemuda itu.

Pemuda terdakwa itu tiba-tiba berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Tegakkanlah hukum Allah, qishashlah diriku. Aku ridha pada ketentuan Allah. Tetapi mohon izinkan aku menuntaskan  amanah yang tertanggung padaku ini.”

“Apa maksudmu?”, tanya Umar.

“Berilah aku tangguh 3 hari untuk menyelesaikan urusan kaumku. Aku berjanji atas nama Allah, aku akan kembali setelah 3 hari untuk menyerahkan jiwaku”

Sontak  kedua pemuda itu berseru, “Mana bisa begitu, wahai Amirul Mukminin!” .    Khalifah Umar bin Khatthab kemudian menanyakan kepada pemuda terdakwa tersebut, “Wahai anak muda, apakah kau mempunyai kerabat yang bisa kau limpahi urusan ini?”

“Tidak ada wahai Amirul Mukminin. Bagaimana menurutmu jika kematianku masih menanggung hutang dan tanggungan amanah dari kaumku?” kata pemuda tersebut memelas.

“Baiklah! Aku memberimu tangguh 3 hari, tapi harus ada seseorang yang menjaminmu.”

“Aku tak memiliki seorangpun. Hanya Allah, hanya Allah yang menjadi penjaminku wahai orang-orang yang beriman”, jawab pemuda tersebut.

Tiba-tiba sebuah suara berat nan berwibawa menyeruak dari arah hadirin, “Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin!”. Dialah Salman al-Farisi.

“Salman! engkau belum mengenal pemuda ini! Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini!”, kecam Umar.

Salman kemudian menyahut, “Pengenalanku padanya tidak berbeda dengan pengenalanmu, wahai Umar. Aku percaya padanya sebagaimana engkau mempercayainya.”

Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu serta menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman baginya. Kemudian berangkatlah pemuda tersebut hingga tak terdengar lagi kabarnya di hari pertama dan di hari kedua.

Allahu Akbar 3x Walillaahil hamd, Jamaah ‘Ied Rahimakumullah!

Batas waktu tiga hari bagi pemuda tersebut segera berakhir. Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul juga. Umar gelisah sambil mondar-mandir. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat mengkhawatirkan nasib Salman al-Farisi, seorang sahabat nabi asal Persia yang sangat dihormati dan  menghabiskan masa mudanya untuk mencari hidayah.

Mentari di batas hari nyaris terbenam; Salman dengan tenang dan tawakal melangkah siap ke tempat qishash.

Isak pilu hadirin tak tertahan. Tetapi tiba-tiba nampaklah sesosok orang dari kejauhan berlari terengah-engah, terseok terjerembap lalu bangkit dan nyaris merangkak. “Itu dia!”, pekik Umar

Pemuda yang datang dengan tubuh bermandikan peluh serta nafas tersengal itu ambruk di atas pangkuan Umar. “Maafkan aku!”, ujar pemuda yang kelelahan itu.

“Tiada maksudku untuk mengingkari janjiku. Urusan kaumku begitu menyita waktuku. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga tungganganku sekarat di tengah gurun dan terpaksa kutinggalkan, lalu kulanjutkan perjalananku dengan terus berlari.”

Umar kemudian berkata kepada pemuda itu, “Demi Allah! Bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa kau mau bersusah payah kembali ke sini?”

Sang pemuda itu kemudian menjawab lugas, “Supaya jangan sampai ada yang mengatakan, bahwa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi ksatria yang mau menepati janjinya.”

Sayyidina Umar dan hadirin yang melihat pemuda tersebut merasakan keharuan dan terpesona dengan kata-kata yang ia ucapkan.

Dengan mata berkaca-kaca, Umar menoleh ke arah Salman dan berkata “Hai Salman! Mengapa kau mau menjadi penjamin pemuda yang tak kau kenal ini?”

Dengan teguhnya Salman menjawab “Agar jangan sampai ada yang mengatakan bahwa di kalangan umat Islam tak ada lagi yang saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya.”

“Allahu Akbar!”, pekik dua pemuda penggugat sambil memeluk pemuda yang mereka tuntut tersebut dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Allah dan kaum muslimin jadi saksi hari ini bahwa kami telah memaafkan dia. Batalkan eksekusi terhadap pemuda ini.”

“Hei! aku sudah memutuskan qishash atas pemuda ini. Apa maksud kalian?”

Sambil terisak pemuda penggugat itu berkata, “Agar jangan ada yang mengatakan…, tak ada lagi kasih sayang dan saling memaafkan di kalangan umat Islam.”

Takbir dan tahmid bergemuruh disertai sujud syukur para hadirin yang menyaksikan peristiwa mengharukan itu. Qishash pun dibatalkan dan pemuda itu pun bebas dari tuntutan hukum.

Allahu Akbar 3x Walillaahil hamd, Jama’ah ‘Ied rahimakumullah!

Sebagai hamba Allah yang hati dan jiwanya telah ditarbiyah dan di-ri’ayah oleh Ramadhan, maka sudah sepantasnya kita menghidupkan kembali sikap saling percaya, meneguhkan kejujuran, menebarkan kasih sayang dan sikap saling memaafkan. Tepatlah kiranya kita mengintrospeksi kondisi umat Islam saat ini yang terperosok ke dalam perilaku-perilaku yang tidak terpuji, seperti saling fitnah dan saling menjatuhkan, saling hina dan saling hujat. Inilah zaman di mana kejujuran  menjadi barang langka di negeri ini. Bangsa ini juga sedang dilanda krisis moral dan keteladanan. Rakyat kehilangan rasa percaya kepada pemimpinnya, demikian pula para pemimpin nyaris tidak lagi memiliki rasa kasih sayang terhadap rakyatnya, yang mereka pikirkan hanyalah keluarga dan kelompoknya serta para pendukungnya.

Allahu Akbar 3x Walillaahil hamd, Jama’ah ‘Ied rahimakumullah!

Mari kita memulai perubahan sikap dari diri kita sendiri sebagai refleksi dari keberhasilan puasa Ramadhan kita. Buka pintu hati kita bagi setiap saudara-saudara kita. Meminta maaf mungkin adalah perkara biasa yang sering kita lakukan, namun kejujuran dan kelapangan hati untuk memaafkan segala kesalahan orang lain menjadi sesuatu yang jarang bahkan terasa sulit bagi kita. Maka hari ini sebagai pembuktian atas kemenangan iman, mari kita maafkan semua kesalahan itu.

Allah ﷻ berfirman :

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [المائدة: ١٣]

Artinya: “…maka maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada(mu), sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al Maidah: 13)

Bayangkanlah wajah orang-orang terdekat kita, sahabat kita, kakak atau adik kita, kedua orang tua kita, putra-putri kita, barangkali ada kata yang pernah tersilap dan sikap mereka yang pernah menyakiti perasaan, semua itu tentu tidak terlepas dari kelemahan mereka sebagai manusia. Ada saat-saat di mana kita juga membutuhkan kehadiran mereka dalam hidup ini. Maafkanlah mereka, karena Tuhan pun Maha Pengampun atas segala dosa dan kesalahan hamba-Nya. Semoga Allah melapangkan dan melembutkan hati kita untuk saling mengasihi dan saling memaafkan.

Demikianlah 2 urgensi besar Ramadhan yang dapat kita nikmati dan kita refleksikan di hari raya Idul Fitri ini dan di hari-hari setelahnya. Dua urgensi itu berupa sebuah pelajaran dan sebuah pakaian, yakni pelajaran terbaik tentang kesalehan sosial dan pakaian terbaik berupa ketaqwaan. Kesadaran terhadap kedua urgensi ini harus dapat menciptakan hubungan transendensi vertikal yang lebih dekat antara hamba dan Sang Pencipta dan interaksi horizontal yang lebih kohesif di antara sesama umat Islam. Inilah kombinasi hubungan yang ideal sebagai fondasi utama terwujudnya wihdatul ummah (persatuan umat Islam) dalam rangka mengokohkan kembali eksistensi umat Islam untuk menjadi khairu ummah.

Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah ﷻ untuk diri dan keluarga kita, serta untuk bangsa dan negeri ini agar senantiasa dalam keberkahan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’aala.

Allahumma Yaa Allah, segala puji bagi-Mu atas segala hikmah yang Kau ilhamkan kepada kami hingga di hari kemenangan ini,

Segala puji bagi-Mu atas segala ilmu yang Kau pahamkan kepada kami,

Segala puji bagi-Mu atas segala rizki yang  Kau lapangkan untuk kami,

Segala puji bagi-Mu atas iman dan kesabaran yang telah Engkau hujamkan di dada kami. Ya Allah, sampaikanlah shalawat, salam, dan keberkahan atas rasul-Mu Muhammad   beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Tuntunlah kami untuk meniti jalan syukur kami  pada-Mu.

Limpahkan kebaikan dalam segala urusan kami,  curahkan rahmat-Mu dalam urusan akhirat kami, dan lindungilah kami dan keluarga kami, bangsa dan negeri kami, beserta orang-orang yang kami cintai karena-Mu dari malapetaka yang membinasakan.

Liputi kehidupan kami dengan keberkahan hingga Ramadhan kembali menjumpai kami.

Anugerahi kematian kami, yaa Allah… dengan keridhaan-Mu bila kelak pada tahun depan kami tak bertemu kembali dengan Ramadhan-Mu. Wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

Ya Allah, berikan kepada jiwa-jiwa kami ketaqwaan kepada-Mu, dan sucikanlah dia, Engkaulah sebaik-baik Zat Yang Menyucikan jiwa, Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari sulitnya bencana, beratnya penderitaan, buruknya takdir, dan tertawaan musuh.

رَبِّ ٱجْعَلْ هَـٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّـهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ

Ya Allah, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, limpahkanlah keberkahan dari langit dan bumi, dan karuniakanlah rezeki dari segala arah kepada para penduduknya yang beriman kepada-Mu dan hari kemudian.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Taqabbalallaahu minnaa wa minkum – Ja’alanallaahu minal ‘aadiini wal faa-iziin

Wallaahul musta’aan, Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Nanang Masaudi, S.Pd
Guru Madrasah

Lihat Juga

PM Turki Sebut Negaranya Jadi Harapan Kaum Tertindas dari Seluruh Dunia