Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sucikan Hati dan Sebarkan Kebaikan

Sucikan Hati dan Sebarkan Kebaikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tromboflebitblog.ru)

dakwatuna.com – “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat sebongkah daging, yang jika ia baik maka seluruh bagian jasad itu menjadi baik, dan jika ia buruk maka seluruh jasad menjadi buruk, maka (sebongkah daging) itu ialah hati.” (HR. Bukhari)

Di zaman now, banyak kita temukan di media sosial ujaran kebencian, bully, dan berita hoax yang menyayat hati. Caci maki rasanya begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari, para netizen dengan menggunakan akun palsu (fake account) saling menyerang satu sama lain. Dan banyak dari kita merespons dengan kata-kata yang lebih menyakitkan tanpa tabayun (memastikan kebenarannya) terlebih dahulu. Jari-jari begitu lihainya menari-nari di atas keyboard meneruskan (forward) berita hoax dan menyalurkan isi pikiran dan hati yang telah kotor.

Semua hal di atas dilatarbelakangi oleh hati yang telah ternodai dengan dosa-dosa, sehingga menutupi kebaikan yang seharusnya bisa disalurkan untuk sesama. Hati adalah standar kebaikan amalan fisik manusia. Ibarat sebuah kerajaan, hati mempunyai posisi sebagai raja, sedangkan anggota tubuh lainnya sebagai perangkat pemerintahan. Bila rajanya baik, maka akan tercerminkan dalam roda pemerintahannya.

Begitu juga dalam melakukan suatu amal perbuatan kebaikan, yang menjadi patokan penilaian adalah niat yang ada di dalam hati, sesuai dengan hadits Rasulullah “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan (pahala) tergantung apa yang ia niatkan…” (HR. Bukhari & Muslim).

Suatu nasihat atau informasi yang didasari dengan ketulusan hati, akan menyampaikan energi yang positif untuk orang yang dinasihati. Menurut Komaruddin Hidayat, “ketika seseorang berbicara dengan hati, yang mendengarkannya pun akan mendengarkan dengan hati”.

Suasana hati akan sangat berpengaruh terhadap pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh anggota tubuh. Kita tidak bisa menyampaikan nasihat dalam keadaan hati yang tidak karuan, dan tidak bisa mengambil keputusan ketika hati tengah gundah gulana atau ketika merasa sangat senang. Tapi hati yang stabillah yang akan mempengaruhi anggota tubuh kita dalam bertindak, sehingga mengalirkan kestabilan bagi sekitar kita.

Maka, mari kita sucikan dan sirami hati dengan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Sebarkan kebaikan, kedamaian, kekeluargaan, dan hal positif lainnya bagi manusia dan lingkungan sekitar. Karena segala kebaikan bagi alam semesta yang begitu luas, hanya dapat dimulai dari relung hati yang kecil. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4,00 out of 5)
Loading...
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab, UIN Syarif Hidayatullah

Lihat Juga

Noda Besar di Bulan yang Suci itu Bernama Hoax

Organization