Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Merindu Baginda Nabi

Merindu Baginda Nabi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku “Merindu Baginda Nabi”.

Judul Novel: Merindu Baginda Nabi
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika Penerbit
Cetakan: Pertama, April 2018
Tebal Halaman: iv + 176 halaman
ISBN: 978-602-573-419-9

Cinta Yang Universal

dakwatuna.com – Jiwa yang tercelupi nilai Islam, cintanya sungguh memukau. Membuat pemiliknya mengasihi kepada siapa pun. Sikapnya merendah, tidak meninggi. Pemaaf dan tidak mendendam. Adalah Pak Nur, kepala penuh kerendahan hati. Meski mumpuni mengajari para santri, tidak mau disebut kyai. Merasa masih tipis ilmunya dan tidak pantas dengan sebutan itu. Padahal santri hingga warga mengakui pengajian Pak Nur sangat apik. Pak Nur tidak melayani panggilan mengisi ceramah di luar pesantren Darus Sakinah, bahkan ‘sekadar’ ceramah maulid Nabi.

Syarifatul Bariyyah atau Rifa adalah anak angkat Pak Nur. Rifa dibuang orang tuanya. Ditemukan Mbah Tentrem yang kemudian mengangkatnya jadi anak. Diberi nama Dipah yang artinya ‘ditemu ning sampah’. Mbah Tentrem yang sebatang kara menyerahkan kepada Pak Nur saat merasa sudah tidak mampu mengurus karena usia. Mbah Tentrem juga mengamanahi sebidang tanah untuk dijadikan panti asuhan.

Dari novel ini kita banyak belajar tentang ketulusan dan rendah hati lewat tokoh mbah Tentrem, Pak Nur, dan Rifa. Pun juga belajar dari sifat buruk Arum, saingan Rifa memperebutkan juara kelas. Anak seorang pejabat itu culas dan licik. Iri dengan prestasi Rifa yang orang biasa, Arum melakukan trik jahat. Dibumbui hasutan Tiwik, Arum mengintimidasi guru dan kepala sekolah. Mengupayakan Rifa tinggal kelas setelah enam bulan menjalani pertukaran pelajar di San Jose, Amerika Serikat. Namun usaha ini tidak berhasil. Fitnah itu pun berubah jadi amarah. Sepulang sekolah, ada pengendara motor trail menyerang Rifa yang menyebabkan kecelakaan. Rifa gegar otak. Meskipun ringan. Namun, kaki kirinya patah. Dan mengharuskan operasi. (Hal. 82).

Di saat itulah Allah menunjukkan kasih sayang-Nya. Saat Rifa dirawat, setiap hari puluhan orang datang menjenguk. Kepala sekolah, guru, teman sekolah, santri, dan tetangganya. Mereka iba prihatin, dan menangis.

Rifa kedatangan saudara angkatnya dari San Jose. Fiona datang bersama Louise. Mereka tinggal di lingkungan pesantren. Selama di sana, Fiona tersentuh dengan suasana islami. Di suatu subuh, Fiona menyatakan masuk Islam. Rifa dan Louise menjadi saksinya. Tentu sesudah dengan meminta pertimbangan dari orang tua Fiona.

Agaknya, kita harus iri dengan kerinduan yang luar biasa seorang Pak Nur kepada baginda Nabi. Sebagai umat Nabi, kerinduan itu benar-benar terasa dan berefek pada psikis dan fisik seseorang itu. Bukan sekadar hafal atau ucap. (Hal. 155). Keindahan akhlak Pak Nur terlihat ketika akan berkunjung ke makam Nabi, Pak Nur meminta izin kepada seluruh santrinya. Padahal Pak Nur adalah seorang pimpinan, biaya untuk umrah pun dari dana pribadi. Allah sayang pada hamba-Nya. Dia tidak menyia-nyiakan hamba-Nya yang benar-benar merindukan. Impian Pak Nur untuk sowan ke baginda Nabi kesampaian. Bahkan Pan Nur tidak diperkenankan pulang. Pak Nur meninggal di sana.

Dendam yang hebat bisa membutakan nalar. Sepulang dari jambore anak yatim, Rifa yang dibonceng Dian ditabrak mobil dari belakang. Membuat Rifa koma selama 26 hari. Bahkan, Dian meninggal di tempat. (Hal. 165). Berbulan-bulan, Rifa menjalani hidup dengan setengah badan mati lumpuh.

Allah membalas kesabaran dan keikhlasan hamba-Nya. Oleh Bu Ririn, guru Matematikanya yang kuliah di Jerman, Rifa ditawari menjalani operasi di Muenchen. Di sana pula Rifa kembali bertemu dengan saudaranya, Louise dan Fiona.

Membaca novel ini menyemangati kita untuk memiliki rendah hati. Bahwa cinta berlaku kepada siapa saja. Cinta itu melintasi negara. Tidak peduli di mana berada. Bahkan kepada orang yang benci kepada kita. Begitu damai dengan penyelesaian-penyelesaian konflik yang dilakukan tokoh utama. Kang Abik, penulis novel ini masih tidak lepas dari suasana santri seperti novel-novelnya yang lain. Tidak salah jika novel dan penulis identik dengan novel pembangun jiwa. Sayangnya, novel ini kurang tebal. Masih terasa haus dengan pesona akhlak dan keteladanan yang disajikan penulis. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Erdogan: Saya Kenal Pembunuh Jamal Khashoggi

Organization