Home / Berita / Internasional / Asia / FOKMA Perak Adakan Kajian Eksis Tanpa Narsis: Manfaat dan Bahaya Sosial Media

FOKMA Perak Adakan Kajian Eksis Tanpa Narsis: Manfaat dan Bahaya Sosial Media

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kajian Eksis tanpa Narsis dari Fokma di Perak, Malaysia. (Foto: dok. pribadi/dakwatuna.com)

dakwatuna.com – Fenomena negatif yang timbul dari penggunaan jejaring sosial di masyarakat membuat Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia (FOKMA) daerah Perak mengadakan kajian dengan tema Eksis Tanpa Narsis: Manfaat dan Bahaya Sosial Media. Kajian tersbut dilaksanakan pada Ahad (29/4/2018) di Simpang pulai, Perak, Malaysia. Dosen ICT (Information Communication & Technology), Dr Mira Kartiwi, di daulat sebagai narasumber dalam acara tersebut.

Mira menyampaikan bahwa jejaring sosial memiliki manfaat dan juga bahaya yang dapat merusak moral masyarakat di segala umur. Tidak dapat dipungkiri bahwa sosial media menjadi fasilitas yang dapat mempermudah aktifitas manusia. Misalnya dengan telegram, Whatsapp, Instagram, FB dan sosial media lainnya, kita dapat menggunakannya sebagai media untuk berbagi dan mencari ilmu pengetahuan, mencari jodoh, transaksi bisnis, menjalin pertemanan dan lainnya. Akan tetapi saat ini, telah banyak masalah yang ditimbulkan dari penggunaan sosial media. Diantara bahaya tersebut adalah perilaku narsis, selfie syndrome, cyber stalking dan social engineering. Dalam ilmu psikologi, perilaku-perilaku tersebut merupakan sebuah penyakit.

Dr. Mira, dalam acara tersebut menambahkan bahwa ironisnya fenomena narsis di dunia maya semakin lumrah. Ia mengatakan bahwa orang-orang mulai berpikir yang penting tenar bukan benar. Padahal, menurutnya hal ini sangat berbahaya jika dibiarkan. Narsis membuat centre of attention addiction. Akibatnya masyarakat memiliki ketergantungan dengan “like” dan ketakutan dengan “dislike”, memiliki teman dari jumlah bukan kualitas, bahkan membentuk citra diri dari persepsi orang di jejaring sosial. Pemateri yang juga aktif dalam kegiatan cyber parenting tersebut mengingatkan kembali akan bahaya sosial media karena pada hakikatnya jejaring sosial adalah penuh dengan “controlled settings”. Sehingga membuat kita tidak mau seperti kita apa adanya akan tetapi menjadi seseorang yang mengikuti persepsi orang lain.

Selfie syndrome terbentuk oleh media sosial di dunia maya dan bahkan dapat menjadi sebuah ketergantungan khususnya di kalangan kawula muda. Cyber Stalking adalah salah satu jenis tindakan kriminal via internet untuk melakukan pelecehan terhadap individu, organisasi bahkan negara. Semakin banyak data pribadi yang diunduh dalam media sosial yang kita miliki, maka akan semakin mudah seseorang melakukan cyber stalking terhadap individu yang lainnya. Social engineering adalah aktifitas bagaimana cara berbicara, cara berpikir dan cara menyelesaikan masalah seseorang dibentuk oleh orang lain.

Peserta kajian yang berjumlah 40 muslimah Indonesia yang bekerja di wilayah Perak, Malaysia tersebut tampak antusias mengikuti pemaparan dari narasumber. Menjelang zuhur acara ditutup. Dengan hadirnya acara tersebut, masyarakat diharapkan dapat terarah secara umum agar lebih bijak dalam menggunakan sosial media. Selain itu, masyarakat juga diimbau agar membatasi interaksi dengan dunia maya agar tidak ketergantungan dan jangan mudah mengunduh identitas pribadi. Berpikir dua kali sebelum membagikan sesuatu di internet dan tidak lupa untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah. (YY Farikha/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

YY Farikha
muslimah yang saat ini tinggal di Malaysia, selalu berusaha memperbaiki diri dan memberikan manfaat untuk orang lain, suka berdakwah, belajar dan berbisnis

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1439 H: Berita Bohong dan Hubungan Sosial

Organization