Home / Berita / Internasional / Asia / Rahasia Keperkasaan Bashar Assad di Tengah Konflik Suriah

Rahasia Keperkasaan Bashar Assad di Tengah Konflik Suriah

Bashar Al-Assad yang terancam digulingkan paksa (islammemo.cc/arsip)

dakwatuna.com – Damaskus. Perang di Suriah sudah memasuki tahun ke-7. Selama itu, gerakan oposisi yang awalnya hanya demonstrasi damai, menuntut penyelesaian secara politik dan presiden Suriah, Bashar Assad, lengser.

Sejak pecah perang pada tahun 2011 hingga saat ini, tentu banyak sekali tekanan yang diterima Bashar Assad. Namun hingga saat ini tampaknya ia masih terus berkuasa. Lalu apa rahasia keperkasaan Presiden Suriah tersebut? Apa pula faktor-faktor yang membantunya untuk tetap berkuasa di tengah gempuran oposisi maupun tekanan internasional?

Sebuah analisis yang terbit di Aljazeera Inggris menyebutkan, serangan udara AS dan Sekutu pada Sabtu (14/04) kemarin tidak bertujuan mengakhiri Assad. Sebaliknya, serangan hanya pukulan bagi upaya Assad untuk menyatukan kembali Suriah di bawah kendalinya.

Lebih lanjut disebutkan, pada awal-awal konflik tampaknya kelompok oposisi dapat menyeret Assad menjadi bagian pemimpin Arab yang digulingkan. Namun ternyata itu tidak terjadi. Assad tetap berkuasa bahkan hingga tahun ke-7 dari pecahnya konflik.

Sedangkan kondisi saat ini, para pasukan oposisi tampaknya mengalami kemunduran. Ini dapat dilihat setelah mereka kehilangan benteng utama di Damaskus, Aleppo maupun daerah lain.

Assad semakin mantap berkuasa setelah diplomasi internasional juga mengalami kemandekan. Menlu Inggris, Boris Johnson yang dikenal terdepat melawan rezim Assad di kancah diplomasi bahkan menyebut besar kemungkinan presiden Suriah itu tetap berkuasa.

Aljazeera Inggris dalam analisisnya menyebutkan, ada beberapa faktor yang membuat Assad tetap perkasa dalam waktu yang cukup lama tersebut. Faktor-faktor itu ialah:

1. Dukungan Asing Kepada Assad. Setiap kali Assad mulai terdesak oleh pasukan oposisi, maka saat itu juga Iran dan Rusia datang membantu. Teheran tak segan menambah puluhan ribu pasukan dari unsur milisi Syiah, serta intelijen militer dari Iran.

Sementara Rusia memberi dukungan dalam bentuk pasukan udara besar-besaran pada Assad. Bantuan kedua negara ini yang mendorong pasukan oposisi meninggalkan benteng mereka di Damaskus, Ghouta Timur, Aleppo dan lainnya.

2. Oposisi Terbelah. Ini terjadi setelah konfrontasi di antara mereka serta pengaruh pada serangan ke milisi ISIS.

Puluhan oposisi juga terpecah akibat afiliasi regional, identitas etnis, sikap politik hingga sekte keagamaan.

3. Sikap Dunia. Negara-negara Barat serta kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Turki memang menyatakan dukungan pada oposisi dan mendesak agar Assad lengser. Namun sejauh ini mereka tidak melakukan tindakan efektif untuk itu.

4. Dukungan Internal. Meskipun oposisinya meluas, namun Assad juga masih menikmati dukungan besar dari internal Suriah. Dukungan ini bahkan meluas hingga pribadi-pribadi Sunni yang mendapat manfaat finansial selama Assad berkuasa.

Selain itu, kelompok pendukung ini juga tidak punya gairah untuk mengubah status quo di negaranya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Kekuatan Diplomatik Turki Selamatkan 4 Juta Orang di Idlib, Suriah