Home / Berita / Nasional / Jadikan Agama Bahan Tertawaan Tak Membuat Anda Terlihat Lucu Apalagi Pintar

Jadikan Agama Bahan Tertawaan Tak Membuat Anda Terlihat Lucu Apalagi Pintar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ge Pamungkas (kapanlagi.com)

dakwatuna.com – Jakarta, 11 Januari 2018—Materi lawakan dua komika yaitu Joshua yang diduga menyudutkan dan tandensius terhadap keberadaan umat Islam di Indonesia dan Ge Pamungkas yang diduga mengolok-ngolok ayat Alquran sangat disayangkan Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris.

Menurut Fahira, sebagai publik figur yang menjadikan komedi sebagai media berkarya, keduanya harus lebih rendah hati dan mempunyai pengetahuan dan wawasan yang mumpuni dalam menyampaikan kritik sosial dalam lawakan-lawakannya.

“Saya sudah lihat videonya. Saya mau tegaskan bahwa menjadikan agama dan ayat suci bahan tertawaan tak membuat Anda berdua terlihat lucu apalagi pintar. Kritik sosial Anda bukan hanya keliru tetapi kebablasan. Saya sarankan Anda berdua dengan rendah hati mengakui kesalahan dan meminta maaf secara terbuka ke seluruh umat Islam serta ikuti proses hukum jika memang kasus ini dibawa ke ranah hukum,” ujar Fahira Idris, di Jakarta (10/1).

Fahira mengungkapkan, humor atau komedi dalam berbagai bentuk penyampaiannya baik lewat performance, tulisan, grafis, dan video serta media lainnya merupakan salah satu sarana yang sebenarnya efektif untuk menyampaikan kritik sosial, jika penyampai, penutur, atau kreatornya punya pengetahuan yang cukup sebagai dasar untuk berkarya.

Pengetahuan tersebut bukan hanya didapati dari sumber bacaan tetapi juga turun langsung ke lapangan dan ke komunitas-komunitas sehingga materi yang disampaikan bukan berdasarkan referensi sikap dan imajinasi pribadi, tetapi faktual dan tidak merendahkan.

Menurut Fahira, jika kedua komika ini memang berkomitmen ingin sampaikan kritik sosial lewat lawakan-lawakannya, disarankan sering turun ke komunitas-komunitas terpinggirkan di Jakarta. Misalnya melihat kondisi korban gusuran di rumah-rumah susun atau kondisi nelayan yang terdampak reklamasi dan kondisi komunitas terpinggirkan lainnya. Banyak ketimpangan dan ketidakadilan di Jakarta dan di Indonesia ini yang bisa dijadikan materi kritikan sosial lewat stand-up comedy.

“Kalau memang ingin serius sampaikan kritik sosial ya saksikan langsung ketimpangan yang terjadi. Tetapi jika ingin hanya asal kritik dan asal lucu saja, silakan lanjutkan membuat materi berdasarkan referensi sikap dan imajinasi pribadi Anda. Namun, siap-siap juga menghadapi konsekuensinya. Menjadikan agama bahan tertawaan sama sekali tidak ada nilai kritik sosial apalagi nilai kreativitas,” pungkas Senator Jakarta ini. (sb/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Anggota DPD RI dari Provinsi DKI Jakarta, Wakil Ketua Komite III DPD RI.

Lihat Juga

Politisi anti-Islam Belanda Gelar Kompetisi Kartun Nabi Muhammad

Organization