Home / Narasi Islam / Sejarah / Persaudaraan yang Indah

Persaudaraan yang Indah

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tiga pemuda menghadap khalifah Umar bin Khaththab ra, dua di antaranya kakak beradik, dan pemuda satunya yang lusuh, adalah dia yang dibawa oleh kedua kakak beradik tersebut untuk diadukan kepada khalifah. Wahai khalifah, tegakkan keadilan di antara kami, pemuda ini telah membunuh ayah kami. Kami menuntut balas agar dia diqishas.

“Wahai pemuda, benarkah apa yang telah disampaikan oleh kakak beradik ini”? tanya khalifah.

“Dan apa sebabnya engkau membunuh ayah mereka?” lanjut Umar bin Khathab.

“Wahai khalifah, benar apa yang telah disampaikan oleh kedua kakak beradik tersebut. Sesungguhnya saya telah datang dari kampung kami, membawa urusan muamalah amanah dari kaum kami. ketika saya telah sampai di tempat, saya telah mengikat unta tunggangan saya. Dan saya segera menyelesaikan urusan.

“Ketika datang kembali, saya dapati unta itu telah disembelih oleh ayah mereka.

Rupanya unta saya lepas dan merusak kebun ayah mereka. Melihat itu, saya menjadi sangat marah, dan spontanitas saya cabut pedang untuk membunuh ayah mereka. Demikianlah kejadiannya.” Jelas pemuda lusuh tertuntut.

Maka khalifah Umar pun meminta kepada kakak adik tersebut agar memberi maaf kepada pemuda lusuh tersebut.

“Wahai kakak beradik, dia telah dengan penuh tanggung jawab mengakui kekhilafannya, dan semua terjadi spontanitas karena kemarahannya, tak ada merencanakan niat untuk membunuh ayah kalian.

Maka maafkanlah dia, dan saya yang akan membayar denda (diyatnya)” pinta khalifah Umar.

Namun kedua kakak beradik tersebut tidak mau memaafkan, “kami tidak bisa memaafkan, kami tidak akan tenang jika jiwa ayah kami belum dibalas dengan jiwa”. Pemuda tersebut dengan tenang menyampaikan,

“Wahai Khalifah, qishaslah saya, tapi saya minta waktu tiga hari untuk pulang kampung menyelesaikan urusan dengan kaumku. ”

“Apakah engkau tidak memiliki kerabat yang bisa membantu menyelesaikan urusan muamalahmu dengan kaummu wahai pemuda”? tanya khalifah.

“Tidak ada wahai khalifah”.

Kalau begitu, harus ada orang yang mau menjadi jaminan, karena bisa saja engkau lari dan tak datang kembali.

Jika tidak ada penjamin, kami tak bisa mengabulkan permintaanmu.

“Bagaimana pendapatmu wahai khalifah, jika saya mati dalam keadaan menanggung hutang kepada kaumku”? jawab pemuda tersebut.

Tiba-tiba dari belakang muncul Salman al Farisi yang menyampaikan kesanggupannya untuk menjadi penjamin pemuda tersebut.

Khalifah Umar kaget, “wahai Salman, engkau belum mengenal pemuda tersebut, mengapa engkau berani menjadi penjaminnya”?

“Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengan dia, wahai khalifah,

sebagaimana engkau percaya pada pemuda ini, seperti itulah aku percaya pada dia” jawab Salman dengan mantap.

Pemuda tersebut pulang untuk menyelesaikan urusan dengan kaumnya, dengan jaminan Salman al-Farisi.

Hari pertama berlalu, tak ada tanda kedatangan pemuda tersebut. Hari kedua pun menjelang senja, dia belum muncul juga.

Dengan penuh harap-harap cemas, semua orang di lingkungan “istana” khalifah menunggu kedatangan pemuda tadi di hari ketiga. Khalifah Umar bin Khattab tak kalah cemas, mondar mandir sambil menatap ke arah kejauhan, hingga senja di hari ketiga, pemuda tersebut belum juga datang. Semua cemas, akankah sahabat mulia Salman Al-Farisi harus dikorbankan karena menjadi penjamin pemuda lusuh.

Namun Salman melangkah dengan tenang, siap menerima hukuman qishas sebagai pengganti pemuda yang telah membunuh ayah kakak adik yang menuntut balas. Semua menjadi tegang.

Sesaat ketika hampir saja qishas itu diberlakukan kepada Salman, dari kejauhan khalifah Umar melihat pemuda yang dinanti berlari… jatuh.. berlari… jatuh dan berlari kembali dengan terengah engah hingga akhirnya sampai di hadapan Umar bin Khattab ra.

“Maafkan saya wahai khalifah, urusan dengan kaumku ternyata membutuhkan waktu panjang. Kudaku pun kecapaian, hingga dia terpaksa kutinggalkan. Dan saya berlari kesini mengejar waktu untuk memenuhi janjiku, menerima hukuman qishash”. jelas pemuda tadi dengan terpotong menahan nafas karena kecapaian berlari.

Khalifah Umar tertegun, “Wahai pemuda, bukankah engkau bisa saja dengan mudah melarikan diri agar terlepas dari hukuman qishash, apa yang membuatmu tetap datang menjemput kematian?”

“Agar jangan sampai, tidak ada lagi orang yang bertanggung jawab dan memenuhi janjinya, dari kalangan kaum mukminin” Jawab pemuda dengan penuh yakin.

“Lantas engkau Salman, mengapa engkau sedemikian mantapnya mau menggantikan pemuda ini untuk di qishosh”? Bukankah engkau belum mengenal siapa dia? lanjut khalifah.

“Agar jangan sampai, tidak ada lagi orang yang peduli terhadap nasib saudaranya sesama mukmin.” jawab Salman.

Khalifah makin tertegun dan kagum.

Belum lagi selesai kekaguman khalifah, dari arah lain, suara kedua kakak adik memecah keheningan.

“Wahai Khalifah Umar bin Khathab, kini kami maafkan pemuda yang telah membunuh ayah kami, kami cabut tuntutan qishas kepadanya, agar jangan sampai, tidak ada lagi orang yang memaafkan saudaranya sesama mukmin

“Teriak kedua pemuda kakak beradik.”

Subhanallah, persaudaraan yang indah. Persaudaraan yang penuh hikmah. Persaudaraan yang mengokohkan. Persaudaraan yang mengantarkan pada kebahagiaan. Persaudaraan berbuah surga. Persaudaraan karena Allah. #IndahnyaPersaudaraan. (neni/dakwatuna.com0

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Konsultan Ketahanan Keluarga RKI (Rumah Keluarga Indonesia). Tenaga Ahli Fraksi Bidang Kesra, Mitra Komisi viii, ix, x. Ibu dari 7 putra-putri penghapal Alquran. Lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Lihat Juga

Bagaimana Menyikapi Perbedaan, Khilafiyah?