Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Adha / Dukungan dan Pembelaan Bagi Masyarakat Ekonomi Lemah

Dukungan dan Pembelaan Bagi Masyarakat Ekonomi Lemah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com –

اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ

اَللهُ اَكْبَرْكَبِيْرًا، وَالْحَمْدُلله ِكَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَاَصِيْلاً

لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهْ، وَنَصَرَعَبْدَهْ، وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ

لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهْ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

لآاِلَهَ اِلاَّ الله ُوَالله ُاَكْبَرْ. اَلله ُاَكْبَرْ وَلله ِالْحَمْدُ

نَحْمَدُالله حَقَّ حَمْدَهْ، وَنَشْكُرُهُ حَقَّ شُكْرَهُ

اَشْهَدُاَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ

وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

فَيَاعِبَادَالله، اُصِيْكُمْ وَاِيَّايَ نَفْسِيْ بِتَقْوَالله وَطَاعَتِهِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Meresapi Kalimat Takbir dan Menyingkirkan Keangkuhan

Di pagi hari yang berkah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Alhamdulillah, baru saja kita lakukan rukuk dan sujud sebagai manifestasi sikap taqwa kita kepada Allah Swt. Kita agungkan nama-Nya. Kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekadar gerak bibir tanpa makna, tetapi merupakan ungkapan dari hati yang tulus. Menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut disembah kecuali Allah.

Melalui mimbar ini saya mengajak diri saya dan para hadirin, marilah kita tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah Swt. Sebab apapun kebesaran yang kita sandang, kita adalah kecil di hadapan Allah. Betapapun perkasanya kita, khususnya bagi mereka yang berkuasa, masih lemah di hadapan Allah Yang Maha Kuat yang mencipta seluruh planet, ribuan galaksi, termasuk bumi, dan seluruh penghuninya. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, hakikatnya kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa.

Perintah untuk Berkurban

Dalam surah Al-Kautsar, Allah Swt. berfirman,

إِنَّآ أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وِانْحَرْ.

“Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”

Berkurban hakikatnya adalah memunaikan perintah Allah yang memiliki dimensi sosial, melalui berbagi daging qurban, khususnya untuk membahagiakan golongan lemah. Lewat ibadah qurban inilah, Allah Swt. mengingatkan kita untuk berlaku adil secara sosial kepada sesama. Perintah Allah untuk berlaku adil tidak bersifat abstrak, tapi jelas dan konkret.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Nabi Muhammad Saw. mengingatkan:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةً وَلَمْ يُضَحِّ، فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Barangsiapa memiliki kelapangan rezeki tapi tidak berkurban,

maka janganlah mendekati tempat shalat (Id) kami.”

Makna hadis ini ialah bahwa siapa saja umat Islam yang memiliki kelebihan, tabungan, giro di bank, emas dan perhiasan melebihi yang biasa dipakai, tetapi tidak mau berqurban sebesar sekitar tiga juta rupiah untuk membeli seekor kambing, atau sepertujuh sapi untuk dibagikan kepada umat; maka tidak usahlah dia datang ke tempat shalat Id. Ini suatu perintah untuk menegakkan keadilan sosial, yang oleh para founding fathers bangsa kita pada tahun 1945, telah dipatrikan dalam salah satu fundamen dasar negara, Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan itulah sebenarnya sila yang paling diperlakuan tidak adil, sebagaimana perlakuan terhadap rakyat kecil di negeri ini.

Idul Adha atau Hari Raya Qurban, kita rayakan setiap tahun selama empat hari, yakni tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Tiga hari terakhir disebut hari-hari tasyriq. Tentu saja, ini harus diartikan bahwa bagi mereka yang lupa atau masih belum berniat berqurban, maka setelah shalat Id pada hari ini, khatib mengingatkan agar bagi siapa pun yang hadir di sini, dan memiliki kemampuan untuk berqurban, segeralah berqurban sebelum hari-hari tasyriq berakhir.

Potret Kemiskinan Bangsa Setelah 72 Tahun Merdeka

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Makna yang lebih besar dari Idul Qurban, tentu saja mengingatkan kita sebagai bangsa Indonesia tentang keadilan sosial sebagai salah satu prinsip dasar bangsa. Negara kita dengan jumlah muslim terbesar di dunia, seharusnya memberi perhatian besar kepada rakyat miskin. Kita sudah terbebas dari penjajahan kolonial yang membuat bangsa Indonesia semakin terpuruk dalam kemiskinan, khususnya mayoritas yang beragama Islam. Karena itu dalam sejarah perjuangan bangsa, perlawanan terhadap penjajahan muncul dari umat Islam.

Ilustrasi. (primaradio.co.id)

Kini sudah 72 tahun usia kemerdekaan bangsa kita, tapi kemiskinan masih mendera. Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan indeks kemiskinan di Indonesia semakin dalam dan semakin parah selama periode September 2016 – Maret 2017.  Indeks kedalaman kemiskinan pada Maret 2017, mencapai 1,83, naik dari September tahun lalu yang hanya 1,74. Kalau indeks kemiskinan naik, maka tingkat kemiskinan semakin dalam.

Berbagai pemerintahan silih berganti, tapi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi bukannya semakin mengecil, justru semakin meluas. Menurut ekonom senior INDEF, Didik J. Rachbini, tingkat ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial di Indonesia masuk tiga besar dunia. Bukan berarti sama sekali tidak ada kemajuan dan kesejahteraan. Memang telah bertambah jalan baru, pelabuhan baru, lapangan terbang baru, ratusan ribu jamaah umrah dan haji, dan kota-kota yang dipadati kendaraan seperti mobil dan motor. Jutaan anak-anak melanjutkan sekolah atau kuliah. Tetapi pada saat bersamaan, jutaan pula anak Indonesia masih menderita. Jangan lupa, setiap tahun bangsa kita bertambah sekitar 2%   atau 5 juta manusia baru atau 50 juta jiwa setiap 10 tahun. Sehingga tidak lama lagi, dalam 10 tahun ke depan, bangsa kita akan berjumlah 300 juta jiwa.

Derita Masyarakat Desa

Penderitaan masyarakat desa, mulai dari kenyataan masih bayaknya anak yang tidak bisa sekolah, jauhnya jarak dari rumah ke sekolah, jembatan penghubung yang rusak, rumah-rumah gubuk reyot yang masih banyak, jalan-jalan antar-kampung yang masih berupa tanah yang menyengsarakan di kala hujan. Jangankan jauh di pelosok desa, di ibu kota negara pun kantong-kantong kemiskinan sejatinya masih banyak dan berserakan. Seperti di kawasan Tambora, Johar Baru, Bukit Duri, Marunda, dan lain-lain.

Yang lebih ironis adalah, ketika masyarakat desa didera berbagai keterbelakangan, pemerintah justru membangun proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang biayanya diperoleh dari utang yang harus ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia. Maka pantas orang bertanya tentang Program Pemerintah Membangun Indonesia dari Pinggir.

Semua kepincangan pembangunan itu semestinya sudah tidak ada lagi setelah 72 tahun Indonesia merdeka. Ini adalah kegagalan para pemimpin yang tidak peduli kepada anak bangsa yang sudah ratusan tahun ditindas di bawah penjajahan.

Penguasa Harus Berpihak Kepada Masyarakat Miskin

Bukan lagi yang utama dibutuhkan berupa retorika, atau pidato untuk memberi angin sejuk bagi rakyat. Angin sepoi-sepoi sudah lama didendangkan. Tetapi rumah butut dan jalan rusak, angkutan sulit, masih menjadi pemandangan sehari-hari di masyarakat pedesaan. Yang sangat dibutuhkan adalah langkah konkret berupa pemihakan penguasa kepada rakyat lemah yang merupakan pendukung kemerdekaan bangsa, yang dalam masa 72 tahun merdeka, mereka belum merasakan peningkatan dan perubahan hidup.

Kita meminta langkah nyata berupa pemihakan Pemerintah—dan para pejabat yang sudah banyak menerima kenyamanan di masa kemerdekaan—kepada rakyat yang sekitar 40% masih miskin dan bahkan sangat miskin. Kita meminta kebijakan afirmatif dari pemerintah. Cukuplah sudah kebijakan yang berpihak pada pengusaha kroni dan pengembang serta pemburu rente.

Berkaca Pada Negeri Jiran

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Potret Kesejahteraan Bumiputra Malaysia

Kami meminta maaf, kalau dalam khutbah ini, kami menyinggung perbandingan negara tetangga paling dekat dengan kita, yaitu Malaysia sesama rumpun Melayu. Negeri ini adalah jiran kita. Negara ini baru merdeka 15 tahun setelah kita, yakni tahun 1959. Akan tetapi karena adanya pemihakan negara, adanya political will yang kuat dari para elit politik untuk membela rakyat miskin, yang kebetulan Melayu, dalam masa kurang dari 15 tahun dari kemerdekaannya, tahun 1970-an, rakyat yang bekerja di pemerintahan atau PNS, gajinya sudah bisa dipakai menyicil kendaraan roda empat.

Bumiputra Malaysia hanya 60% dengan posisi ekonominya semula hanya 3% dari kekayaan nasional. Tetapi setelah 25 tahun program pembangunan ekonomi, mereka berhasil mencapai sasaran pembangunan, sehingga Bumiputra memperoleh 30% dari hasil pembangunan. Konsep pembangunan seperti ini sejalan dengan semangat Al-Quran dalam surah Al-Hasyr ayat 7:

كَيْ لاَ يَكُونَ دُوْلَةً بَيْنَ اْلأغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

“Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”

Tiga Kiat Sukses Pembangunan Malaysia

Bumiputra Malaysia mengalami kemajuan pesat bukan dengan cara menekan etnis Cina atau India, melainkan dengan tiga jalan utama yang tampak secara kasat mata. Pertama, memajukan pendidikan nasional. Ratusan ribu anak Bumiputra dikirim oleh negara untuk belajar ke luar negeri seperti ke Amerika, Australia, Kanada, Eropa, dan Timur Tengah, untuk menempuh pendidikan dari S1 sampai S3. Dan sekarang sudah puluhan ribu yang berpendidikan S3.

Langkah Kedua, sekembalinya dari luar negeri, mereka diberi prioritas dan fasilitas untuk berkarya dalam semua sektor pembangunan nasional. Dengan cara itulah, ekonomi negara tetangga cepat maju, dibanding negara kita yang lebih menekankan pembangunan ekonomi dibanding pemberdayaan sumber daya manusia.

Langkah Ketiga, Pemerintah Malaysia aktif membeli saham-saham perusahaan asing untuk dijadikan milik perusahaan nasional. Pada giliranya, akan meningkatkan kemampuan bumiputra sehingga semua warga negara Malaysia relatif sejajar, tidak terlalu jomplang dengan membiarkan anak bumiputra yang miskin dan kurang pendidikan untuk sama-sama berkompetisi secara adil. Sebaliknya, Indonesia malah pernah menjual perusahaan nasionalnya kepada pihak asing. Contohnya Indosat yang dulu dijual ke Singapura.

Membangun Desa Menyejahterakan Negeri

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Pemerintah harus berlaku adil, dalam arti bagaimana pembangunan nasional dan APBN kita, dipergunakan secara nyata untuk meningkatkan kesejahteraan 40% rakyat miskin Indonesia. Mereka membutuhkan infrastruktur pedesaan yang nyata. Mereka membutuhkan pendidikan gratis dan pelatihan keterampilan. Mereka membutuhkan peluang ekonomi yang lebih menjanjikan.

Memang pada tiga tahun ini sudah ada bantuan dana desa yang cukup besar. Tetapi tanpa dukungan pendidikan yang sungguh-sungguh dan hanya diberi uang, maka dana-dana tersebut akan lambat membawa hasil, bahkan bisa menimbulkan kegagalan karena dikorupsi. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawasan yang ketat.

Meningkatkan Pendidikan Masyarakat Pedesaan

Pada saat bersamaan, negara juga harus tampil membangun pendidikan yang kuat bagi anak pedesaan. Mengapa tidak direkrut puluhan ribu anak desa yang berbakat dan potensial untuk diberi beasiswa di dalam dan di luar negeri. Mungkin kita tidak bisa mencontoh Malaysia yang mengirim ratusan ribu lulusan SMA ke negara Barat, tetapi kirimlah ratusan ribu anak desa ke universitas yang baik di dalam negeri, dan juga ke negara tetangga yang dekat seperti Malaysia, Singapura, dan Australia.

Inilah kepedulian nyata pemerintah. Satu reformasi yang bukan hanya politik, melainkan juga terutama di bidang pendidikan dan ekonomi. Dan inilah di antara cita-cita Bung Karno dan Bung Hatta, bahwa demokrasi bagi kita, bukan hanya demokrasi politik, melainkan juga demokrasi di sektor ekonomi. Karena sebagian rakyat Indonesia masih berada dalam kemiskinan.

Akibat kemiskinan yang melanda rakyat yang notabene sebagian besar beragama Islam, boleh jadi ini penyebab utama – di samping faktor-faktor lain – makin menurunnya prosentase umat Islam di Indonesia. Dalam pidato-pidato pemimpin Islam pada rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), disebutkan bahwa jumlah umat Islam Indonesia adalah 95 %. Setelah kemerdekaan, persentase ini berangsur-angsur menurun. Dan menurut catatan statistik Kementerian Agama tahun 2017, jumlah umat Islam sekitar 83% atau 207 juta dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 250 juta. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi, Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa kemiskinan itu dekat dengan kekufuran.

كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا.

“Kemiskinan itu mendekatkan pada kekufuran.”

Menciptakan Peluang dan Memberikan Dukungan Finansial

Rakyat miskin harus secepatnya diangkat dan jangan dibiarkan hanya berusaha sendiri. Mereka pasti tertinggal jauh dari kalangan yang sudah dibantu dan banyak mendapat fasilitas dari negara selama ini. Membantu mereka, bukan sekadar memberi secara langsung, melainkan memberi peluang konkret dalam bentuk peluang usaha, perumahan, fasilitas pendidikan, dan lain-lain.

Mengapa income percapita Malaysia jauh lebih tinggi dari Indonesia? Pada tahun 2016, Malaysia punya income percapita lebih dari USD 11.000, sementara Indonesia yang hampir 15 tahun lebih dulu merdeka, baru mencapai income percapita kurang dari USD 4,000? Jawabannya ialah, karena Malaysia dengan dana terbatas mendahulukan pendidikan. Ratusan ribu anak bangsanya dikirim belajar ke Barat; sementara Indonesia selalu menekankan dan mendahulukan pembangunan ekonomi. Padahal, karena mayoritas anak muda kita hanya sampai tingkat SD dan SMP, maka produktivitas mereka tidak terlalu baik. Berbeda bila anak muda memperoleh pendidikan minimal S1 atau lebih tinggi. Inilah yang harus kita capai. Di sinilah rahasia firman Allah Swt. dalam surah Az-Zumar ayat 9,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُوْنَ. إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو اْلأَلْبَابْ.

“Katakan, ‘Apakah sama orang-orang yang terpelajar dengan yang tidak terpelajar? Sungguh, hanya orang cerdas yang dapat menerima pelajaran.”

Bagi negara berkembang (underdeveloped countries), mendahulukan dan menekankan pembangunan infrastruktur, akan mengakibatkan perbaikan sumber daya manusia tertinggal. Hal ini disadari betul oleh menteri Perencanaan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brojonegoro. Menurutnya, pembangunan infrastruktur sangat penting untuk mengatasi kemiskinan, terutama di desa-desa. Sebab pembangunan infrastruktur dapat mendekatkan petani dan nelayan dengan rantai pasokannya.

Pembangunan SDM memang tidak tampak gagah dan mencengangkan, dibanding pembangunan infrastruktur yang jelas kelihatan oleh semua orang. Seperti membangun jalan tol, pelabuhan, jalan layang, bandara, pelabuhan dan lain-lain. Itulah sebabnya SDM selalu ketinggalan atau ditinggalkan. Oleh karena itu dari mimbar ini, khatib al-faqir menyerukan kepada Pemerintah Pusat dan Daerah agar memprioritaskan pembangunan sumber daya anak bangsa. Mendidik putra-putri bangsa minimal sampai S2.

Peningkatkan Alokasi APBN untuk Membangun SDM

Pemerintah wajib menyediakan anggaran yang cukup. Negara yang berhasil memajukan kesejahteraan bangsanya, menyediakan 27 – 29% APBN untuk pendidikan. Indonesia baru menyediakan 20% sesuai ketentuan UUD, tetapi karena dipakai oleh semua Kementerian, malah untuk biaya mencerdaskan bangsa lebih kecil lagi, konon hanya sekitar 10% dari anggaran yang 20% tadi. Untuk itu, Pemerintah wajib menambah APBN untuk pendidikan sampai 30%, dengan prioritas memajukan sekolah formal sampai S1 dan S2.

Mari kita tidak malu mencontoh negara tetangga sesama rumpun Melayu yang berhasil membangun pendidikan, dan berakibat cepatnya dicapai kesejahteraan rakyat yang memadai. Bukan hanya income percapita bisa hampir empat kali pendapatan Indonesia, tetapi kesejahteraan rakyat sangat tampak dalam hal pembangunan negara tersebut. Pembangunan bukan soal jumlah penduduk. Jumlah penduduk besar, berarti terdapat tenaga pembangunan yang besar pula, sedangkan jumlah penduduk yang kecil, maka jumlah tenaga pembangunan juga kecil. Akan tetapi yang menentukan ialah kualitas SDM. Dan kualitas SDM ditetukan oleh pendidikan, bukan dengan prasarana. Dalam surah Al-Mujadilah ayat 11, Allah Swt. berfirman:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُو اْلعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

PENUTUP

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Kesimpulan

Sebelum mengakhiri khutbah ini, sekali lagi, khatib al-faqir ingin menyeru Pemerintah untuk berani berlaku adil, yaitu memberi prioritas dan anggaran lebih bagi sebagian besar rakyat yang ketinggalan, terutama masyarakat miskin di pedesaan. Ketika membuka acara Indonesia Development Forum 2017, Wapres Jusuf Kalla mengajak semua pihak untuk terlibat aktif mengatasi persoalan kemiskinan bangsa. Dia juga berharap agar program dana desa diperbanyak dan ditingkatkan untuk memberikan stimulus ekonomi bagi masyarakat pedesaan.

 

Kita berharap semoga program ini segera terlaksana, supaya perekonomian masyarakat desa membaik, dan angka kemiskinan berkurang. Ketika perekonian membaik, maka peluang masyarakat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi semakin terbuka. Ketika pendidikan rakyat meningkat, akan diperoleh SDM yang berkualitas, yang pada gilirannya dapat menjadi pilar pembangunan  bangsa yang adil dan sejahtera. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

 

Doa

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللّهُمَّ احْفَظْ بِلاَدَنَا بِحِفْظِكَ وَاَمِّنْهَا بِأَمْنِكَ وَابْعِدْ عَنْهَا الْفِتَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ. اَللّهُمَّ أَدِمْ عَلَيْنَا اْلاِسْتِقْرَارَ وَاْلأَمَانَ يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

Ya Allah, peliharalah negara kami dengan pemeliharaan-Mu. Jagalah keamanan negara kami, jauhkan dari fitnah baik yang nyata ataupun yang tersembunyi. Ya Allah, lestarikan stabilitas dan keamanan negara kami, wahai Tuhan Penguasa alam semesta.

اَللّهُمَّ آمَنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةِ أُمُوْرَنَا وَاسْتَعْمِلْ عَلَيْنَا خِيَارَنَا وَاكْفِنَا شَرَّ شِرَارِانَا، وَاجْعَلْ اَللّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, tenteramkanlah negara kami. Perbaikilah para pemimpin dan para penguasa kami. Jadikanlah para pemimpin kami orang-orang pilihan di antara kami. Lindungilah kami dari kejahatan diri kami sendiri. Ya Allah, jadikanlah para pejabat kami orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa, dan mengikuti keridhaan-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

اَللّهُمَّ انْصُرْ سُلْطَانَنَا سُلْطَانَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْ عُلَمَاءَهُ وَوُزَرَاءَهُ وَوُكَلاَءَهُ وَعَسَاكِرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا َمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Ya Allah, tolonglah penguasa kami, pemimpin kaum yang beriman, tolonglah para ulama, para menteri, para pejabat, serta tentaranya hingga hari Akhir. Tetapkan keselamatan dan kesehatan bagi kami umat Muhammad dan seluruh umat manusia.

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر

Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Penguasa alam semesta.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

(amfatwa/dakwatuna)

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Anggota DPD RI/MPR RI Senator dari DKI Jakarta.