Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Adha / Pengorbanan dan Keberkahan

Pengorbanan dan Keberkahan

dakwatuna.com – 

الحمد لله حمداً حمداً… والشكر له شكراً شكراً…

الله أكبر، الله أكبر لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.

الله أكبر عدد ما ذكر الله ذاكرٌ وكبّر.. الله أكبر عدد ما حمد الله حامد وشكر.. الله أكبر ما سطع فجر الإسلام وأسفر.. الله أكبر كلما لبّى حاج وكبّر.. والحمد لله على نعمائه التي لا تحصر وعلى آلائه التي لا تقدر والحمد لله جعل يوم العيد فرحاً وبشراً وثواباً فهو في كل سنة يتكرر.

وأشهد أن لا إله إلا الله كل شيء عنده بأجل مقدَّر.. وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أنصَحُ من دعا إلى الله وبشَّرَ وأنذر… صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم المحشر.

 

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil Hamdu

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Hari ini kaum muslimin di seluruh dunia berada di tempat-tempat ibadah dan tanah lapang untuk mengagungkan Allah, menyucikan Allah, dengan kalimat-kaliat takbir dan tahlil. Sementara jamaah haji tengah bergerak dari Arafah untuk mabit di Muzdalifah menuju Mina untuk melakukan lempar Jamarat dalam ritual manasik haji. Semoga Allah jadikan ibadah mereka haji mabrur, dosa mereka diampuni, upaya mereka mendapat pujian dari Allah, dan usaha mereka diberi keuntungan. Semoga kita yang tengah berkumpul disini, dipanggil Allah untuk menunaikan rukun Islam kelima di tahun-tahun mendatang. Amiin.

Ilustrasi. (seputarmalang.com)

Pada hari ini ingatkan kita kaum Muslimin jauh melambung ke ribuan tahun yang silam, sebuah fragmen kehidupan yang diperankan oleh Khalilur-Rahman, Ibrahim Alaihis salam dan keluarganya. Melalui pengabdian dan pengorbanannya demi mendapat cinta dari Allah. Ibrahim Alaihis salam, yang sejak mudanya penuh dengan perjuangan dan pengabdian. Allah berikan kepadanya kejelasan pandangan dan kejernihan hati dan Allah angkat menjadi nabi penyampai risalah kepada manusia. Semenjak itu hidupnya penuh perjuangan dan tantangan sekaligus.

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ

“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya.” (Al-Anbiya’: 51)

Adakah yang lebih baik dilakukan seseorang selain membimbing manusia mengenal Tuhan mereka, agar dapat menunaikan kewajiban mereka kepada Tuhan mereka? Maka Ibrahim alaihis salam tak henti menyampaikan titah Tuhannya demi melihat di sekitarnya kerancuan berpikir dan keyakinan, hingga orang-orang di sekitarnya melakukan kezaliman yang nyata. Mereka jadikan makhluk yang tidak bisa memberi manfaat dan mendatangkan mudarat sebagai sesembahan selain Allah. Namun, Ibrahim adalah manusia pilihan, meski demikian parah ideologi mereka dan bodoh akal pikiran mereka, beliau tetap melakukan berbagai bentuk pendekatan dan menggunakan berbagai methode penyampaian, mengetuk hati dan pikiran mereka dimana dengan itu mereka telah dimuliakan secara penciptaan.

Sebelum menengok jauh dari orang-orang di masyarakat dan negerinya. Beliau sisir dari orang-orang dekatnya dahulu. Agar tidak dikatakan kepadanya, “Kenapa kau sibuk dengan kami, sedang keluargamu sendiri melakukan apa yang kami lakukan?” Maka mulaikan Khalilur-Rahman dengan orang tua, ayah yang membesarkannya. Dengan bahasa yang santun dan penggilan penuh hormat beliau ajak ayahandanya untuk berdiskusi.

Dengarkan bagaimana Allah menceritakan di kitab suci-Nya,

قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا – يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا – يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا – يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syetan. Sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syetan”. (Maryam: 42-45)

Ya abati…

Adalah panggilan kasih sayang dan penghormatan. Menunjukkan adanya kedekatan dan cinta dari seorang anak kepada bapaknya. Begitulah Ibrahim alaihis salam mengajarkan kepada kita agar melakukan kebaikan untuk orang-orang di sekitar kita dengan cinta dan kasih sayang. Bukan dengan dendam dan kebencian. Keindahan Islam bertambah indah dengan cara menyampaikannya. Hal ini tentu saja akan membuat objek dakwah merasakan getaran kasih sayang dan niat tulus dari seorang dai dengan ajakan dan dakwahnya.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil Hamdu

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Namun, ajakan baik dan kasih sayang yang diberikan tidak berbalas. Karena hidayah adalah hak Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendakinya. Meski kita menghendaki agar orang-orang dekat kita, keluarga kita, anak-anak kita, orang tua kita, kawan dekat kita, atasan kita agar mendapatkan sentuhan hidayah Arrahman, jika Allah tidak menghendaki, hidayah pun tak akan pernah datang. Meski demikian seorang dai pantang menyerah dan patah arang. Segala daya dan upaya dikerahkan demi menyampaikan risalah langit kepada penduduk bumi.

Sebab bumi ini akan gersang kerontang tanpa tetesan rahmat dari langit. Bumi harus dikelola dengan aturan dari langit. Manakala bumi dikelola dengan aturan bumi dengan segala keterbatasnnya, kelemahannya, maka yang terjadi adalah kerusakan dan kebinasaan. Penduduk bumi pun harus terbimbing oleh sistem langit apabila ingin bahagia di atas bumi ini. Manakala penduduk bumi mengabaikan aturan langit, maka kebahagiaan yang dicarinya tak akan kunjung datang, meski ia menemukan, ia tidak lebih hanya sebagai fatamorgana yang tidak memberi kesejukan dan menghilangkan dahaga serta kekeringan.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (An-Nur: 39-40)

Apakah kita mengira bahwa kita mampu mengatur kehidupan manusia ini sedangkan Pencipta manusia dan alam semesta ini telah membuat aturan. Apakah kita mengira kita akan mendapatkan kebahagiaan di luar sistem dan aturan Allah sedangkan kehabagiaan itu bersemayam di dalam hati sedangkan hati itu ada dalam genggaman Allah? Demikianlah Ibrahim tak berhenti menyampaikan risalah Allah kepada manusia agar mereka merasakan kebahagiaan sebagaimana yang dirasakannya, agar mereka mendapatkan cahaya sebagaimana cahaya itu telah menerangi hidupnya, hingga ia terang benderang. Tak ada lagi yang gelap dan remang-remang, sebab cahaya itu adalah cahaya ilahi.

Risiko perjuangan dan tantangan dakwah menyampaikan sumber kebahagiaan kepada manusia pun dihadapi Ibrahim. Ayah dan kaumnya bukannya menerima ajakan kebahagiaan yang ditawarkannya, bahkan terima kasih pun tidak. Demikianlah hati yang terbimbing oleh hawa nafsu dan syetannya. Ajakan kebaikannya disikapi dengan permusuhan dan kebencian. Maka Ibrahim pun diancam untuk disiksa, dirajam, bahkan dibakar. Mereka mengira bahwa dengan menyiksa dan menyakitinya mereka mampu merenggut kebahagiaan yang dirasakannya. Sebab manakala seseorang berada di jalan Allah dan ridha-Nya. Derita sakit dan siksa yang ditimpakan penduduk bumi hanya akan menambah keyakinan dan kebahagiaanya, bahkan hal itu dirasakannya di dunia ini sebelum di akhirat nanti.

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ قُلْنَا يَانَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

“Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 68-69)

Saat kebenaran ilahi tak bisa dibantah, saat argumentasi dan logika insan menjadi tak berdaya di hadapan kekuatan hujjah dan bayan dari Arrahman, maka para  penguasa bumi menyandarkan diri kepada kekuatan dan kekuasaannya dengan menimpakan derita demi menghentikan para dainya. Mereka mengira dengan itu dakwah akan terhenti dan kebenaran akan tunduk kepada kebatilan. Mereka juga mengira bahwa dengan siksaan itu para dai Allah akan menderita lalu berpaling dari perjuangan. Lisanul-hal mereka justru mengatakan, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam konteks Ibrahim alaihis salam, minimal mereka mendapati dua kegagalan dengan sikap mereka itu, pertama, ternyata niat mereka ingin membakar Ibrahim alaihis salam dengan api tidak terjadi. Sebab api, air, angin adalah ciptaan dan tentara Allah. Dia akan membakar jika Sang Pencipta menghendaki. Dan manusia yang diberi kemampuan untuk mengumpulkan api tidak punya kuasa untuk tetap menjadikan api itu tetap panas dan membakar. “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”

Kedua, ternyata dengan itu mereka tidak bisa menghentikan Ibrahim alaihis salam dari dakwahnya.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil Hamdu

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Ibrahim Alaihis salam merasa tidak hanya diutus untuk manusia pada zamannya, beliau terpanggil untuk memikirkan generasi sepeninggalnya. Beliau ingin mengamankan agar ada orang-orang yang menyeru manusia kepada Allah sepeninggalnya nanti. Dan beliau berharap agar mereka itu berasal dari keturunanya dan darah dagingnya. Maka, ketika dirasa usia sudah menua dan kekuatan mulai melemah. Beliaupun merengek kepada Tuhannya agar ada pewaris dari keturunnya yang melanjutkan estafeta perjuangan menyampaikan risalah Allah demi menuntun manusia menemukan hidayahnya. Serta merta beliau memohon kepada Allah dan Allah pun mengabulkan doanya,

وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ وَآتَيْنَاهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (Al-‘Ankabut: 26)

Maka Ibrahim alaihis salam dengan perjuangan dan ketaatannnya, totalitas dan pengorbanannya, bahkan dengan menyertakan keluarga dan keturunannya dalam perjuangan dan pengorbanan menjadi keluarga yang diberkahi. Hari ini para hujjaj melakukan sejumlah ritual yang merupakan pengabadian dari sepak terjang Ibrahim dan keluarganya. Maka keluarga Ibrahim adalah keluarga yang diberkahi. Keluarga Ibrahim adalah keluarga yang berbahagia karena telah mengabdi kepada Sang Ilahi sepanjang hidupnya. Maka tidak heran kalau setiap muslim, karena cintanya kepada nabi Muhammad SAW, selalu melafadzkan doa kepada Allah pada akhir tahiyatnya. Semua dilakukan agar Allah memberi keberkahan kepada nabi Muhammad saw sebagaimana keberkahan yang diberikan kepada Ibrahim dan keluarganya melalui shalawat Ibrahimiyah.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Ya Allah beri shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah beri shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.” (HR. Bukhari Muslim)

Maka keberkahan dan kebahagiaan itu hanya diberikan kepada yang kerap mata yang menahan kantuk karena berjaga di perbatasan Allah atau yang menangis karena takut kepada Allah. Kepada tangan yang menyentuh dingin air di malam hari lalu, ia basuh anggota wudhunya dengan air itu, saat orang terlelap dalam tidurnya dan terbawa oleh mimpinya. Keberkahan Allah berikan kepada sesiapa yang memberi manfaat kepada orang lain mesi hanya sekulum senyum atau kalimat bijak yang menentramkan. Keberkahan dan kebahagiaan ada pada huruf-huruf Al-Qur’an yang kamu eja meski terbata-bata, apatah lagi engkau mahir lalu Al-Qur’an mengalir dari kedua bibirmu sebagaimana ia diturunkan.

Kebahagiaan dan keberkahan adalah dengan memberi apa yang terkuat ikatannya dengan hati kita di jalan Allah dan karena Allah. Layaknya Ibrahim yang mempersembahkan putra kesayangannya semata karena ketaatannya kepada Allah. Adalah saat kau mengajak orang menemukan hidayahnya dengan kata-katamu, tulisanmu, senyummu, santunanmu.

Penutup

Maka dalam shalat ada kebahagiaan dan keberkahan. Dalam puasa ada kebahagiaan dan keberkahan. Dalam zakat ada kebahagiaan dan keberkahan. Dalam haji ada kebahagiaan dan keberkahan. Dalam interaksi dengan Al-Qur’an ada kebahagiaan dan keberkahan. Dalam amar makruf nahi mungkar ada kebahagiaan dan keberkahan. Dalam jihad dan dakwah ada kebahagiaan dan keberkahan. Dalam pengorbanan ada kebahagiaan dan keberkahan. Dalam upaya meninggalkan kemungkaran, kemaksiatan, kebohongan, kemunafikan, perdukunan, riba, berjudi, akhlak yang buruk, perpecahan, kesombongan, kesyirikan, kezaliman ada kebahagiaan dan keberkahan.

إِنَّ لِلَّهِ آنِيَةً مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ ، وَآنِيَةُ رَبِّكُمْ قُلُوبُ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ , وَأَحَبُّهَا إِلَيْهِ أَلْيَنُهَا وَأَرَقُّهَا

“Sesungguhnya Allah memiliki tempat di antara penduduk bumi ini. Dan tempat Allah itu adalah hatinya hamba-hamba yang shalih, maka yang paling dicintai adalah yang paling halus dan paling lembut.”

.اللهم صلّ وسلم على عبدك ورسولك محمد

(asfuri/dakwatuna)

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lahir di Lamongan dan telah dikaruniai Allah 6 orang anak. Lulusan MTS di Gresik, MA di Gresik, dan LIPIA Jakarta. Sehari-hari sebagai Pengajar. Aktif di beberapa organisasi, antara lain LSM FOCUS, dan IKADI DKI Jakarta. Beberapa karya ilmiah telah dihasilkannya, antara lain “Rambu-Rambu Tarbiyah” (terjemahan, CIP Solo), “Anekdot Orang-Orang Tobat” (Darul Falah), “Galaksi Dosa” (Darul Falah), dan “Kereta Dakwah” (terjemahan, Robbani Press). Moto hidupnya adalah “Pada debur ombak, daun jatuh, hembus angin, ada tarbiyah”.

Lihat Juga

Khutbah Idul Adha 1437 H: Pemuda Pelanjut Reformasi