Home / Berita / Internasional / Amerika / Sempat Memanas, Rusia Tegaskan Siap Kerjasama dengan AS

Sempat Memanas, Rusia Tegaskan Siap Kerjasama dengan AS

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Rusia mengumumkan pihaknya masih siap melakukan kerjasama dengan AS. Hal ini dilakukan untuk menghormati kedaulatan antara dua negara. Rusia seacara tiba-tiba mengeluarkan pernyataan ini menanggapi pengesahan RUU baru hasil Kongres Amerika Serikat pada Kamis (26/07/17). Kongres ini membahas kebijakan baru AS untuk memberikan sanksi kepada Rusia, Iran, dan Korea Selatan.

Lavrof: Keputusan Moskow Kurangi Pegawai Diplomat AS di Rusia Karena RUU Permusuhan dari AS
Lavrof: Keputusan Moskow Kurangi Pegawai Diplomat AS di Rusia Karena RUU Permusuhan dari AS

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrof, menegaskan bahwa Rusia telah melakukan komunikasi intensif dengan Menlu Amerika, Rix Tillerson. Lavrof menegaskan bahwa Rusia siap melakukan kerjasama bilateral dengan Amerika Serikat untuk membahas isu internasional. Dia menambahkan bahwa kerjasama ini terjadi sebagai bentuk kesetaraan dan penghormatan antara dua negara.

Lavrof mengatakan kepada Tillerson bahwa keputusan Rusia mengurangi jumlah diplomat AS di Rusia muncul bukan tanpa sebab. Ia menjelaskan bahwa kebijakan pengurangan itu muncul setelah AS mengumumkan beberapa sikap yang berbau permusuhan kepada Rusia. Sebuah rilis juga menyatakan bahwa Sergei dan Tillerson telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan tentang isu-isu kedua negara.

Rusia pada Jumat (28/07/17) mengumumkan akan mengurangi jumlah diplomat AS di wilayahnya setelah mengetahui hasil Kongres Amerika Serikat yang merancang kebijakan untuk memusuhi Rusia atas tuduhan campur tangan dengan pilpres AS 2016 lalu.

Rusia memberikan tenggat waktu kepada Amerika sampai awal September untuk mengurangi pegawai Kedutaan Besar AS di Rusia. Banyaknya pegawai yang diizinkan Rusia kepada AS berjumlah 455 orang. Rusia juga melarang Kedutaan Besar AS menggunakan aset tempat tinggalnya di Moskow.

Hambatan Rusia

Wakil Menlu Rusia, Sergei Ribakov, menjelaskan bahwa reaksi Rusia terhadap keputusan Kongres Amerika tidak akan berhenti di pemotongan jumlah pegawai dan penyitaan properti saja. Ribakov menjelaskan bahwa Rusia tidak menafikan kemungkinan perbaikan kerjasama bilateral dengan AS, seperti dilansir media Sputnik pada Jumat (28/07/17).

Ribakov menambahkan bahwa Amerika berusaha mencari objek pelampiasan menanggapi kebijakan pemerintah Rusia terhadap diplomat Amerika. AS berusaha mengganggu perusahaan-perusahaan Rusia yang berada di Amerika. Rusia sendiri tidak akan mengikuti aturan dari Amerika ini.

Ribakov menjelaskan bahwa Rusia telah bersabar selama tujuh bulan menunggu pengembalian harta diplomatiknya di Amerika Serikat. Hal ini dilakukan setelah AS mengajukan beberapa syarat damai yang tidak diterima Rusia.

Kamis (28/07/17), Senat AS melakukan voting dan menghasilkan 98 suara setuju dan 2 menolak untuk kebijakan RUU baru yang memberikan sanksi kepada Rusia, Iran, dan Korea Selatan. Hasil Kongres Amerika ini menempatkan Donald Trump di posisi yang sulit untuk mengesahkan RUU baru ini. Trump berada di dua pilihan sulit, antara menerima keputusan kongres dan menghukum Moskow atau menggunakan hak veto dan membatalkan keputusan Kongres. Jika memilih untuk membatalkan hasil Kongres, maka Trump bersiap untuk mendapat kritik dari Partai Republik. (js/aljazeera/dakwatuna)

Sumber: aljazeera.net

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Lihat Juga

FPRI Amerika Ungkap Penyebab Kedekatan Hubungan Turki – Rusia