Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bebaskan Perekonomian dari Riba dan Judi

Bebaskan Perekonomian dari Riba dan Judi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Dominasi transaksi ribawi dalam perekonomian telah berdampak pada berfluktuasinya tingkat inflasi dan berpotensi sebagai alat eksploitasi manusia, mengarah pada ketidakadilan distribusi, dan membawa pada marjinalisasi kebenaran.

Riba adalah tambahan nilai yang diperoleh dengan tanpa resiko dan bukan merupakan hadiah atau kompensasi kerja. Oleh karena itu, riba dimungkinkan terjadi pada transaksi perdagangan ataupun keuangan.

Riba perdagangan timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitas, sama kuantitas, dan sama waktu penyerahan, seperti dalam kasus jual beli valuta asing yang tidak dilakukan secara tunai. Transaksi seperti ini dilarang dalam Islam karena mengandung unsur gharar atau ketidakjelasan bagi kedua belah pihak dan berdampak pada ketidakadilan.

Dalam transaksi keuangan, eksploitasi maupun ketidakadilan juga mungkin terjadi. Dalam hal simpan-pinjam, misalnya, Islam melarang untuk mengenakan denda jika utang telat bayar karena prinsip utang dalam hal ini adalah menolong orang lain dan tidak dibolehkan mengambil keuntungan dalam menolong orang lain. Dalam riba jahiliyah tersebut, potensi eksploitasi sangat tinggi.

Di samping itu, pengambilan keuntungan sepihak dalam transaksi keuangan juga dilarang dalam Islam, yang dikenal dengan riba nasi’ah, dimana ada kesepakatan membayar bunga dalam transaksi utang-piutang atau pembiayaan. Dalam hal ini, satu pihak akan mendapatkan keuntungan yang sudah pasti, sedangkan pihak lainnya hanya menikmati sisa keuntungannya, jelas ini tidaklah adil.

Dalam hal lain, Islam juga melarang judi yang sudah menjadi budaya di banyak negara maju. Judi, yang dicirikan oleh win-lose, merupakan salah satu sumber ketidakadilan dan mematikan sumber daya produktif. Dengan dialokasikannya sumber daya dalam perjudian, maka nilai tambah perekonomian akan terhenti dan berpotensi pada pengumpulan atau transfer sumber daya ekonomi dari pihak yang produktif ke non produktif.

Dengan demikian, penggunaan riba dan judi berdampak buruk pada perekonomian di antaranya adalah ketidakadilan distribusi pendapatan dan kekayaan, potensi eksploitasi terhadap pihak yang lemah, alokasi sumber daya ekonomi tidak efisien, dan terhambatnya investasi.

Dengan adanya dampak riba dan judi dalam perekonomian, maka diperlukan usaha yang berkesinambungan dalam memperjuangkan dampak tersebut di antaranya dengan cara mendidik masyarakat dan mengajak partisipasi mereka dalam proses penghapusan sistem riba dan judi. Mengurangi dan menghilangkan sebab-sebab yang membuat para pemodal menggunakan prinsip bunga. Mencegah terjadinya penurunan produksi dan pengangguran. Perlunya pemerintah dalam membantu usaha-usaha tersebut.(risma/dakwatuna.com)

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Tentang

  • Adib Rahman

    emang sudah budaya kapitalists bikin untung tanpa ada batasan (tidak ikut suruhan Quran dan sunnah nabi saw ) makanya tentu sekali tidak syukur dan tawakkal pada Allah dalam transaksi bisnes dimasa kini dan selamanya dalam sistem perdagangan kafirun……wallahua’lam

  • Bila Kita

    Dapatkan hadiah menarik dengan bermain di DEWALOTTO dengan hanya 1 userid saja kita sudah bisa memainkan semua permainan yang ada di sana lohh yuk buruan daftarkan diri anda ya..

Lihat Juga

Dunia Riba di Bumi Kontemporer