Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cahaya itu Benar Adanya

Cahaya itu Benar Adanya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (markazimammalik.com)

dakwatuna.com – Dalam mengarungi samudera kehidupan, setiap insan tak akan lepas dari yang namanya ujian. Karna setiap kita pastilah akan menjumpainya, baik dalam keadaan siap maupun tidak siap. Semakin tinggi keimanan seseorang, akan semakin besar pula ujian yang akan dihadapinya. Ibarat sebuah pohon, semakin tinggi pohon itu maka akan semakin besar pula angin yang menghadangnya.

Terkadang kita masih bertanya, untuk apa ujian itu? Allah menjawab dalam QS Al-Ankabut ayat 2-3:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS: Al ‘Ankabuut ayat 2-3)

Tentunya Allah memberikan ujian kepada kita tidak semata-mata ujian belaka namun pasti ada rencana Allah dibalik ujian yang diberikan, yang mana Allah inginkan kita merasai bumbunya kehidupan. Ujian dalam hidup di dunia terkadang berupa kelapangan dan kenikmatan, namun terkadang berupa kesempitan dan musibah. Ujian berupa kelapangan dan kenikmatan banyak dari kita lalai dan tak menyadari akan hal itu. Sedangkan ujian berupa kesempitan dan musibah banyak dari kita menyadari tapi tak mengerti akan hakikatnya sehingga tak mau bersabar menghadapinya.

Padahal hakikatnya, dalam setiap ujian yang menimpa manusia akan selalu ada kebaikan. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadist dari Suhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Segala sesuatu yang terjadi padanya semua merupakan kebaikan. Ini terjadi hanya pada orang mukmin. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan dia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya“ (HR Muslim).

Dalam menghadapi ujian seringkali kita merasa seakan-akan hidup ini dipenuhi dengan kegelapan. Tanpa cahaya sedikitpun. Jangankan untuk melangkah, karna dalam diri sudah diyakini tak ada arah dan harapan. Ya seperti itu memang yang terjadi pada kebanyakan dari kita, namun sejatinya hal itu hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang jauh dari Cahaya-Nya.

“Allah SWT. itu (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi, perumpamaan cahayanya seperti relung-relung yang di dalamnya terdapat lampu. Lampu itu ada di dalam kaca, kaca-kaca nampak seperti bintang gemerlapan yang dinya¬lakan dari minyak zaitun yang diberkati tidak terdapat di timur maupun di barat. Minyak itu bercahaya walaupun tidak tersentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah SWT. membimbing orang yang dikehendaki kepada cahaya-Nya. Allah SWT. mengemukakan banyak perumpamaan kepada manusia. Allah SWT. jugalah yang Maha Tahu akan segala sesuatu”. (QS An-Nur: 35)

Pada dasarnya, seluruh alam semesta ini berada dalam kegelapan, lalu Allah memberi cahaya kepada segala sesuatu yang ada dilangit dan bumi. Terang dan gelap adalah dua keadaan yang berbeda. Tidak sama keadaan orang yang berada ditempat terang dan ditempat gelap, seperti yang teah Allah jelaskan dalam QS Fathir: 19-21: (9) Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.  (20) dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. (21) dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. (Fathir 19-21)

Orang yang berada dalam kegelapan adalah orang yang jahil, bodoh, tidak berilmu, hidupnya tidak karuan dengan berbagai kesulitan dan kesengsaraan. Sedangkan orang yang berada ditempat terang ialah orang yang berilmu, hidup sejahtera, aman, nyaman dan tentram dengan keberkahan dan rahmat Allah SWT.

Terdapat cahaya yang sejatinya melebihi cahaya yang keluar dari makhluk Allah yang berada di langat seperti cahaya bulan dan bintang yang mampu menembus awan dan kegelapan malam atau cahaya matahari yang bersinar menerangi alam semesta. Cahaya tersebut tidak dapat ditembus oleh benda-benda langit , karna cahaya tersebut mampu menerangi dan menembus kegelapan dunia. Kekuatan cahaya tersebut tidak pernah dimiliki oleh benda-benda langit, yang mana cahaya tersebut dapat melembutkan hati yang keras sehingga dapat membentuk suatu peradaban yang sangat berguna bagi alam semesta.

Dan cahaya itu adalah cahaya yang keluar dari kalbu insan berupa keimanan yang datang dari cahaya Ilahi. Cahaya inilah yang aka menjadi penerang jiwa saat dilanda ujian. Dengan cahaya itu Allah akan membimbing manusia untuk menuju kepada Cahaya-Nya yang berlapis-lapis.  Dan sejatinya, cahaya ini telah ada pada diri setiap insan, namun balik lagi pada keimanan dalam diri. Ketika keiman itu belum tumbuh dalam diri, maka tak kan bisa berjumpa dengan cahaya-Nya.

Maka saudaraku, berusahalah terus menerus tuk meningkatkan kadar keimanan. Agar tentram hati ini dalam keadaan apapun. Jangan patah semangat ketika ujian melanda, karna dalam firmannya QS Al-Insyirah: 6 “Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan”. Percayalah, bahwa cahaya-Nya kan menuntun kita dari kesulitan menuju kepada kemudahan. Dan yakinilah, bahwa Cahaya itu benar adanya pada diri insan yang beriman. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi STEI SEBI prodi Akuntansi Syariah. Hanya seorang hamba Allah yang berusaha untuk selalu dalam barisan pejuang Agama-Nya.

Lihat Juga

Hijrah, Dari Gelap Menuju Cahaya

Figure
Organization