Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hijrah, Dari Gelap Menuju Cahaya

Hijrah, Dari Gelap Menuju Cahaya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Madinah Al-Munawwarah tempo dulu dalam lukisan (inet)

dakwatuna.com – Padang terik nan gersang, semilir debu beterbangan memendekkan jarak pandang, di gerbang kota, berkerumun masyarakat Madinah menanti kedatangan Sang Pembawa Cahaya.

“Betapa aku merindukan Rasulullah, meski aku tahu Allah melindunginya ” ujar seorang lelaki berbadan legam yang terompahnya sudah mencapai surga, Bilal bin Rabah. “kalau tidak aku pasti lebih cemas, kita sudah lama menunggu kedatangannya” sambung Bilal.

“Segala sesuatu terjadi sesuai takdir” ujar Umar bin Khathab sambil menenangi Bilal, sementara wajah penduduk Madinah kian pias cemas karena belum terlihat tanda-tanda kedatangan seseorang yang mereka tunggu.

“Rasulullah telah datang! Rasulullah telah datang!” pekikkan Salim, Maula Abu Hudzaifah memecah keheningan, di kejauhan tiga unta berjalan landai menandakan betapa berat perjalanan mereka, salah satunya membawa sosok yang menjadi rahmat bagi semesta alam, Nabi Muhammad SAW.

Itulah sekelumit kisah hijrah kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah, yang dihikayatkan dalam sirah nabawiyah karya syaikh Shafiyurahman al Mubarakfuri. Kelak peristiwa ini menjadi penanda kalender penanggalan umat Islam di zaman kekhalifahan sayidina Umar atas usul dari Sayidina Ali yang disebut sebagai tahun Hijriyah.

Peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, serta segenap kaum muslimin kala itu, adalah hijrah yang menggabungkan antara fisik dan jiwa, secara fisik pindah tempat bermukim dari Mekkah ke Madinah, dan makna ruhani berpindah dari lingkungan yang kelam nan gelap menuju lingkungan baru yang membawa asa dan cahaya.

Dalam Risalah Tabukiyah, Imam Ibnul Qayyim al Jauzi mengatakan, hijrah dapat diartikan menjadi dua bagian, hijrah makaniyah dan hijrah maknawiyah, atau lebih dikenal dengan hijrah fisik dan hijrah batin. Hijrah fisik dapat diartikan berpindah tempat dari dunia kelam menuju untaian hidayah. Merubah penampilan dari yang terbuka menjadi tertutup.

Sedang hijrah batin adalah berpindah dari kekufuran menuju keimanan, dari durhaka menuju taat, dari berharap kepada makhluk menuju hanya berharap kepada Allah SWT.

Belakangan ini, kata hijrah menjadi amat populer di kalangan anak muda yang sedang bersemangat mengikuti kajian keagamaan, tentu hal ini harus disambut dengan positif. Dengan catatan, hijrah yang dilakukan semata-mata hanya untuk Allah. Dengan demikian, ia akan merasakan kecintaan Allah dan Rasul-Nya, tidak ragu-ragu bahkan merasa mantap meninggalkan segala perkara yang melalaikan dirinya dari mengingat Allah.

Momentum bergantinya tahun Hijriyah adalah saat yang paling tetap untuk merenungi diri sendiri, sudah betulkah langkah kita, sudah mantapkah hati kita dalam berhijrah, sudah sampai mana langkah hijrah kita untuk terus memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Makna hijrah yang sesungguhnya bukan sekadar merubah penampilan, tapi juga merubah akhlak, perbuatan dan tutur kata yang bisa mengundang keridhaan Allah SWT dan menambatkan hati hanya kepada-Nya. Selamat berhijrah ke jalan Allah SWT. (arya/dakwatuna.com)

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Arya Jagad Pamungkas, pemuda kelahiran Depok, 06 Januari 1994, lulusan Diploma 3 Bina Sarana Informatika pada 2015 dan S1 di STMIK Nusa Mandiri pada 2016. Semasa kuliah di Bina Sarana Informatika, ia menjabat sebagai Ketua Cabang Depok Lembaga Dakwah Kampus BSI pada tahun 2013, setahun berikutnya mendapat amanah menjadi Ketua Umum Lembaga Dakwah Kampus BSI se Jabodetabek, selain aktif di organisasi kampus, Arya juga aktif di organisasi luar, tercatat pernah menjadi koordinator kaderisasi Pemuda Persatuan Umat Islam Kota Depok pada tahun 2015, saat ini Arya bergabung dengan Forum Lingkar Pena Jakarta

Lihat Juga

Neno Warisman: Ada Warna Baru yang Disajikan di Aksi Reuni 212