Home / Narasi Islam / Sejarah / Meneladani Keteguhan Prinsip Hafshah binti Umar (untuk Muslimah)

Meneladani Keteguhan Prinsip Hafshah binti Umar (untuk Muslimah)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (legend.az)

dakwatuna.com – Bismillah washolatu wassalamu’ala rosulillah, segala puji bagi Rabbul Izzati atas banyaknya nikmat yang tiada terhitung. Sesungguhnya salah satu nikmat yang paling lezat adalah ketika seorang hamba mampu mengondisikan hatinya dalam setiap tempatnya.

Sebuah metode yang paling baik untuk pembelajaran adalah metode modelling atau percontohan, maka mengkaji sejarah adalah sebuah bentuk pembelajaran yang baik dalam pewarisan akhlaq dan ilmu. Seperti berkaca pada seorang Hafshah Binti Umar.

Sebuah ritme perjalanan seorang mujahidah Hafshah Binti Umar yang layak menjadi contoh untuk para muslimah di era yang mulai mengikis malu dan iman.

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At Tahrim: 6)

Setiap dari wanita memiliki keistimewaan masing-masing, maka jagalah mutiara diri dengan sebaik-baik penjagaan dari api neraka. Begitupun dengan Hafshah putri Umar Bin Khottob dengan berbagai kebaikan akhlaq dan penjagaan dirinya.

Hafshah yang dilahirkan pada saat orang Quraisy membangun Ka’bah, lima tahun sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul. Pada awal lahirnya Hafshah, Umar Bin Khottob risau akan adanya malapetaka dan aib bagi seorang ayah yang mempunyai anak perempuan pada masa itu. Namun ketika islam datang dan merubah pandangan Umar, semua itu berubah menjadi limpahan nikmat dan anugerah terindah bagi Umar.

Dia lah Hafshah Binti Umar, yang mewarisi sifat ayahnya. Dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat, ucapannya tegas dan keteguhan diri yang luar biasa dalam memegang prinsip hidup.

Bahkan Aisyah menggambarkan bahwa sifat Hafshah sama seperti sifat ayahnya Khalifah Umar Bin Khattab. Kepandaiannya dalam membaca dan menulis, membuatnya seperti sebuah permata pada masa itu, ketika kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan.

Maka jadilah seperti Hafshah, yang mengasah kemampuan diri untuk kemaslahatan dan menebar manfaat, yang mampu membentengi diri dengan keimanan dan malu yang besar. Bahkan soal menikah pun ia mengedepankan ketaqwaan dan keimanan serta kesatu fikrohan, yang darinya muncul kesinergian dalam hubungan rumah tangga syurga. Bahwa hidup adalah untuk berjuang bukan sekedar ucapan cinta pada paras atau harta gemilang emas, ketika yang meminang Hafshah adalah seorang mujahid perang, Khunais bin Hudzafah.

Jadilah setabah Hafshah Binti Umar, tatkala ujian dan cobaan menimpa, ketika Rabb Izzati menjadikannya janda dengan gugurnya Khunais di medan perang. Dan lihatlah bagaimana ketika ia lulus dengan predikat sabar atas ujian dan cobaan ada sebuah keindahan dan keberkahan yang menghampirinya. Rosululloh datang meminangnya.

Bagaimana Allah menggambarkan dalam Alquran sebuah keberuntungan bagi mereka yang mendapat predikat sabar. Allah Ta’ala berfirman:

‎يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Al-Imraan:200)

Dan jadilah sekuat Hafshah Binti Umar, yang cobaannya tak hanya bersifat sakit tapi juga penuh kesabaran dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Ketika seorang hamba yang di rundung duka kesedihan, jangan lupa bahwa hidup akan terus berlanjut, maka ikhtiarlah sekuat ikhtiarmu hingga predikat sabar itu berhasil engkau capai. Dan menjadi wanita syurga.

Teladanilah Hafshah Binti Umar, yang mendapat kepercayaan untuk menjaga mushaf Al Quran untuk kali pertamanya, tidaklah mudah menitipkan sebuah kepercayaan. Tetapi Hafshah- lah yang dipercaya diantara Ummahatul Mukminin termasuk Aisyah didalamnya.

Tegarlah seperti Hafshah Binti Umar, yang bahkan tatkala sang ayah tau bahwa putrinya di liputi kesusahan dan kesedihan ia tapi tetap tegar, menutupinya dengan amal ibadah dan tetap berada dalam lingkaran prinsip yang kokoh oleh Al Quran, yang dibentengi rasa malu, dan terjaga oleh tunduk patuh pada Rabbul Izzati.

Semoga Allah jaga setiap hati dari niat yang salah dan menjadikan kita bagian dari ahli syurga.

WAllahua’lam bisshowab. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Jundi Imam Syuhada
Pemuda asal Ponorogo Jawa Timur. Pernah menimba ilmu di Al Quran and islamic sciences University, Sudan. Dan sekarang sedang menempuh S1 Jurusan Syariah di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Lihat Juga

Meneguhkan Pesantren Tanpa Rokok

Organization