Home / Pemuda / Cerpen / Aku Terima Dia dan Dua Anaknya

Aku Terima Dia dan Dua Anaknya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (plus.google.com)
Ilustrasi. (plus.google.com)

dakwatuna.com – Aku seorang karyawan, dan masih kuliah di salah satu kampus swasta di kota atlas. Terasa ideal mungkin kehidupanku bagi orang lain. tapi bukankah setiap kehidupan itu selalu punya riak? Begitu juga dengan hidupku. Tak penting kuceritakan bagaimana masa laluku, tapi sebuah peristiwa membuatku merasakan betapa Allah teramat sangat menyayangiku. Aku ingin hijrah, sebenarnya belajar menjadi lebih baik, mendekatkan diri pada-Nya, dan tak berharap pada manusia.

Usiaku 22 tahun, usia yang masih terbilang muda bagi orang kota, tapi cukup tua bagi orang desa. Aku masih ingin menikmati masa lajangku, meskipun keinginan untuk menikah dan membina rumah tangga dengan terkadang melintas tanpa ampun di benakku.

Iya. wajar, normal, dan bukankah itu fitrah manusia? Untuk tertarik pada lawan jenis. Yeah! Sebutlah aku dulu pernah pacaran (dulu), tapi kini tak lagi berani berurusan dengan api, karena aku lebih takut dengan api neraka.

Lalu apa yang kulakukan sekarang? Tentu saja sibuk dengan pekerjaan kantor yang lebih banyak menyita waktu, menyelesaikan kuliahku, juga sesekali menyempatkan diri untuk travelling dan mendekat pada-Nya. Yang terpenting, belajar untuk memantaskan diri sebelum seseorang yang telah Dia siapkan datang menjemputku. Apa ini berlebihan? Tidak bagiku. Karena menikah itu butuh persiapan matang dan ilmu yang banyak. Jadi, kalau kamu tanya ‘kapan nikah?’ Akan kujawab ‘ini lagi menyiapkan’. Iya, sedang menyiapkan diri dan memantaskan diri.

Sampai suatu hari, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba seseorang yang kukenal, rekan yang belum lama ini menjadi karyawan baru di kantorku men-japri lewat WhatsApp.

“Assalamu’alaikum, Mba, kenapa DP-nya seperti itu?”

Aku mengernyitkan dahi, kenapa dia tiba-tiba merasa harus peduli dengan DP yang baru kupasang itu? memang DP tentang pernikahan.

“Wa’alaikumsalam, supaya banyak yang mendoakan untuk segera menikah. Dan menegaskan bahwa saya hanya menerima orang yang serius, bukan yang lain”

Well, percakapan itu mengalir begitu saja seperti halnya teman kantor yang terkadang chatting dan bercanda saat waktu lengang. Just to kill our bored time, or something like that.  Nothing else.

Selanjutnya kami pun tak pernah membahas lagi seputar DP atau apapun perihal pernikahan. Ya iyalah, siapa aku, siapa dia, siapa kami?!

Sampai suatu hari lagi-lagi dia mengejutkanku. Dia bermaksud menikahiku dan menemui waliku. Bingung, tentu saja. Seolah diberi surprise saat benar-benar tak ada moment yang berkesan di hari itu dan tak ada yang diharapkan akan memberi kejutan.

Aku pun tergugu. Bagaimana ini? Namun aku kembali mengingat bahwa aku telah berprinsip bahwa jika ada seseorang yang berniat serius untuk berkenalan denganku untuk menikah, bukan untuk pacaran, maka dia harus menemui waliku terlebih dahulu.

Setelah percakapan itu, hatiku tak pernah tenang. Kupikirkan segala kemungkinan, juga tentang hati yang belum sembuh benar dari luka.

Laki-laki ini belum lama kukenal, baru sekitar tiga bulan terakhir dia menjadi rekan sekantorku. Tentu saja aku belum paham benar bagaimana dia sebenarnya terlebih di luar kantor. Yang kutahu, dia orang yang bertanggung jawab, agamanya baik, dan humoris. Tapi, bagaimana jika yang dia tampakkan di luar kantor adalah dia yang berbeda?.

Tiga bulan bersama dalam lingkaran kantor dengan job yang berbeda tentu tak membuatku mudah mengenalinya. Apalagi, untuk apa aku berusaha mengenal semua hal terkait karyawan? Toh aku bukan staf HRD.

Lebih-lebih, dia adalah duda beranak dua. Ah, tak perlu terkejut seperti itu, kawan! Single parent identik dengan pernikahan sebelumnya yang gagal?! Tidak-tidak! Kau salah! Dia terpaksa harus mendidik kedua anaknya sendirian karena takdir membuatnya begitu. Istri yang sangat ia cintai rupanya lebih disayang Allah hingga ia harus pergi bersamaan dengan anak ketiganya yang baru lahir.

Tragis bukan?! Itulah kenyataannya. Barangkali jika dia telah siap menikah lagi, artinya dia sudah benar-benar mengikhlaskan kepergian mendiang istrinya. Bah! Tahu apalah aku ini. Ya, baiklah, dia orang yang – paling tidak – tidak seperti remaja labil yang mencari pacar.

Status?! Bagaimana dengan statusnya yang duda itu?! Bagaimana nanti pandangan masyarakat terhadapku? Huh! Menikah langsung sepaket dan dapat dua anak sekaligus?! Benar-benar di luar kendali dan pikiranku.

Berhari-hari aku bimbang, memikirkan jawaban dan segala kemungkinan. Hingga aku tersungkur, tergugu dalam sujud-sujud istikharahku.

Allah, maafkan aku yang justru malah berpikir tentang status dan segala hal yang membuatku bimbang. Bukankah harusnya aku langsung meminta petunjuk kepada-Mu?!

“Baik, karena saya adalah tanggung jawab orang tua saya. Silakan temui wali saya terlebih dahulu. Tapi saat ini beliau sedang bekerja di luar negeri. Kemungkinan setelah Idul fitri beliau cuti beberapa hari.”

Hanya kalimat itu yang kusampaikan padanya setelah muncul kemantapan dalam hati untuk melanjutkan niat suci itu.

***

Aku Dikhitbah!

Menjelang Idul fitri dia kembali menghubungiku, menanyakan kapan ibuku pulang dan menentukan jadwal untuk bertemu.

Tepat di hari ulang tahunku! Entah kenapa Allah menggerakkan hatinya dan hati ibu untuk menentukan bertemu di hari ini. Dia datang ke rumah, ditemui oleh ibu dan simbah. Aku?! Tentu saja seperti gadis yang tengah dipingit, tak berani keluar meski sekedar menguping apa yang mereka bicarakan.

Tak dinyana, rupanya ibu memberinya izin untuk menikahiku. Ya, dia meminta izin untuk menikahiku, bukan menjadikanku pacarnya atau apapun istilahnya. Karena beberapa hal, ibu mengatakan jika serius maka menikahlah secepatnya, kalau bisa bulan Syawal.

Ya Rabb.. kenapa semuanya terasa berlari begitu cepat?! Inikah kemudahan yang Kau berikan padaku untuk mengobati luka dan tangis dalam masa-masa hijrahku? Hanya air mata yang bisa kuluapkan saat itu. membayangkan kemarin aku masih seorang gadis yang tak ada ikatan apa-apa lalu hari ini seorang laki-laki datang memintaku dari wali, dan jika dia menyanggupi maka tak sampai sebulan lagi kami akan menikah.

Yaa Rabb… berikanlah aku kekuatan..

Berselang dua hari, kedua keluarga bertemu dan ditentukan tanggal pernikahan kami dua pekan setelah pertemuan itu.

Keluarga besar gempar! Apa yang pernah kukhawatirkan terjadi juga. Cibiran-nyinyiran datang bertubi bahkan dari orang yang masih tergolong saudara dekat. Tak hanya satu-dua orang yang menentang keputusanku menikah dengan dia yang baru kukenal.

Semuanya berpikiran bahwa yang sudah pacaran bertahun-tahun saja bisa berpisah, bagaimana dengan pernikahan yang berlangsung hanya setelah pengenalan selama beberapa bulan?!

Untungnya keyakinanku pada Allah jauh lebih kuat dari omongan mereka. Entah kekuatan dari mana sehingga aku bisa membalikkan omongan dengan mengatakan bahwa karena berpacaran bertahun-tahun pun belum tentu punya visi yang sama, dan tak seharusnya niat baik diawali dengan hal yang buruk.

***

Aku dan Keluarga Kecilku

Dua pekan itu, menjadi dua pekan yang penuh haru biru bagiku. Bagaimana tidak? Keputusanku untuk menikah dengan seorang laki-laki beranak dua menggemparkan keluarga besarku. Belum lagi undangan yang begitu mendadak itu tak urung menyisakan kecurigaan. Tak ayal bisik-bisik tetangga pun membuatku sedih, terlebih selisih umurnya yang terpaut belasan tahun denganku.

Tapi, aku yakin dengan Allah bahwa inilah jalan terbaik yang dipilih-Nya. Kemudahan demi kemudahan dalam jalan ini yang menandakan Dia sangat menyayangi dan menjagaku.

Bahkan kemudahan itu pun sangat kurasakan saat berusaha mendekati anak-anaknya. Oh, anak-anak  manis yang begitu saja beringsut mendekatiku setelah perkenalan pertama. Ya, dan pastinya aku memilihnya karena agamanya dan karena keberaniannya untuk datang memintaku langsung. Bukankah agama yang seharusnya menjadi pertimbangan kita saat memilih pendamping hidup? Kriteria lainnya biarlah menjadi pelengkap saja.

Dua pekan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, tak pernah hadir dalam mimpi-mimpiku, tapi datang begitu saja dalam kenyataan.

Hari itu, saat hari yang ditentukan tiba, aku bersiap dalam kegundahan. Terlebih setelah penghulu datang dan aku harus masuk ke mushalla tempat diadakan akad nikah. Waktu seolah berhenti, keringat dingin membasahi dahi, dan jantung yang berdetak makin kencang menanti segala skenario Allah.

“Qabbiltu nikahaha wa tazwijaha..”

Kudengar lamat-lamat dia mengucapkan kalimat qabul nikah, dan hatiku makin berdesir saat penghulu dan saksi berucap ‘sah!’

Yaa Rabb.. detik ini aku telah berstatus menjadi seorang istri. Betapa indahnya jalan yang Kau berikan padaku..

Terbayar sudah penantian itu, selesai sudah keriuhan selama dua pekan itu.

Kini kami menatap hari baru, bergandeng tangan membina rumah tangga. Mengenal dan memahaminya seutuhnya. Kami sadar jalan di hadapan kami tidaklah lurus landai. Ada tanjakan dan turunan curam yang menanti, pun belokan tajam maupun jalan kerikil berdebu di sana. Namun kami yakin selalu ada campur tangan Allah dalam setiap hal.

Kesabaran demi kesabaran yang akan mendewasakan kami.

Yaa Allah… jagalah keluarga kecil kami, jadikan mereka adalah ladang amal dan kunci menuju surga. Aamiin..

Tulisan ini diambil dari kisah nyata seorang sahabat yang tak mau disebut namanya. Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wajama’a bainakuma fii khair. Semoga tulisan ini juga memberi inspirasi bagi orang lain.

(dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Seorang ibu rumah tangga yang hobi menulis. Beberapa tahun terakhir aktif blogging di www.arinamabruroh.com. Berasal dari lereng Dieng, Wonosobo dan sekarang tinggal di Semarang bersama keluarga kecilnya. Aktivitasnya saat ini adalah ibu rumah tangga, mengelola online shop, biro penerjemah tersumpah dan menulis. Masuk dalam antologi ‘Catatan Cinta Untuk Murabbi (Pro-U Media, 2013) dan antologi-antologi lainnya yang kebanyakan diterbitkan Indie dari hasil mengikuti berbagai lomba di dunia maya. Ingin terus memupuk semangat menulis agar selalu bisa bermanfaat untuk orang-orang disekitarnya. The best of you is the most contributing for people; itulah percikan energi yang selalu ia tanamkan dalam berkarya dan mengumpulkan percikan-percikan hikmah yang terserak di sekitarnya.

Lihat Juga

Aku Anak Mentoring, Kini dan Nanti