Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mau Buka Puasa Bersama, Tapi…

Mau Buka Puasa Bersama, Tapi…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Ramadhan telah tiba, semua muslim menyambutnya dengan gembira. Saat-saat Ramadhan seperti ini dijadikan moment-moment untuk beribadah dengan semaksimal mungkin, mengingat luasnya pahala yang dibentangkan dengan banyaknya syariat untuk mengerjakan amal shalih. Dan tentu saja, dibukanya pintu-pintu surga oleh Allah SWT atas amalan-amalan shalih kita. Tidak hanya momen ibadah, Ramadhan juga dijadikan sebagai momen untuk mengadakan acara buka bersama.

Buka bersama dijadikan sebagai ajang kumpul-kumpul rekan kerja, teman sekolah, keluarga atau bahkan reuni. Memang menarik, sembari menunggu waktu berbuka berkumpul bersama dengan mengobrol, tertawa, bercanda dan mendekatkan diri dengan rekan-rekan lainnya.

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983)

Namun perlu diperhatikan saat buka bersama terutama saat berbuka puasa di luar, jangan sampai dengan buka bersama justru mengganjal konsentrasi ibadah kita. Seusai ashar hingga menjelang berbuka adalah waktu-waktu keramaian di jalan di mana banyak orang pulang kerja, atau orang-orang yang sekedar keluar untuk mencari hidangan berbuka. Keramaian jalan hingga macet tentu akan membuang banyak waktu kita untuk menuju tempat berbuka.

Sebelum berbuka tentu saja menarik untuk berbincang dengan rekan-rekan. Berbincang tentang obrolan masa kini yang up to date, hobi, travelling dan banyak lainnya. Namun terkadang lisan susah untuk dijaga dan saat keluar dari batas, akan mudah untuk menggunjing orang lain. Jangan sampai ibadah kita menjadi rusak karena keasikan ngobrol kelewat batas sehingga memperbincangkan orang lain.

 

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Hujurat : 12].

Dari segi makanan, setiap orang mempunyai selera masing-masing.  Bahkan menu apa saja seakan semua terasa enak setelah seharian kita berpuasa. Namun bagaimana jika kita berbuka di tempat makan yang ternyata secara tidak langsung dia mendukung aksi penjajahan saudara-saudara muslim kita di timur tengah? Sebagai seorang muslim sangat dianjurkan untuk membantu muslim lainnya, bukan dengan mendukung, dengan membeli produk-produk pendukung penjajahan.

Kenyang setelah makan dan keasyikan ngobrol terkadang sangat melalaikan. Hal ini yang perlu diingat bahwa jarak antara maghrib – isya dan tarawih tidaklah lama. Seusai maghrib dan perkiraan waktu untuk perjalanan pulang dibandingkan dengan waktu maghrib-isya bisa kemungkinan akan lebih lama perjalanannya.

Buka bersama boleh saja, karena dapat meningkatkan tali silaturahmi namun tidak harus di luar yang memakan banyak waktu.

Buka bersama tidak harus di tempat keren dan mahal. Jika kita mampu untuk membantu sesama muslim, kenapa tidak?

Sejatinya Ramadhan adalah moment untuk menyibukkan diri dengan ibadah, bukan sibuk berselfie di tempat makan. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Bersama kesusahan ada kemudahan

Lihat Juga

Ramadhan yang Membekas

Figure
Organization