Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Balada Aktivis Peradaban

Balada Aktivis Peradaban

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Berhenti sejenak di persimpangan jalan, tetapi bukan untuk berlama-lama di persimpangan ini. Sejenak menengadah ke atas melihat semangat-semangat yang terbang lepas, sebab benar bahwa semangat bersifat fluktuatif. Tetapi bagi anak muda, jangan sampai engkau kehilangan semangat itu, ciri khas pemuda adalah semangat yang berapi-api. Melihat kembali foto-foto kegiatan kemahasiswaan, seakan-akan jejak ini kembali diretas, dan ini juga adalah kesempatan untuk menghisab diri. Apakah aktivitas keorganisasian yang dulu dilakukan sudah benar-benar di niatkan untuk menggapai ridha Allah SWT? Atau hanya sekedar sarana aktualisasi diri, agar mendapatkan popularitas semata. Sungguh diri ini masih sangat jauh dari teladan terbaik, namun terus berupaya untuk memperbaiki diri ini.

Lalu muncul pikiran-pikiran liar untuk mencari solusi dan sinergitas, pikiran-pikiran yang mungkin kurang ilmiah, pikiran-pikiran yang hanya merupakan argumentasi. Seakan-akan semua permasalahan hanya bisa di selesaikan seorang diri. Menisbikan nilai bahwa manusia juga adalah makhluk sosial, timbul superioritas dalam diri, lahir arogan yang membumbung tinggi di awan, sehingga semuanya di pandang rendah di bawah telapak kaki. Masukan, kritikan, dan saran pun tak berarti lagi. Mata hati pun tertutupi, tak mampu lagi menerima segala macam kebaikan dan nasehat. Maka bersyukurlah mereka yang terus menerus menjalani proses halaqah tarbiyah setiap pekannya. Halaqah tarbiyah menjadi sarana bagi mereka untuk mendapatkan dan menjaga hidayah Allah SWT. Beda dengan mereka yang keangkuhannya terus meninggi, kesombongannya terus melambung naik, arahan-arahan tak akan berarti lagi. Tetapi jangan menyerah untuk mereka, teruslah menyampaikan kebenaran dan kebaikan bagi mereka yang belum tersentuh cahaya Allah. Allah akan terus menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tak menyukainya.

Tarbiyah menjadi rezeki di mana tak semua orang mampu bertahan dengan prosesnya. Tak semua orang sanggup untuk mengikuti ritmenya. Tak semua orang bisa bertahan dengan proses tarbiyah itu sendiri. maka tak salah bila tarbiyah itu bagai rezeki, menjadi orang-orang yang terus belajar dan sigap ketika di arahkan oleh jamaah, patuh dan taat dengan instruksi qiyadah sungguh adalah rezeki yang sangat nikmat, nikmat yang besar, lalu nikmat tarbiyah ini bersanding dengan baiknya Iman dan Islam seseorang. Para aktivis tarbiyah juga menyadari besarnya bangunan peradaban yang harus di perbaiki, di perbaiki bersama-sama umat. Bangunan besar peradaban ini butuh solusi untuk setiap kerusakan sektor pembangunannya, para aktivis tarbiyah pun maju dengan gagah berani membawakan solusi dan energi perubahan, muncul alternatif metode yang di sebut Post-Islamisme, memisahkan urusan dakwah murni dengan politik pemerintahan, namun tidak mereduksi universalitas Islam. Post-Islamisme bisa menjadi salah satu alternatif, lalu para aktivis Islam pun menjelma menjadi aktivis peradaban namun tidak meninggalkan nilai-nilai Islam.

Setelah berhenti sejenak di persimpangan jalan dan menyegarkan kembali pemahaman tentang jati diri, bersiap untuk melangkah ke tahap selanjutnya, sebab tugas telah menunggu di depan sana untuk di selesaikan, kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia. Aktivis peradaban harus menembus batas kemampuannya, karena akan menghadapi benturan-benturan peradaban. Samuel P Huntington dalam bukunya Benturan Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengemukakan bahwa Peradaban Islam, Peradaban Cina, Peradaban Jepang, dan Peradaban India adalah kekuatan besar yang patut  perhitungkan dalam benturan peradaban tersebut, karena mampu mereduksi dominasi peradaban dan nilai-nilai Peradaban Barat. Masyarakat semakin cerdas untuk menyeleksi setiap nilai-nilai peradaban, terutama Peradaban Barat yang seakan-akan mendominasi suatu bangsa, namun yang terjadi adalah penyesuaian atau adaptasi terhadap nilai-nilai peradaban. Dengan kata lain, suatu bangsa tetap bangga dengan peradaban yang berasal dari negerinya sendiri lalu mengambil nilai-nilai positif dari Peradaban Barat.

Melanjutkan kembali perjalanan, pada saat yang sama kita semua harus kemudian menyadari berada di mana posisi kita, posisi peradaban kita, di tengah benturan-benturan peradaban yang terjadi. Saat di sentil soal peradaban, saya menyarankan Anda untuk membaca kembali lembaran sejarah, baik itu sejarah kekhalifahan, sejarah kerajaan, dan sejarah pemerintahan dengan sistem demokrasi. Anda akan menemukan perlombaan peradaban yang di bangun secara machstaat dan rechstaat. Sejarah mencatat, baik sistem pemerintahan machstaat dan rechstaat keduanya runtuh dengan cara, proses, dan hasil yang berbeda. Bila sistem pemerintahan machstaat meninggalkan gemilangnya peradaban dengan kemegahan bangunan, maka sistem pemerintahan rechstaat meninggalkan peradaban yang kaya akan intelektual serta generasi yang visioner.

Langkah harus semakin tegak, prinsip harus semakin kokoh, namun jangan sampai mematikan kreativitas untuk berpikir dan memilih sarana yang tepat untuk membangun peradaban. Secara machstaat maupun rechstaat peradaban harus di bangun, dan Anda harus meyakini bahwa peradaban Anda suatu saat akan menguasai dunia. Tak ada yang salah dengan cita-cita ini, karena kita semua juga menginginkan kebaikan akan setiap langkah kita. Karena setiap langkah, gerak, dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak oleh Yang Maha Kuasa, Yang menciptakan segala Peradaban di Bumi ini, namun dengan tegas bahwa satu-satunya Agama yang diterima di sisi-Nya adalah Islam.

Maratibul ’Amal yang di susun oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna menjadi alternatif metode yang realistis dengan kondisi era baru seperti sekarang ini. Sedangkan maratibul amal (urutan amal)-nya adalah:

  1. Perbaikan individu (ishlah al-fard)
  2. Perbaikan rumah tangga (ishlahul al-bait)
  3. Perbaikan masyarakat (ishlah al-mujtama’)
  4. Pembebasan negeri (tahrir al-wathan)
  5. Perbaikan pemerintahan (ishlah al-hukumah)
  6. Penyiapan tegaknya khilafah (bina al-khilafah)
  7. Pemanduan dunia (ustadziah al-alam)

Tiga tingkatan pertama merupakan kewajiban individu-individu muslim secara umum, juga menjadi kewajiban gerakan dakwah. Sedangkan empat tingkatan yang akhir merupakan tugas yang harus diemban gerakan dakwah sebagai sebuah tanzhim dakwah yang aktif.

Sekarang tibalah saatnya bagimu untuk mengambil peran, meskipun peran kecil sebagai unsur perubahan, perubahan peradaban yang harus terus menerus di lakukan, sebab perubahan adalah keniscayaan. People change, time change, and the big wave has coming. Sudah sejauh mana diri kita mempersiapkan diri untuk keadaan yang serba tak menentu di masa depan? Hanya keyakinan dengan seyakin-yakin nya lah engkau akan mampu mewujudkan cita-cita, cita-cita dirimu yang harus di integrasikan dengan cita-cita besar peradaban Islam.

Tak akan kau dapatkan lagi generasi yang kebingungan memilih jurusan ketika sampai di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), karena ia sudah paham di mana posisinya dan di mana harus mengambil peran dalam bingkai indah bangsa nusantara ini. Tak akan kau dapatkan lagi generasi muda yang ketika masuk jenjang perguruan tinggi masih juga kebingungan memilih jurusan karena kegagalan membaca potensi dirinya. Saatnya para generasi muda memahami jati dirinya sebagai seorang hamba, sebagai the agent of change, paham pergulatan peradaban yang sedang terjadi di dunia yang sempit ini, pada saat yang sama paham bahwa yang memiliki segala otoritas hanya Allah semata. Tak pantas untuk mempersekutukan Allah dengan satu makhluk pun di alam semesta ini, kesadaran aqidah yang kokoh ini kemudian mempola setiap aktivitas para generasi muda untuk hanya berafiliasi kepada nilai-nilai Islam serta menjadikan Islam sebagai the way of life.

Kekuatan-kekuatan peradaban akan terus berkembang, pembelahan-pembelahan ideologi akan terus terjadi, namun pengerucutan ideologi juga adalah keniscayaan, pengerucutan yang menyisakan dua pilihan saja, kebenaran atau kebatilan. Wahai aktivis peradaban, di manakah posisimu sekarang? Di antara benturan-benturan peradaban yang sedang terjadi ini? Segalanya akan berbenturan, tak hanya ideologi dan peradaban yang akan berbenturan, seluruh planet suatu saat akan berbenturan, seluruh galaksi suatu saat akan berbenturan dan hancur lebur, luluh lantah tak bersisa, hanya Allah yang tetap Ada sekalipun semuanya telah musnah, wayabqoo wajhu Rabbika dzuljalaali wal ikraam. Maka setelah berhenti sejenak, waktunya melangkah lagi, waktunya untuk berjuang lagi, bersiap menghadapi gelombang, bersiap menghadapi benturan, dan para aktivis peradaban, hendaknya engkau untuk mempersiapkan kapasitasmu. Balada ini kudendangkan Untukmu Wahai Aktivis Peradaban. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Trainer Nasional Faktor Destruktif Remaja Kemenpora RI, Trainer Nasional Character Building Kemenpora RI, Aktif di KAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Kemuliaan Wanita, Sang Pengukir Peradaban

Figure
Organization