Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Aroma Badan Nabi Yusuf AS, Bounding Antara Ayah dan Anak

Aroma Badan Nabi Yusuf AS, Bounding Antara Ayah dan Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (cerpendakwah.wordpress.com)
Ilustrasi. (cerpendakwah.wordpress.com)

dakwatuna.com – Membaca kisah legendaris Nabi Yusuf yang terdapat dalam Al Qur’an, ada sepenggal cerita menarik yang memperlihatkan eratnya hubungan sang ayah (Nabi Yaqub) dan anak (Nabi Yusuf).

(Yusuf berkata), “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkan dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.”

Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), ayah mereka berkata, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).”

Keluarganya berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruan yang dahulu.”

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, diletakkannya baju gamis itu ke wajah Yaqub lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Yaqub, “Tidaklah aku katakan kepadamu bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (Yusuf: 93-96)

Dalam kisah ini tergambar, betapa cinta dan sayangnya seorang ayah kepada anaknya. Walau jarak dan waktu telah memisahkan mereka berpuluh-puluh tahun lamanya, tapi bounding (ikatan batin) antara keduanya tak pernah pudar.

Yang menarik, Yusuf hanya mengirim gamisnya sebagai “perwakilan” dirinya. Namun Nabi Yaqub dengan mata tidak dapat melihat (buta)  bisa merasakan kehadiran sang anak dari bau (aroma tubuh) Yusuf yang melekat di gamis . Nabi Yaqub bisa merasakan bau Yusuf  yang sangat dikenalnya. Namun orang-orang di sekitar Nabi Yaqub tidak mencium bau tersebut.

Jika saja bounding (ikatan batin) antara Nabi Yaqub dan Nabi Yusuf tidak kuat, ia tidak dapat mencium aroma badan Nabi Yusuf. Ikatan batin ini tidak terbentuk jika tidak ada cinta dan sayang di antara mereka.

Hal ini sejalan dengan teori baru yang mengungkapkan bahwa cinta itu berawal dari hidung turun ke hati. Para ahli kimia dari Huddinge University Hospital Swedia menemukan bahwa rasa suka, cinta dan sayang bukan dari mata. Pandangan mata hanya sekedar lanjutan yang menguatkan perasaan cinta tersebut. Hipotesis itu mereka buktikan dengan meneliti reaksi otak 12 pasangan pria dan wanita setelah mencium bau senyawa sintetik “tertentu”. Bebauan tersebut langsung bereaksi terhadap hormone estrogen (pada wanita) dan hormone testoteron (pada laki-laki).

Nabi Ya’qub adalah seorang ayah yang patut dijadikan teladan, dimana beliau mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan memberi pendidikan (pengajaran) yang baik kepada semua anaknya.

Di antara sekian anaknya, yang paling bertakwa dan paling bersih hatinya, di samping paling muda usianya adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Oleh karena itulah Nabi Ya’qub memberikan perhatian dan kasih sayang  kepadanya. Hal ini sudah menjadi tabiat, yakni ayah sangat sayang kepada anak yang paling kecil sampai ia dewasa.

Bounding yang kuat antara ayah dan anak terbentuk dari kedekatan fisik dan emosi ayah dan  anak. Interaksi yang intens dan berkualitas inilah yang akhirnya membuat ikatan cinta dan sayang di antara keduanya tidak lekang oleh waktu. Sekalipun jarak memisahkan keduanya berpuluh-puluh ribu kilometer. Kehangatan dan kasih sayang yang dicurahkan kepada seorang ayah kepada anaknya akan memberi dampak positif  pada perkembangan sang anak, antara lain anak merasa dicintai, diperhatikan, dipercayai, timbul rasa aman, mendapat dukungan dan lain sebagainya. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Lulusan Fakultas Sastra UI.

Lihat Juga

Sekilas Tentang Maulid Nabi SAW