Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Hari Kembali Kakek Tiba

Ketika Hari Kembali Kakek Tiba

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (wallpaperscraft.com)
Ilustrasi. (wallpaperscraft.com)

dakwatuna.com – Ia pergi menghadap Sang Khaliq. Waktunya telah tiba, tak bisa kucegah. Tak bisa kulawan kehendak-Nya. Biarlah ia tenang dan aku di sini menggenggam erat kenangan bersamamu, Kek.

Sudut-sudut jalan begitu mencekam bagiku. Aku berjalan tak bertenaga, tak punya gairah. Bagaimana tidak, berita yang kudengar itu bak petir di siang bolong. Kakek yang sangat aku sayangi telah pergi selama-lamanya dari dunia ini.

Senyum dan canda tawa lepasku berganti dengan perasaan penuh sesak nan pilu. Aku tak menyangka, Kakek pergi begitu cepat. Pergi disaat aku belum mampu membuatnya bangga.

Tak ada waktu yang lebih lama lagi untukku berada disisinya. Yakni hanya sampai di usiaku yang genap 7 tahun. Tepat di hari, bulan, dan tahun yang sama saat ulang tahunku dan saat itu juga ia pergi meninggalkanku.

Aku begitu menyayanginya, bahkan akan terus merindukan sosoknya pada hari esok, lusa, dan hari-hari berikutnya. Kakek yang sangat aku sayangi, akhirnya lebih disayang Allah untuk kembali pada-Nya.

Kakek bagiku adalah sosok yang hebat, penyayang, menyenangkan, baik hati, dan masih banyak lagi kata yang takkan mampu aku tuliskan. Karena bagiku, ia adalah Kakek terbaik yang aku punya.

Kakekku adalah pengemudi di Saudi Arabia. Maka dari itu, ia sering berkeliling ke negara-negara bagian timur. Ia hebat, karena bekerja di negeri orang dan jauh dari keluarga demi menghidupi mereka.

Kakek juga sosok yang penyayang, ia sungguh menyayangiku. Karena aku adalah cucu perempuan pertama dari anak laki-laki pertamanya. Ayahku juga pernah bercerita tentang kakek yang penyayang. Dahulu ketika ayah menjahili adiknya, kakek pun berkata, “Jangan digalakin adikmu, dia saudaramu satu-satunya yang akan membantu ketika kesusahan menimpamu nanti. Sayangi dan jagalah adikmu.”

Sosoknya selalu membuatku rindu, ia juga seperti teman bermain yang menyenangkan. Pernah suatu ketika aku bermain dengan mainan yang bisa diterbangkan. Ia mengajariku dan memberitahuku cara memainkannya. Perasaan bahagia yang luar biasa yang bisa aku rasakan dengannya.

Ia juga seorang kakek yang baik hati. Setiap kali ia datang ke rumah. Ia selalu membelikan minuman kesukaanku, berapa pun yang aku inginkan. Dan selalu bertanya padaku, “Kamu kelas berapa sekarang?” aku pun menjawab kalau diriku masih kelas 1 SD. Ia pun berkata, “Kok kelas 1 terus sih!”. Percakapan yang singkat dan membekas hingga kini.

Jika ia masih hidup, aku ingin memberitahunya bahwa cucu kesayangannya saat ini sudah tidak kelas 1 SD, tapi sudah kuliah semester 4. Walaupun demikian, ia di sana pasti tahu dan bangga padaku.

Sebelum hari kembalinya tiba, kakekku mengidap penyakit diabetes. Kala itu, ia datang ke rumah dengan wajah pucat dan ingin dirawat di rumah.

Ia terbaring lemah di kamar. Sesekali ia memanggil cucu-cucunya. Ia meminta untuk dipijat, itu merupakan kali pertama dan terakhir aku memijatnya. Karena setelah itu, beberapa hari kemudian ia kembali pada-Nya.

Aku pun bersyukur bisa memijatnya di kala ia sakit. Walaupun aku tahu bahwa takkan ada sosok kakek sepertinya, takkan ada yang bermain dan mengajariku, takkan ada yang membelikan minuman kesukaanku, dan takkan ada yang menggantikannya.

Kini, 13 tahun setelah kepergiannya. Namun, kenanganku dengannya tak pernah pudar sedikit pun. Jiwaku masih berada bersamanya, mengingat jelas kenangan-kenangan itu.

Seandainya aku dapat meminta kepada Allah, aku pasti memintanya kembali. Aku ingin merawatnya di kala ia tua. Aku ingin bersamanya lebih lama lagi. Dan aku ingin membanggakannya di saat aku dewasa.

Terima kasih untuk cinta kasihmu, Kek. Kami selalu mendoakanmu. Semoga Allah memberikanmu, tempat terbaik di sisi-Nya. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi di Politeknik Negeri Jakarta, prodi Penerbitan (Jurnalistik). Wanita yang mulai mengunggah tulisannya sedikit demi sedikit.

Lihat Juga

Anies Ceritakan Pengalaman Kakeknya Saat Bawa Surat Kedaulatan