Home / Pemuda / Pengetahuan / Merenungkan Distorsi “Pesan Berantai”

Merenungkan Distorsi “Pesan Berantai”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Saya tertarik menuliskan ini karena pekan ini saya mereview sebuah paper IEICE yang authornya keliru dalam membuktikan data processing inequality untuk security berdasarkan teori informasi vs berdasarkan komputasi.

Banyak dari kita mungkin pernah mengikuti game “pesan berantai” saat kita masih sekolah di SMP, SMA, atau bahkan perguruan tinggi. Dalam game ini biasanya beberapa orang diminta berbaris.

Pesan disampaikan di salah satu ujung dan dievaluasi di ujung lainnya. Kebanyakan pesan ini akan mengalami kesalahan yang cukup signifikan di ujung barisan tersebut, namun saya melihat tidak banyak panitia yang bersedia menjelaskan mengapa ini terjadi.

Panitia biasanya hanya menyampaikan hikmah agar seluruh peserta menyadari bahwa pesan bisa menyimpang dari pesan asli sehingga kita perlu memperbaiki kemampuan berkomunikasi dan mendengar.

Dalam dunia teori informasi, kenyataan ini disebut sebagai “data processing inequality”, sebuah teori bahwa suatu proses apapun tidak akan bisa menambah/menaikkan informasi. Setiap mengalami proses, informasi yang dikandung makin berkurang. Informasi tidak akan pernah bertambah setiap kali diproses.

Katakanlah kita memiliki sebuah proses Markov Chain

X —> Y —> Z               (1)

yang arti gampangnya adalah Z terjadi dari X hanya melalui Y, maka muatan informasi antara X dan Z yang dilambangkan I(X;Z) bernilai lebih kecil daripada muatan informasi antara X dan Y yang dilambangkan I(X;Y), yaitu

I(X;Z) =< I(X;Y).         (2)

Ini menunjukkan bahwa pesan di ujung Z lebih menyimpang dibandingkan pesan di Y. Jika barisan ini makin panjang, informasi yang diterima di ujung akan makin menyimpang dari aslinya.

Penjelasan teknisnya lagi adalah karena setiap informasi berpindah, kita tidak bisa menjamin tanpa noise atau tanpa tambahan kesalahan baru.

Saya jadi teringat juga tentang hadits dari Abu Hurairah RA, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5).

Bisa jadi bahwa “data processing inequality” I(X;Z) <= I(X;Y) ini mampu menjelaskan hikmah untuk jangan menceritakan semua yang pernah didengar, karena bisa jadi kita orang ke sekian yang jika diukur muatan informasinya dengan sumber asli, informasi yang sampai kepada kita sangat sedikit, sehingga jangan disampaikan kepada orang lain semuanya. Wallahu ‘alam bishawab.

Tapi kita harus ingat bahwa Markov chain tidak akan terjadi jika seorang Z langsung melakukan tabayun/konfirmasi ke X yang merupakan sumber informasi.

Semoga renungan sederhana ini bermanfaat. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Assistant Professor at Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST).

Lihat Juga

PBB: 70 Persen Warga Yaman Menderita Kelaparan

Organization