Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Beginilah Seorang Muslim Memaknai Kemenangan

Beginilah Seorang Muslim Memaknai Kemenangan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (arabworld.nl)
Ilustrasi. (arabworld.nl)

dakwatuna.com – Ibnul Qayim berkata, “Ini merupakan penaklukan terbesar yang dengannya Allah memuliakan Agama, Rasul, Para Prajurit dan pasukannya yang dapat dipercaya, dengan penaklukan ini pula Allah menyelamatkan negeri dan Rumah-Nya, yang telah dijadikan petunjuk bagi semesta Alam, menyelamatkan dari cengkeraman tangan orang-orang kafir dan musyrik.

Ini merupakan penaklukan sekaligus kemenangan yang telah dikabarkan penduduk langit, yang kemudian semua manusia masuk ke dalam Agama Allah secara berbondong-bondong, sehingga wajah bumi berseri-seri memancarkan cahaya dan keceriaan.”

Penaklukan apa ini? Ya. Penaklukan Makkah atau lebih dikenal dengan istilah Fathu Makkah.

Bagaimana kondisi ketika Fathu Makkah terjadi?

Setibanya di Dzu Tuwa, sebuah lembah di Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merundukkan kepala karena hendak menunjukkan ketundukan kepada Allah, saat melihat kemenangan yang dianugerahkan Allah. Janggut Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir menyentuh pelana, dekat dengan punggung unta.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaca surat Al – Fath berulang – ulang dengan suara yang merdu.

Sekitar 10.000 pasukan memasuki Makkah dengan cara berpencar:

  • Pasukan Khalid masuk dari dataran rendah makkah.
  • Pasukan Az-Zubair masuk dari dataran tinggi, membawa bendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Pasukan Abu Ubaidah langsung ke tengah lembah.

Apa pelajaran yang bisa diambil dari cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah?

  1. Hendaknya kita merendahkan diri kepada Allah, dalam keadaan sempit maupun lapang.

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا [٤٨:١]

Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (QS Al-Fath:1)

Menurut Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy, dalam buku ‘Sirah Nabawi’-nya. Surat Al-Fath dibaca berulang-ulang, menunjukkan bahwa — Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat memasuki kota Makkah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah hanyut dalam suasana Syuhud Ma’allah (Khusyuk mengingat akan karunia Allah), bukan dengan kecongkakan dan kesombongan.

Kaum muslimin tidak boleh merendahkan diri di hadapan Allah hanya pada waktu ditimpa kesulitan dan musibah saja, sehingga semua kesulitan itu sirna, mereka dimabuk kegembiraan sampai melupakan ajaran-ajaran Allah, seolah-olah mereka tidak pernah berdoa kepada Allah meminta agar dibebaskan dari kesulitan yang membelitnya.

  1. Membaguskan bacaan Al-Quran

Hendaknya kita membaca Al-Quran dengan suara yang merdu (taranum) sesuai dengan hukum bacaannya.

Terkait memerdukan bacaan, terdapat beberapa riwayat yang menunjukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membaca Al-Quran dengan melagukannya, yang dimaksud larangan ini adalah melagukan bacaan yang mengakibatkan kesalahan dalam pengucapan huruf dan kaidah-kaidah tilawah.

  1. Memperbanyak kemaslahatan dan meminimalisasi kemudharatan

Keputusan untuk memencarkan pasukan adalah strategi (tadbir) agar penduduk Makkah tidak memiliki kesempatan melancarkan perang, kalaupun terjadi peperangan, kekuatan para penduduk Makkah akan lemah karena harus memencarkan para prajuritnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin agar tidak melancarkan perang kecuali pada mereka yang memulainya.

Wallahu A’lam Bishawab.

Referensi:

Būṭī, M. (1999). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Robbani Press.

Islamicencyclopedia.org, (n.d.). Dhu-Tuwa ذو طُوى – Islamic Encyclopedia. [online] Tersedia di: http://islamicencyclopedia.org/public/index/topicDetail/id/271/page/6 [Diakses 28 Feb. 2016].

Mubarakfury, S. dan Suhardi, K. (1997). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Nabi Muhammad SAW, (n.d.). Dzu Thuwa. [online] Tersedia di: http://nabimuhammad.info/dzu-thuwa/ [Diakses 28 Feb. 2016].

(dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Santri Tahfidz Smart 4, Indonesia Quran Foundation

Lihat Juga

Imigran Muslim, Akankah Mengubah Wajah Barat di Masa Depan?

Organization