Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjadikan Alquran Mengalir Seperti Air

Menjadikan Alquran Mengalir Seperti Air

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi-Alquran (inet)
Ilustrasi-Alquran (inet)

dakwatuna.com – Melihat mental masyarakat yang tidak lagi peduli dan bahkan cenderung menjauh dari Alquran, seorang pelayan Alquran (khadimul Quran) Dr. KH. Ali Akhmadi merintis Majelis Alquran, yaitu sebuah majelis yang membahas tentang Alquran dengan beberapa rangkaian acara lainnya. Peserta yang hadir di majelis ini adalah masyarakat umum, anak-anak muda dan sebagianya para professional, tema umum yang dibawa adalah Menjadikan Alquran Mengalir Seperti Air. Seperti apa Menjadikan Alquran Mengalir Seperti Air?, ikuti tulisan berikut…!!

********

HIDUP di bawah naungan Alquran adalah nikmat. Nikmat yang tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang-orang yang pernah mencicipinya. Nikmat yang mengangkat taraf hidup, menyucikan dan memurnikanya. Demikianlah kata-kata seorang Mujahid Islam (Sayid Quthb) rahimahullah, kalimat tersebut ditulis dalam pembukaan tafsirnya: Fii dzilaal Alquran (di bawah naungan al-quran); kalimat itu terasa ada cita rasa yang hidup. Mungkin dia merasakan ada cahaya dalam hatinya ketika menuturkan kalimat itu, juga ada keberanian membuka borok kejahiliyahan masyarakat pada masanya. Sebagai resiko atas semua keberaniannya mempertahankan kemurnian pandanganya tentang Islam, Sayyid Quthb digantung, ketika orang lain mengalah di hadapan penguasa.

Begitulah Alquran jika telah menjadi darah daging, berakar dalam memori, menancap dalam hati dan menjulang dalam cita perjuangan, dia akan mengubah racun menjadi obat penawar dan mengubah benda padat jadi cair, memotong siklus sejarah jahiliyah dengan sejarah keimanan, karena di atas aliran darah mereka itu ada harga yang harus dibayar oleh generasi seterusnya, karena di sana ada iman yang menyamai. Di dalam dadanya ada keyakinan bahwa wujud Alquran tidaklah punya arti jika tidak wujud dalam dunia nyata, di mana individu adalah ruang pertama untuk mewujudkan masyarakat dan Negara berbudaya.

Menjadikan Alquran mengalir seperti air sesungguhnya lahir dari filosofi air, air itu sifanya mengalir terus tanpa henti, dia hanya berhenti jika terputus dari sumbernya. Air sebagaimana sifat dasarnya ia akan terus mengalir, biarpun ada tembok raksasa menghalanginya, tidak membuat dia berhenti mengalir dan tetap akan terus mencari celah untuk mengalir, dan jika tiba waktunya untuk merobohkan tembok tersebut, itupun bisa terjadi. Atau bisa juga ia akan melampaui tembok itu ketika sampai pada titik kulminasinya, intinya dia akan terus mengalir. Demikian juga kita ingin menjadikan Alquran ini mengalir tanpa henti; mengalirkan berkah dan manfaatnya di masyarakat, mengalir untuk menjebol tembok jahiliyah yang ada di sekeliling kita, dan mendatangkan rahmat bagi bangsa dan Negara serta mendatangkan ketenangan bagi siapapun yang membacanya, sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

مااجتمع قوم فى بيت من بيوت الله تعالى يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملا ئكة وذكر هم الله فىبمن عنده

Artinya: ”Tidaklah berkumpul sekelompok orang di rumah-rumah Allah swt. mereka membaca Alquran dan mengajarkannya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi dengan rahmat, dinaungi oleh para malaikat dan disebut-sebut namanya oleh Allah swt. di sisinya. (HR. Abu Dawud).

Menjadikan Alquran mengalir seperti air adalah proses mentransformasi pengetahuan serta proses internalisasi nilai, dari realitas individu kepada idealisme teks, artinya realitas individu melebur dalam kehendak teks. Manusia mungkin memiliki corak budaya, pemikiran, serta nilai-nilai yang membentuknya, tetapi ketika dia berinteraksi dengan teks itu, maka dia harus tunduk sepenuhnya. Sentimen budaya, golongan, pemikiran dan nilai-nilai yang membentuknya sejak awal, benar-benar harus dihapus.

Generasi sahabatlah yang dapat mewakili totalis di dalam mentransformasi pengetahuan dan menginternalisasi nilai Alquran, ketika Alquran datang menuntun mereka, mereka tunduk padanya dalam berbagai kondisi apapun, mereka adalah generasi yang diberi iman sebelum ilmu. Namun resikonya jika ilmu yang banyak tapi tidak ada iman yang menyamai, maka yang terjadi adalah penyimpangan pemikiran dan kerusakan akhlak, seperti mereka kaum fasiq di kalangan orang-orang liberal.

Generasi itu yang diistilahkan oleh Sayyid Quthb dengan: Jilun Farid (generasi unik), unik karena mereka sukses mengangkat sejarah generasinya dengan nilai luhur Alquran, sukses memotong siklus sejarah nenek moyangnya dan meregenerasi masyarakat tauhid sampai puluhan abad setelahnya, sukses mengantarkan risalah yang suci ini sampai ke pangkuan kita saat ini dan sampai hari kiamat nanti, sukses menjadi arsitek peradaban manusia yang tinggi, sukses menjadi contoh teladan bagi generasi selanjutnya, sehingga Rasulullah saw. menyebut generasi mereka dengan: Khairul Qurn (sebaik-baik generasi). Semoga kita sebagai umat Rasul Muhammad saw. dan generasi sahabat Ridhwanullahi Alaihim bisa meneladani mereka semua, Aamiin.

Sebuah potongan syair menggabarkan tentang mereka para sahabat itu: Kannujum (seperti bintang-bintang), kita bisa meneladani siapa saja dari pribadi para sahabat itu berdasarkan keutamaannya masing-masing, karena mereka adalah generasi pilihan yang sengaja dipilih oleh Allah untuk menjadi contoh.

Menjadikan Alquran seperti air itu artinya menatanya dalam lisan sehingga menjadi bacaan yang benar, menanamnya dalam memori sehingga menjadi lancar, menatanya dalam jiwa sehingga menjadi ruh dan karakter kita, mengalir dalam perilaku sehingga menjadi pesona, membentuk dalam pikiran sehingga menjadi paradigma kita, akhirnya terbentuk dalam dunia alam bawa sadar kita. Jika semua ini kita sadari maka setiap individu itu telah menjadi agen of Quran. Itulah kira-kira yang dinginkan oleh ustad Ali Akhmadi Hafidzahullah, atas dasar kesadaran itu pulalah yang mendasari beliu membuat gerakan mencetak generasi Qurani.

Hidup di bawah naungan Alquran itu nikmat. Nikmat ketika menghafalkanya, nikmat ketika di saat lupa mengulangnya kembali, nikmat ketika ada kegiatan simaan bersama teman atau guru, nikmat ketika ada kesempatan untuk membacanya dalam riwayat yang berbeda-beda, nikmat ketika muncul kegelisahan sudah lebih dari satu hari tidak mengulangnya, nikmat ketika mampu mengulang-ulangnya dalam perjalanan atau dalam keadaan diam atau siang dan malam, nikmat ketika mampu mentadabburi isi dan kandunganya.

Nikmatnya Alquran manakala kita bisa hidup di bawah naungan syari’atnya, berlindung di bawah pohon kesejukannya dan menjadikannya sebagai akhlak dan hujjah. Nikmat-nikmat ini tidak bisa dirasakan oleh selain penjaga Alquran, hanya mereka yang mampu merasakanya, karena merekalah kawan setianya, dan kita akan selalu mengingat, menyadari, dan menghayatinya sesuai dengan kadar cinta kita. Sedalam apa cinta kita padanya sedalam itu pula telaga berkah yang mungkin kita selami, dan seluas apa cinta kita padanya seluas itu pula pancaran cahaya yang dapat kita pancarkan untuk menerangi bumi ini.

Hidup di bawah naungan Alquran itu nikmat. Nikmat ketika mampu mengkhatamkan Alquran sekali dalam sehari, sekali dalam tiga hari, sekali dalam sepekan, sekali dalam sepuluh hari, atau sekali dalam sebulan, dan mungkin kita tergolong sangat keterlaluan jika tidak bisa mengkhatamkanya dalam setahun sekali. Mengkhatamkan Alquran dalam sehari, terlepas ini ada perbedaan di masyarakat, karena ada hadits yang menganjurkan untuk tidak mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, masalah ini sebenarnya lebih kepada masalah kualitas tadabur, tapi banyak dari kalangan ulama kita mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, terutama ulama dari kalangan syafi’iyah, bahkan Imam syafi’I Rahimahullah sendiri mengkhatamkannya sehari sekali di luar bulan Ramadhan dan mengkhatamkan dua kali sehari semalam di bulan Ramadhan.

Imam Nawawi yang merupakan ulama besar bermadzhab syafi’i itu meriwayatkan dalam bukunya Al-Adzkar, dalam bab Kitab Tilawatil Quran, dan dalam bukunya At-Tibyan Fii Adab Hamalatul Quran pada bab Al-Muhafadzatu Ala Tilawatil Quran menyebutkan ragam kebiasaan ulama-ulama dalam menghatamkan Alquran, sebagian besar dari mereka menghatamkanya setiap dua bulan sekali, yang lain menghatamkan sebulan sekali, ada yang mengkhatamkan tiga hari sekali, bahkan ada yang mengkhatamkan Alquran antara waktu maghrib dan Isya dan ada banyak lagi model yang lain.

Mengkhatamkan Alquran dalam tempo waktu tertentu mengakar dalam tradisi para ulama kita, lantas bisakah kita meneladani orang-orang shaleh dari kalangan para ulama itu? Hal ini hanyalah masalah kebiasaan, jika kita punya kemauan Insya Allah kita bisa melakukanya. Semakin sering kita membacanya akan semakin kuat dalam hafalan kita dan semakin cepat kita membaca akan semakin terlatih mulut kita.

Sesungguhnya menjaga Alquran adalah tanggung jawab setiap mukmin, terlebih tanggung jawab itu di letakan di pundak para penjaga Alquran. Rasulullah mengancam orang-orang yang sengaja melupakanya:

من قرأ القرٌآن ثم نسيه لقي الله تعلى يوم القيامة أجذم

“Barang siapa yang membaca Alquran kemudian melupakanya, maka dia akan bertemu dengan Allah swt. di hari kiamat nanti dalam keadaan terputus dari rahmatNya”.

Wal’iyyadzubillah..…Kita mohon kepada Allah agar tidak menjadi golongan di atas. Mari kita semangat lagi menjaga Alquran.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Menlu Oman Sebut Israel Salah Satu ‘Negara’ di Timur Tengah

Organization