Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Dakwah Kampus Sebagai Titik Tolak Kebangkitan Islam di Indonesia

Dakwah Kampus Sebagai Titik Tolak Kebangkitan Islam di Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (modifikasi dari foto di: win4000.com)
Ilustrasi. (modifikasi dari foto di: win4000.com)

dakwatuna.com – Melihat kondisi dan suasana kampus yang semakin heterogen, dimana semakin maraknya mahasiswa yang hedonis, sekularis dan liberalis. membuat Aktivis Dakwah Kampus (ADK) risih dan berfikir keras bagaimana caranya dakwah Islam atau Syiar Islam bisa terinternalisasi dalam setiap diri Mahasiswa dalam kata lain bagaimana memenangkan dakwah Islam ini di Kampus serta ADK nya pun siap untuk mewujudkan itu semua.

Setelah memahami kondisi tersebut, Socius FPIPS UPI pada tanggal 16 November 2015 melaksanakan kajian berupa Beda buku “Menuju Kemenangan Dakwah Kampus” buku yang di tulis oleh Ahmad Atian, Seseorang yang telah menggeluti dunia Kampus dengan Aktivitas Dakwahnya, beliau merupakan Aktivis Dakwah Kampus dari Universitas Sriwijaya. dengan Pembedah bersama Risma Aditiana, S.Pd- seorang Aktivis Dakwah Kampus di UPI pada zamannya, yang juga pemerhati sejarah dan pergerakan Mahasiswa.

Kang Risma dalam mukhodimahnya menjelaskan tentang apa definisi dan tujuan dakwah kampus. Dakwah kampus adalah implementasi dakwah ilallah dalam lingkup perguruan tinggi, dimaksudkan untuk menyeru civitas academica kejalan Islam dalam memanfaatkan berbagai sarana formal/informal yang ada di dalam kampus. Dakwah Kampus (DK) bergerak di lingkungan masyarakat ilmiah yang mengedepankan intelektualitas dan profesionalitas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas Dakwah Kampus merupakan tiang dari dakwah secara keseluruhan, puncak aktivitasnya, serta medan yang paling banyak hasil dan pengaruhnya terhadap Masyarakat .

Adapun tujuan Dakwah Kampus adalah membentuk civitas academica yang bercirikan intelektualitas dan profesionalitas, memiliki komitmen yang kokoh terhadap Islam, dan mengoptimalkan kampus dalam upaya mencapai kebangkitan Islam. Itulah definisi dan tujuan Dakwah Kampus yang dikutip kang Risma dari buku yang sedang dibedah, yaitu buku Menuju Kemenangan Dakwah Kampus.

Kampus sebagai salah satu lembaga akademik merupakan salah satu lahan subur bagi perkembangan Dakwah Islam. Kampus memainkan peran Strategis dan signifikan yang dapat dimanfaatkan oleh Islam dan Dakwah Islam, karena sekali lagi kampus memainkan peran dalam menyuplai energi kritis dan pemikir strategis guna membangun masyarakat, bangsa dan negara. Penghuni kampus sebagian besar adalah kalangan muda potensial yang dapat memainkan peran-peran strategis di berbagai wilayah yang menjadi permasalahan umat ini.

Ketika berbagai peran strategis ini dapat dimanfaatkan oleh dakwah Islam, maka akan sangat banyak kebaikan yang akan diraih oleh Islam itu sendiri, di antaranya: suplai kader sebagai energi peradaban, suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam dan kemenangan Dakwah itu bukan menjadi hal yang mustahil, tetapi merupakan sebuah keniscayaan.

Untuk mewujudkan kemenangan Dakwah Kampus yang menjadi cita-cita mulia ADK, setidaknya ada 4 bentuk kekuatan jiwa yang pernah disampaikan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna, yaitu :

  1. Tekad membaja yang tidak akan pernah melemah
  2. Kesetiaan yang teguh, yang tidak disusupi oleh kemunafikan dan pengkhianatan
  3. Pengorbanan besar yang tidak terhalangi oleh katamakan dan kebakhilan.
  4. Mengenali, mengimani, dan menghargai prinsip yang dapat menghindarkan diri dari kesalahan,penyimpangan, sikap tawar-menawar dalam masalah prinsipil, dan tertipu dengan prinsip lain.

Imam Syahid pun pernah mengatakan bahwa “Sebuah pemikiran dan perjuangan dapat diwujudkan jika tersedia keyakinan kuat padanya, keikhlasan dalam berjuang dijalannya, gelora semangat yang terus bertambah, serta kesiapan beramal dan berkorban guna mewujudkannya”

Untuk menuju kemenangan dakwah kampus, unsur-unsur di atas harus senantiasa ada pada diri seorang Aktivis Dakwah Kampus sebagai seorang dai. karna pada hakikatnya “Nahnu du’at qobla kulli syaiin” (kita adalah dai sebelum menjadi apapun). Menjadi dai kampus berarti membawa tanggung jawab yang luar biasa, oleh karenanya mahasiswa sebagai agennya harus menjadi pembelajar yang baik dan pengajar yang sabar.

Ada sebuah sya’ir yang mungkin bisa mengingatkan kita mengenai hakikat seorang dai. sya’ir ini ditulis oleh Ustadz Sallim A. Fillah, yang berbunyi:

Menjadi dai adalah memperbaiki diri
Agar tak jadi mencibir, tapi menyabar
Agar tak jadi pencela, tapi penyapa

Menjadi dai adalah memperbaiki diri
Agar tak jadi penggunjing, tapi pendamping
Agar tak menambah putus asa, tapi membawa cahaya

Menjadi dai adalah memperbaiki diri
Agar prasangka tak mengalahkan akhlaq
Agar rasa benci tak mengalahkan sikap adil

Menjadi dai adalah memperbaiki diri
Agar berkebenaran tanpa merasa paling benar
Agar berilmu tanpa merasa paling tahu

Menjadi dai adalah memperbaiki diri
Agar lebih mudah dinasihati
Sebab telinga sendiri jauh lebih dekat
Daripada milik sesama yang bercakap.

Semoga kita semua ditakdirkan Allah menjadi Dai penyeru umat kejalan kebaikan dan pemaparan di atas bisa membuat kita semua termotivasi untuk memenangkan Dakwah Islam dalam Skup Kampus, dan semoga Dakwah Kampus di seluruh Indonesia semakin masif pergerakannya sehingga Dakwah Kampus ini menjadi titik tolak kebangkitan Islam di Indonesia serta menjadi tombak perubahan bagi peradaban dunia. Aamin.

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Saat ini sedang menempuh jenjang pendidikan S1 di Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Ilmu Pendidikan Agama Islam. Dalam kiprah organisasi, di bidang Pengembangan Sumber Daya Organisasi (PSDO) BEM HIMA IPAI, juga aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa (LDK UKDM). Diamanahi di Departemen Syiar di LDK UKDM. Selain menuntut ilmu di bangku kuliah formal, juga mengikuti pendidikan non formal di Sekolah Pemikiran Islam yang di prakarsai oleh komunitas Indonesia Tanpa Jil (ITJ).

Lihat Juga

Emir Qatar Gelar Kunjungan ke Negara-negara Asia, Termasuk Indonesia