Home / Berita / Nasional / Aksi Simpati Republika Terhadap Kabut Asap Jadi Trending Topic

Aksi Simpati Republika Terhadap Kabut Asap Jadi Trending Topic

Koran Republika
Koran Republika

dakwatuna.com – Jakarta. Kabut asap yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan semakin parah. Bahkan, NASA sudah merilis bahwa kabut asap kali ini merupakan yang terparah.

Berbagai respon diutarakan para Netizen di dunia maya untuk mengkritisi Pemerintah yang kurang terkesan kurang peduli terhadap warga yang terkena dampak kabut asap. Tidak hanya Netizen, Harian Republika pun menunjukan simpatiknya.

Di halaman 1 koran Republika, edisi 8 Oktober 2015, secara penuh ditutupi oleh kabut asap, sehingga hampir keseluruhan tulisan tidak dapat terbaca.

Penuli novel Islami Habiburrahman el Shirazy menulis pada akun Twitternya ketidakpedulian Pemerintah terhadap korban kabut asap. “Pesan scr grafis hlm depan Republika hari ini keren banget. Kalau pemerintah masih buta dan tuli kebangeten!,” tulisnya dengan akun @h_elshirazy.

Hal senada juga diutarakan politisi Golkar Meutya Hafid Ansyah dengan akun ‏@meutya_hafid. “Saat Tertutup Asap Semua Berita Menjadi Sulit Dibaca. Hari ini angkat topi, Republika,” ungkapnya.

Seperti yang dilansir dari Republika Online, Kamis (8/10), Wakil Pemimpin Redaksi Republika, Irfan Junaidi mengatakan, bedanya tampilan Republika sebagai bentuk simpati untuk para korban asap. “Kita ingin tunjukan sikap kita yang sangat kuat mendorong persoalan asap agar ditangani lebih serius,” katanya, Kamis (8/10).

Edisi hari ini, lanjutnya, Republika ingin juga memberi sedikit pengalaman kepada pembaca betapa sulitnya melihat berita di tengah kepungan asap. Juga betapa sulitnya melihat kehidupan di sekitar kita saat asap tak kunjung reda.

“Itu hanyalah sebagian kecil kesulitan yang dihadapi korban asap. Selain itu masih banyak kesulitan lain, yang bahkan sampai bisa berujung pada kematian,” ungkapnya. (abr/dakwatuna)

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Seorang suami dan ayah

Lihat Juga

Mahathir Muhammad Kritik Kebijakan Trump